AES 1322 Ikut Mengalir
joefelus
Friday February 7 2025, 8:45 AM
AES 1322 Ikut Mengalir

Kurang dari 10 tahun yang lalu, saya masih menggunakan Blackberry. Saya waktu itu tidak suka android atau iphone karena saya tidak merasakan tactile sensory processing, waktu itu walau bentuk keyboard di HP jauh lebih kecil dari yang sekarang, saya jarang sekali melakukan kesalahan spelling. Tidak lama kemudian Blackberry menghilang dari peredaran, bangkrut. Saya sedih karena flip phone kesayangan akhirnya harus dipesiunkan. Pertama karena kecepatannya sangat rendah dibandingkan dengan HP model baru, kedua layarnya super kecil. Saya semakin tua jadi butuh tampilan yang lebih besar hahaha...

Pernah dengar Nokia? Atau Kodak, Minolta, Hoya? Mereka juga semakin tidak terdengar atau bahkan menghilang. Kenapa begitu? Karena akselerasi dan inovasi mereka sangat lambat atau malah tidak ada sama sekali. Ini semacam hukum rimba, mereka yang cepat dan taktis akan selamat, sementara yang lamban akan menghilang.

Jaman sekarang memang aneh. RbnB, itu bisnisnya penginapan tapi mereka sama sekali tidak memiliki bangunan. Uber, Grab, gocar atau gojek, apakah teman-teman tahu bahwa perusahaan angkutan ini sakti mandraguna, mereka bisa berbinis tapi sama sekali tidak memiliki kendaraan angkutan!

Saya bisa hidup tanpa harus keluar rumah. Makanan dan minuman terjamin. Saya cukup menggunakan HP untuk memesan dari cabe, air hingga lemari! Berapa persen isi rumah saya dibeli tanpa harus pergi ke toko? Lebih dari 50%. Saya membeli lampu, saklar, rak handuk dan banyak kebutuhan rumah tangga lain melalui belanja daring. Jadi jika ada kemacetan lalu lintas di Bandung, saya tidak bertanggung jawab sebab saya tidak ambil bagian dalam menyumbang kemacetan!

Statistik menyebutkan bahwa jika belanja online meningkat 10%, maka tingkat kemacetan berkurang 1,3%! Nah, saya akhirnya tidak heran bahwa kemacetan dari daerah timur menuju kota di pagi hari hampir mirip dengan 8 tahun lalu. Tadinya saya pikir sebelum kebali ke Bandung, saya harus keluar rumah 1 jam lebih awal lagi. Dulu saya berangkat pukul 5:30 ke Smipa. Membayangkan kemacetan, saya pikir harus berangkat 4:30. Ternyata tidak. Tetap pukul 5:30 saya masih bisa ke tujuan dalam kurun waktu 30 menit. Sama seperti dulu, hanya beda sekarang banyak angkutan online! Jumlah sepeda motor meningkat sementara kelihatan kendaraan roda 4 tidak berubah. Tapi ini hanya pandangan mata, angka statistik detailnya saya tidak tahu.

Apa yang akan terjadi 10 tahun lagi? Membayangkan ini saya mulai bertanya-tanya. Sulit ditebak karena perbedaan 10 tahun yang lalu dengan sekarang sudah sangat luar biasa. Toko-toko besar sudah banyak yang menghilang. Toko Ritel Matahari dahulu ada hampir di semua mall, sekarang saya tidak tahu ada di mana, mungkin masih ada satu atau 2, Kalau di Amerika saya bisa menyebutkan seperti JC Penney sudah hilang di kota saya, demikian juga Macy's. Mall sepi, factory outlet tidak didatangi pengunjung. Kalaupun mereka datang biasanya tidak membeli (seperti saya), mencoba sepatu begitu suka dan tahu ukuran yang tepat saya kembalikan ke rak dan pulang lalu pesan online karena harganya bisa 15% lebih murah tanpa ongkos kirim, plus saya dapat bonus cash back dari perusahaan kartu kredit yang saya gunakan. Cashbacknya sesudah saya kumpulkan bisa saya belikan selusin jeans bermerk dengan hanya 25 sen per potong. saya pernah cerita di blog saya ketika membeli celana panjang 6 potong hanya dengan uang 30 ribu rupiah karena saya menggunakan program cashback. Saya tidak perlu lagi membeli pakaian selamanya, karena saya punya banyak. Yang penting saya jaga berat badan, membengkak berarti bahaya sebab artinya pakaian tidak muat lagi, sementara jika semakin kurus nanti kedodoran!

Intinya kita harus mengikuti perubahan. Saya kesulitan membayar non tunai karena sampai sekarang tidak punya rekening Bank. Nah ini harus ditanggulangi. Tukang batagor saja pake Qris, saya yakin beberapa tahun ke depan jika saya keukeuh tidak mau membuka rekening, saya akan kelaparan! Jadi saya harus ikut mengalir dengan perkembangan di masyarakat.

Foto credit: quietwaterspaddling.com