Perpisahan, salah satu hal yang tidak aku sukai adalah perpisahan. Perpisahannya pun bukan hanya berpisah dengan seseorang. Bisa juga berpisah dengan perasaan senang menjadi sedih. Beberapa perpisahan bisa disatukan kembali, namun ada juga perpisahan yang tidak bisa. Seperti perpisahan dengan seseorang yang pada akhirnya kita tidak bisa bertemu lagi. Menurutku itu perpisahan yang terberat. Kata-kata “Gapapa sedih tapi jangan lama-lama” hanya membantu beberapa perpisahan saja. Dengan berbagai cara pun aku tidak bisa lari dari perpisahan
Perpisahan berat yang terakhir aku alami adalah ketika kepergian Charles. Rasanya sangat sulit untuk menghadapi perpisahan itu. Karena kami tidak bisa bertemu lagi dengannya. Terkadang aku pun masih merasa berat untuk menghadapi perpisahan yang pada akhirnya bisa bertemu kembali. Apalagi yang tidak bisa bertemu kembali, rasanya sangat tidak enak jika aku tidak bisa menghadapinya.
Namun Senin kemarin, aku kembali berhadapan dengan perpisahan yang berat. Kucing di rumah nenekku menyelesaikan misinya sama seperti Charles. Memang kucing itu tidak setiap hari bersamaku seperti kucing-kucing lain. Dia pun baru satu tahun bersama, tidak seperti kucing-kucingku yang lain. Tapi karena sering ke rumah nenekku, aku jadi mengenalnya.
Awal mula kucing ini tinggal sebenarnya karena aku dan adikku. Setahun yang lalu, tiba-tiba ada anak kucing di depan rumah nenekku. Dia masih kecil dan tampak gendut, kelakuannya pun lucu dan ceria. Karena lucu dan kami pun suka kucing, kami berdua memutuskan untuk membawanya masuk dan bermain bersamanya. Tapi ternyata dia agak galak juga, bukan galak sih tapi suka menggigit dan mencakar. Walaupun begitu, mukanya yang lucu membuat kami tidak masalah dengan kelakuannya, karena dia tidak selalu seperti itu.
Lanjut dari cerita sebelumnya, si anak kucing yang ada di rumah nenekku. Suatu hari, kami mengajaknya berjemur di depan rumah. Pada saat itulah kami baru tahu ternyata kucing ini dibawa oleh seorang anak kecil yang merupakan tetangga kami. Karena tahu itu miliknya, kami tidak masalah kucing itu diambil lagi.
Tapi setiap kali diambil, kucing itu selalu kembali ke rumah. Hingga akhirnya si anak kecil itu juga mulai lupa dan kami ambillah kucing itu. Kami berkali-kali mengganti namanya, karena kebingungan. Pernah pada saat kami belum menentukan namanya, dia memiliki tiga nama dan kami memanggilnya semau kami saja. Jika dipikir-pikir, kasian juga dia bingung, siapa sih sebenernya namaku. Akhirnya, kami memutuskan untuk memberi nama Mastur pada kucing kecil ini.
Lanjut ke cerita selanjutnya