Ini catatan saya dari pengalaman hiking bersama Klab Jelajah Bandung, tepatnya hari Sabtu 5 Februari lalu. Sehari sebelumnya, baru saja menggelar Rampak Gerak Semi Palar di Pendopo. Mestinya kakak-kakak dan teman-teman yang tampil cukup lelah, tapi ternyata beberapa di antaranya sudah siap lagi untuk menjejakkan langkahnya menuju ke tepian Kawah Upas di Gunung Tangkuban Perahu.
Jelajah Bandung ini memang dadakan... Memang kalo terlalu panjang direncanakan malah ujungnya ga jadi-jadi. Jadilah akhirnya, hasil kolaborasi kak MJ dan Irfan, kami berkumpul di Trek 11 Sukawana untuk hiking bersama. Di luar dugaan peserta cukup banyak - dengan peserta termuda, Taka, juniornya kak MJ dan kak Kweecheng. Jumlah persisnya ga ingat, tapi peserta kali ini cukup bervariasi. Jadi seru sekali. Lagi pula sudah lama sekali Jelajah Bandung vakum karena pandemi.
Perjalanan cukup panjang juga sampai kita tiba di Kawah Upas. Eh, koreksi, titik penting dalam perjalanan kemaren adalah warung tempat kita melepaskan lelah, lapar dan dahaga. Sampai lupa saya menanyakan nama pemilik warungnya. Dari warung menuju ke Kawah Upas hanya kira-kira sejauh 300 meteran. Tapi sepanjang perjalanan, warung inilah yang menjadi motivator utama bagi kita sampai ke tujuan. Boleh dibilang warung itu jadi tujuan utamanya, pemandangan dan suasana di tepi kawah jadi bonusnya.
Tapi perjalanan kemarin sungguh menyegarkan batin-walaupun pada saat yang sama melelahkan juga. Suasana yang hening, udara yang segar, pemandangan yang serba hijau dan panorama yang terbuka luas memang jadi penyejuk batin yang luar biasa.
Berada di alam memang kebutuhan manusia yang makin ke sini makin kurang disadari karena manusia terus hidup di dalam ruangan. Manusia pada hakikatnya adalah bagian dari alam. Kalau manusia menyadari sepenuhnya bahwa sistem bernafasnya sebagian ada di pohon-pohon yang ada di sekitarnya, manusia tentunya akan berpikir berulang kali sebelum menebang pohon. Masalahnya dulu kita belajar sistem pernafasan berhenti di tubuh manusia - pohon dan tetumbuhan dibahas terlepas - terpisah dari pelajaran saat itu. Kembali lagi kesadaran adalah kata kuncinya.
Perjalanan kemarin yang dilakukan bersama-sama jadi pemercik kebahagiaan tersendiri. Lelah jadi tidak terlalu terasa saat kita berbincang dan bercanda. Di situlah kekuatan kebersamaan. Bagi kita yang hidup di kota, pergi ke alam jadi kemewahan tersendiri. Seharian tanpa bergawai juga jadi keistimewaan buat kita semua di hari itu. Semoga kita bisa segera melakukannya lagi.