Awalnya esai ini kuberi judul Menjadi Manusia Berkesadaran. Judul ini rasanya kurang tepat juga. Memangnya ada manusia yang tidak berkesadaran? Seolah kesadaran adalah sesuatu yang perlu diusahakan, dicapai. Dari tulisan-tulisanku sebelumnya, mungkin sudah sering kujelaskan bahwa kesadaraan adalah sesuatu yang ever-present, kita hanya perlu mengingatnya. Kesadaran itu gak ada tombol on/off-nya. Yang ada, kita sadar atau enggak bahwa kita sedang sadar. Anggaplah ini definisi dari berkesadaran ya.
Dalam sesi Ngobras#1 tanggal 15 Oktober lalu, kami berbincang tentang kesadaran dan bagaimana ia hadir dalam pengasuhan dan pendidikan. Beberapa orang tua yang hadir merasakan gema yang sama, ada kerinduan yang memanggil kami. Sejak awal, aku menyambut baik guliran ini karena memang menurutku kesadaran adalah pondasi, akar, fundamental dari kehidupan kita. Dan ini bukan hanya soal pengetahuan tentang kesadaran/spiritualitas, karena sebaik apapun konsep ini dijelaskan, tetap hanya akan berhenti di kata-kata jika belum diinternalisasi melalui pengalaman aktual.
Pengetahuan tentang kesadaran ibarat peta sebuah hutan, ia hanya akan menunjukkan arah. Tetapi desir angin, basahnya jejak tanah yang dipijak, aroma pepohonan, dan dinginnya udara hutan hanya akan bisa kita alami ketika kita menempuh perjalanan itu. Maka dari itu, harapanku forum orang tua ini tidak berhenti di pembahasan dan tukar pikiran, tapi juga saling mendukung dalam menempuh perjalanan batin. Meskipun konteksnya adalah pengasuhan dan pendidikan berkesadaran, tapi sesungguhnya karena kesadaran adalah pondasi, ia akan menghidupi juga semua sisi kehidupan kita.
Orang tua yang berkesadaran akan membawa ruang kesadaran tersebut di kesehariannya: di pekerjaannya, di rumah tangganya, di masyarakat dll. Medan frekuensinya akan membuka kemungkinan bagi mereka yang siap atau peka untuk ikut beresonansi. Karena ketika seseorang hadir dari ruang kesadaran, kesadaran yang sama dalam diri orang lain merespons, karena ia mengenali dirinya sendiri dalam keheningan itu. Dan itu bukan sesuatu yang kita lakukan, tapi bergulir secara alami. Mungkin di sanalah segalanya bermula, dari kesadaran tunggal yang mengenali dirinya sendiri melalui kita semua. Inilah tarian semesta.❤️
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7942/aes028
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7932/aes026-kisah-dua-serigala
Din, tulisan kamu bagus2! Ikut senang, sejak tulisan pertama waktu itu, skr udah 20+. Kereeen... 👍🏽👍🏽