Secara umum, "refleksif" relates more to involuntary actions or behaviors, while "reflektif" relates to thoughtful or introspective thinking.
Yang mengerikan, kalau secara reflekS menyela dengan permintaan refleksi. Ini seperti meminta makna sebelum aktivitas selesai, bahkan sebelum kegiatan dimulai saja sudah bertanya maknanya apa. Ngerinya adalah yang ditanya gak ngerti sehingga yang bertanya semakin gak ngerti, lalu lebih mencecar sampai yang ditanya kehilangan pengertian. Kemudian yang bertanya menghakimi ketidak-mengertian yang ditanya.
Salah satu refleksi yang kelihatan dari fenomena barusan yaitu hambatan terbesar dari pertanyaan adalah pada yang bertanya, bukan pada yang ditanya. Karena tidak pernah ada jawaban yang salah, hanya ada pertanyaan yang bodoh. Eits! hati-hati juga dengan pernyataan ini. Kalau dengan reflekSif langsung menilai pertanyaan itu bodoh, seketika itu juga terjebak dalam fenomena tersebut di paragraf sebelumnya.
Ada beberapa indikator yang membedakan karakter reflekSif dengan reflektif, salah satunya dari perilaku menyela atau nimbrung. Perilaku nimbrung, menyela, memotong, menambah-nambah, dan sejenisnya kemungkinan besar adalah hasil dari karakter reflekSif. Perilaku mendengar, menunggu, men-sintesis (bukan sekadar tesis-antitesis), dan sejenisnya kemungkinan besar adalah hasil dari karakter reflektif.
Melampaui itu semua, ada fase dimana reflekSif reflektif itu justru bentuk kebijak-sana-sini-an. Kalau secara refleks, reflektif. Dengan kata lain, tindakan reflekSif-nya adalah bersikap reflekTif secara simultan dan aktual. Sehingga tampak sikap dan perilaku yang selalu pas dan selaras situasi. Sikapnya meneduhkan suasana dan perilakunya mencerahkan pikiran, orang lain di sekitar dan terutama dirinya sendiri.
Kelihatan koq, dari gestur dan intonasi. Coba, mari bersikap reflektif atas tindakan reflekSif kita saat berhadapan dengan realita. Segusar apa intonasi kita dan segelisah apa gestur kita.
Uh, huiy..!