AES566 Awi Hideung Abah Tata
Andy Sutioso
Friday September 15 2023, 12:52 PM
AES566 Awi Hideung Abah Tata

Dalam perjalanan kembali ke PPM - seusai mengunjungi bagian aliran sungai Cikahuripan yang lebih dekat ke hulu. Sebelumnya di aliran yang sama kami mengunjungi Hulu Wotan Cikahuripan yang jadi titik awal saluran Irigasi bagi warga Cisondari. Catatan perjalanannya ada di sini, di tulisan saya yang judulnya Tak Kenal maka Tak Sayang.

Perjalanan turun memang lebih cepat. Rombongan terpisah menjadi beberapa kelompok. Saya di rombongan terakhir menemani kak MJ, Jiwa dan Amel. Sampai di jalan kebun utama kelompok kami bertemu kembali. Di persimpangan yang melewati saung di sana. Setelah semua kumpul, rombongan kembali bergerak, saya pamitan kepada bapak-bapak di sana.

Segera langkah saya tertahan oleh sesuatu yang menarik perhatian. Sambil berhenti, saya menyapa lagi kepada bapak tadi, "Pa, punten eta teh awi hideung? Leres nya?" Si Bapak menjawab saya "Sumuhun ieu awi tos langka". Saya tidak jadi berangkat malah jadinya tertahan oleh kepenasaranan saya. "Wah kenging ti mana pa? Pan ieu awi tos tara ningal di mana-mana tos langka, abdi ge kapungkur pisan ningal awi hideung mah" Bapak tadi menjawab lagi, "Nya eta bapa teh jengkel, basa iraha meser maenya hargana awis pisan, sabatangna" Beliau melanjutkan. "Ngan abdi mah pami jengkel janten melak we sorangan. Ayeuna aya meureun opat lima dapur mah". Dapur dalam bahasa Indonesia artinya rumpun. 

Di banyak tempat yang masih banyak ditemukan adalah bambu yang kulitnya hijau - yang disebut orang Sunda sebagai Awi Bitung. Bambu hitam lebih sulit ditemukan. Harga benihnya juga lebih mahal. Saya senang melihat bambu hitam karena kesannya keren. 

Beliau sedang membuat dipan bambu. Fotonya ada di bawah, tapi karena matahari cukup terik, warna hitamnya bambu tidak terlalu tampak. 

Abah Tata dan bambu hitam yang sedang diolahnya menjadi perabotan.

20230909_115515_resize_75.jpg

Akhirnya saya jadi berkenalan dengan bapak ini dan meminta nomor hape beliau. Nama beliau abah Tata. Karena saya tampak sangat berminat, beliau membuatkan saya sebuah gelas dari bambu hitam. Saya ingin menggantinya dengan sejumlah uang, tapi beliau menolaknya. Sepertinya beliau juga senang diajak berbincang. Tidak lama pa Anwar menghubungi saya di hape - sepertinya saya tertinggal cukup jauh. Saya segera berpamitan kepada abah Tata dan berlari mengejar ketinggalan saya. Beruntung permukaan jalan yang ditempuh adalah tanah. Tidak lama saya menjumpai pa Anwar dan melanjutkan perjalanan. Hatur nuhun abah Tata, sampai jumpa.