Beberapa hari lalu kami membereskan gudang yang sudah penuh dengan dus-dus berisi kemasan bekas yang sudah kami cuci dan keringkan. Keterbatasan ruangan di rumah tidak memungkinkan untuk menjejerkan dus-dus itu, jadi setelah dicuci bersih dan dijemur biasanya kemasan bekas kami masukkan dalam dus-dus yang kami tumpuk di gudang. Nanti setelah cukup banyak dan akan dibawa (atau diambil) ke bank sampah, baru kami keluarkan dan kelompokkan isinya berdasarkan jenisnya.
Saat pengelompokan itu, baru terlihat betapa banyak kemasan mika, multi-layer, dan styrofoam. Masalahnya, hampir tidak ada bank sampah yang menerima ketiga jenis kemasan ini. Untuk multi-layer, bank sampah yang biasa mengambil ke rumah kami masih mau menerimanya meskipun dalam bentuk donasi (bukan tabungan). Mereka bisa juga mengangkut kemasan mika dan styrofoam dalam program HWM (Household Waste Management), tapi tetap saja kedua jenis sampah ini akan mereka buang ke TPA.
Sambil membereskan kemasan-kemasan itu sering terbersit pikiran, mengapa para penjual masih memakai jenis kemasan yang belum bisa diolah. Meski kami berusaha menghindarinya sebisa mungkin, tetap saja kami tak kuasa menolak saat barang datang dalam kemasan tersebut. Kebanyakan mika dan styrofoam itu dipakai untuk membungkus buah dan sayuran dalam bentuk tray, jaring pelindung buah, atau wadah semi-keras untuk melindungi buah dan sayuran yang lunak. Sering kami meminta penjual agar tidak memakai wadah mika, yang biasanya ditolak dengan alasan buah (misalnya stroberi) akan rusak jika tidak memakai mika. Seolah berlomba dengan buah impor di supermarket yang dibungkus jaring styrofoam, buah-buah lokal seperti pepaya dan mangga juga sering dibungkus seperti itu. ☹️
Belum lagi saat hari raya tiba. Banyak bingkisan makanan kami terima dalam wadah cantik berbahan mika. Duh... Sedih rasanya memikirkan wadah secantik itu akan berakhir di tempat sampah dalam sekejap.
Dan yang paling menyebalkan adalah saat membeli makanan via ojol, meskipun kami sudah jelas-jelas memberi catatan 'no cutlery', 'tidak perlu sambal sachet', dan sebagainya; tetap saja makanan yang kami pesan tiba bersama sumpit, sambal, dan sendok plastik. Ini juga terjadi saat berbelanja online, semua catatan seolah tidak dibaca oleh penjual. Memang sih paketnya memakai dus, tetapi dalamnya diisi dengan lembaran tebal bubble-wrap meskipun bukan barang pecah-belah, ditambah berlapis-lapis lakban pada bagian luar dus.
Lalu, ini semua tanggung jawab siapa?
Rumit ya... di tempat kerja saya sejak bertahun-tahun lalu menggunakan wadah yang compostable, cutlery menggunakan bahan dari tebu dan starch jagung. Masalahnya biayanya sangat mahal berlipat ganda dari bahan biasa yang bukan compostable, untuk bisnis biasa ini sama sekali tidak menguntungkan. Saya pikir itu sebabnya wadah-wadah masih menggunakan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.
Iya betul, faktor utama krn murah. Kedua, kurangnya edukasi. Tapi di Amrik byk recycle bin kan, Oom Jo? Yg bener-bener diolah, bukan pake sticker doang. :D
Iya, di mana-mana ada recycle bins, tapi masyarakat di sini juga masih butuh edukasi, banyak yang belum sadar dan mencampur sampah, akhirnya seluruh recycle bin harus dibuang karena tidak bisa dipilah sesudah tercampur. Terlalu mahal untuk memperkerjakan orang sebagai pemilah. Jadi tetap faktor biaya jadi kendala
Hmm ya ya, trnyt sama ya sama di sini. Tempat sampah di pinggir jalan udh dinamain, tetap aja yg buang sampah suka2. Mau ngga mau mmg pilah sampah masing2, tp utk pengolahannya butuh perusahaan besar utk recycle yg biayanya gak murah & ngga sebanding sama hasilnya.