AES#026 Kisah Dua Serigala
Murdeani
Thursday October 16 2025, 4:08 PM
AES#026 Kisah Dua Serigala

Apa kalian pernah dengar tentang kisah Dua Serigala? Ini kisah dari suku Cherokee, tentang seorang kakek yang bercerita pada cucunya bahwa di dalam diri setiap orang ada dua serigala yang sedang bertarung. Yang satu mewakili amarah, iri, kesombongan, takut, dan ego. Yang satu lagi mewakili cinta, kedamaian, kerendahan hati, pokoknya yang berkaitan dengan kebaikan. Si cucu kemudian bertanya, siapa di antara dua serigala itu yang akan menang? Jawab kakeknya, โ€œYang kau beri makan.โ€

Dulu waktu pertama kali mendengar kisah itu, aku sangat terinspirasi. Kisah itu menumbuhkan semangat untuk fokus pada memupuk hal-hal baik pada diriku, karena dari sanalah muncul harapan, keindahan, dan rasa aman. Ini sama sekali ngga salah. Namun kini, seiring bertumbuhnya pemaknaanku terhadap kehidupan, aku pun melihat sudut pandang lain terhadap kisah itu, yang melampaui pertarungan antara kedua serigala tersebut.

Dualitas memang jadi cara awal kita memahami dunia. Terang-gelap, baik-buruk, senang-sedih. Di SD pun kita belajar lawan kata kan? Tapi sebenarnya di balik itu ada lapisan yang lebih luas, tempat semua sisi itu berasal dari sumber yang sama. Jika kita berhenti melihat kedua serigala itu sebagai musuh, mereka bukan lagi jadi dua entitas yang bertarung, melainkan dua gerak dari satu kehidupan yang sama.

Bayangkan napas. Kalau kita cuma mau menarik napas, kita bisa tersedak. Kalau cuma mau menghembus, bisa-bisa kehabisan napas. Keduanya adalah siklus, satu tarian keseimbangan. Dan jika kita sadari napas, ada jeda alami antarnapas, ada kekosongan sesaat di situ yang sesungguhnya adalah ruang hening di mana napas itu terjadi. Dua gerak dari satu kesadaran yang sama.

Maka, bagiku kini bukan lagi soal serigala mana yang harus dimenangkan, melainkan bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan, menari dalam harmoni. Ketika salah satu menyalak, mungkin itu hanyalah sinyal agar kita kembali menoleh ke dalam diri: melihat sisi yang sedang meminta perhatian, rasa yang sedang menunggu untuk dipeluk.

--

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7934/aes027-menghidupi-kesadaran-sebagai-manusia

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7925/aes025-sadar-napas

Andy Sutioso
@kak-andy   6 months ago
Yess. Saya juga suka banget kisah ini. Keren banget menganalogikannya. โ˜๐Ÿผ๐Ÿค—