AES 594 Dark World
joefelus
Saturday January 7 2023, 12:00 AM
AES 594 Dark World

Bau kaporit. Saya tidak peduli. Memang biasanya begitu. Saya terus mengayuhkan tangan saya bergantian kanan dan kiri. Sesudah empat kayuhan kepala saya miringkan karena dada mulai membutuhkan oksigen, saya membuka mulut dan menarik napas dalam kemudian kembali membalikan wajah saya ke posisi semula di dalam air, udara saya hembuskan melalui hidung, tangan tidak berhenti mengayuh bergantian, sementara kaki saya terus bergerak membantu tubuh ini melaju seirama dengan kayuhan dan gerakkan kepala ketika menelungkup menghembuskan napas atau ketika dimiringkan ke kanan untuk menghirup udara. Pikiran dan perasaan saya terus melayang-layang antara berusaha mencari jawaban dan perasaan marah, sedih, sakit, jijik dan penuh penyangkalan berusaha menolak keadaan yang ada. Semakin memuncak perasaan dan pikiran yang saling membelit kusut, semakin gencar kayuhan saya. Badan mulai terasa sakit, dada kadang merasa sesak. Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang sahabat saya telah alami hingga akhir hayatnya!

Berita yang saya terima semakin gelap, semakin hitam, semakin menyeramkan, semakin membuat saya begitu sedih dan sekaligus marah. Perasaan seperti ini sudah muncul sejak semalam, hingga sekarang masih terasa bahkan semakin kuat, membuat dada saya begitu sakit dan sulit bernapas. Saya ingin berteriak memaki, saya ingin menggugat semesta mengapa hal semacam ini benar-benar dibiarkan terjadi. Mengapa sesuatu yang indah kemudian dirusak secara bertubi-tubi hingga akhirnya musnah. Mengapa? Apa tujuannya? No! This is not a circle of life! This is a dark and evil energy that ruin the beauty of life! Mengapa kebiadaban itu ada? Sebuah penyeimbang kemanusiaan? Penyeimbang kebaikan? Saya tidak bisa menerima begitu saja. Saya bisa menerima keburukan, saya bisa menerima kesalahan, tapi saya menolak kebiadaban!

Saya terus mengayuh, menghembuskan napas sekeras-kerasnya ketika berada dalam air sehingga dada saya menghiba-hiba memohon oksigen, lalu saya miringkan kepala dan menarik napas sekuat-kuatnya. Akhirnya setelah puluhan laps saya kelelahan. Tapi pikiran dan perasaan tidak semakin baik. Saya keluar dari kolam lalu duduk di kolam kecil air panas duduk sambil melamun menikmati pijatan air yang keluar dari beberapa lubang yang sengaja didesain begitu untuk memijat. Tubuh saya mulai merasa rileks dan nyaman, tapi saya semakin sedih. Saya hanya sendirian di hot tub itu dilanda kesedihan yang terus memuncak. Berlinangan air mata!

Pulang dari kolam Nina dan saya memutuskan untuk duduk di kedai kopi di toko buku langganan kami. Saya perlu melakukan sesuatu untuk mengurangi kepenatan perasaan dan pikiran yang melanda sejak kemarin malam. Berita yang menyedihkan dan sekaligus menyeramkan itu bukan hal mudah saya cerna. Kemarahan dan keinginan menggugat begitu kuat. Duduk di kedai kopi sambil menikmati kopi panas dan caprese sandwich tidak membantu. Akhirnya saya berjalan berkeliling melihat-lihat buku-buku yang berjejer rapih dan juga ratusan yang ditumpuk di atas meja di tengah lorong. Ada sebuah novel tipis karangan seorang pujangga dari Iran, Sadeq Hedayat, berjudul Blind Owl. Karena sampulnya menarik, saya buka-buka dan saya baca kata pengantarnya yang ditulis oleh orang lain:

"On April 9, 1951, Parisian police were called to a small flat on 37 Rue de Championnet. There they found the dead body of a forty-eight-year-old Iranian writer identified as Sadeq Hedayat, who apparently committed sui...."

Buku itu langsung saya lempar kembali ke meja. Saya tinggalkan sambil dalam hati mengeluh. Ah saya seperti sebuah magnet yang menarik semua hal-hal negatif di sekeliling. Bahkan memilih buku pun diawali dengan sebuah hal yang tragis.

Saya memutuskan untuk pergi misa. Mungkin saya dapat memperoleh jawaban atau setidak-tidaknya saya bisa mengeluarkan semua keluhan dan kegerahan yang saya rasakan, atau mungkin saya juga bisa protes bahwa semesta membiarkan ini terjadi. Yang jelas, semua penderitaannya sudah usai walau dia tidak beruntung dalam kehidupan ini. Dunia memang di satu sisi penuh dengan kegelapan, penuh dengan sisi-sisi yang buruk, ketidak beruntungan, tragedi dan bencana. Sangat di sayangkan bahwa sahabat saya ini berada di sisi itu. I wish it had been different. Requiescat in pace, now you can have fun with your daughter***

Foto credit: unsplash.com

You May Also Like