Pagi ini kabut sangat tebal, sejak semalam hujan tanpa henti dan suhu turun dengan lumayan tajam. Matahari seharusnya sudah timbul tapi sama sekali tidak terlihat walau kegelapan sudah lama lewat. Saya mengemudi untuk mengantar Nina yang harus bekerja, sementara saya akan menikmati 3 hari akhir pekan karena hari Senin depan adalah hari libur.
Jalanan sepi dan kabut tebal memang menjadikan pemandangan sangat menarik. Saya membutuhkan ini karena memang akhir-akhir ini sedang dilanda banyak hal yang membingungkan. Setelah mengantar Nina saya sengaja naik menuju reservoir, bendungan di sebelah Barat kota. Saya bayangkan dalam kondisi berkabut, bendungan itu akan sangat indah dan bisa menjadi penyemangat saya untuk menjalani hari ini.
Hampir tidak ada kendaraan yang lalu lalang, hari masih terlalu pagi dan juga karena akhir pekan, kebanyakan orang-orang memilih tinggal di dalam rumah apalagi di luar kabut sangat tebal. Ini sangat menyenangkan bagi saya karena bisa dengan leluasa mengendarai mobil saya perlahan-lahan tanpa khawatir mengahalangi orang.
Bendungan tidak terlalu jauh, dengan kondisi jalanan yang sepi hanya membutuhkan 15 menit ke atas. Dari atas saya biasanya bisa memandang kota, tapi pagi ini hanya liputan kabut tebal yang terlihat. Air bendungan juga melimpah karena sudah beberapa minggu ini hujan hampir setiap hari. Permukaan air tertutup kabut, seperti uap atau asap yang mengapung dari permukaan. Jalanan lembab dan basah, di sana sini banyak genangan air. Dingin dan basah, mengingatkan saya pada daerah di sekitar Pacific North West, di Seattle dan sekitarnya. Kalau pernah nonton film Twilight Saga, nah bisa bayangkan suasananya, mirip-mirip seperti itu. Saya berhenti sebentar memandangi bendungan yang sangat luas seperti danau. Enak sekali untuk merenung pagi-pagi.
Suasana hati saya memang seperti pagi ini, berkabut dan membingungkan. Beberapa hari terakhir saya menulis tentang tujuan hidup, keistimewaan, kesempurnaan, dan beberapa hal lagi. Itu menjadi topik utama saya akhir-akhir ini yang serba membingungkan. Saya seolah-olah kehilangan sesuatu, entah tujuan hidup, entah fokus dalam menjalani keseharian, entah lah. Kadang saya ingin melanggar apa yang saya yakini yang juga sudah saya tulis yaitu menjadi orang lain.
Maksudnya apa? saat ini saya sedang iri pada orang-orang lain yang memiliki misi, tujuan dan keinginan dalam hidup. Menjadi pendidik misalnya, sepertinya seluruh hidupnya bisa dicurahkan, difokuskan pada satu hal yang terus menerus berusaha ditumbuhkan dan dikembangkan. Atau pelukis, penyanyi, dan banyak lainnya. Saat ini saya tidak tahu!
Kemarin saya bilang bahwa tujuan hidup itu tidak harus yang muluk-muluk. Itu niat saya. Kemarin juga saya bilang bahwa bicara atau menulis yang dipikirkan itu mudah, tapi menjalaninya sulit. Hahaha.. ini namanya senjata makan tuan! Omongan yang saya utarakan menikam diri sendiri karena itu memang benar adanya dan semua yang saya tulis itu akhirnya memang tertuju pada diri sendiri.
Menjalani keseharian itu mudah. Bangun pagi, mengerjakan tugas yang memang harus dilakukan, pergi bekerja, olahraga, pulang, istirahat, dan selesai. Begitu setiap harinya. Lama-kelamaan kehilangan sesuatu yang besar karena hidup menjadi seperti auto pilot, menjadi otomatis, seperti robot. Lalu untuk apa? Sama seperti bernapas karena tidak disadari, ya begitu saja. Otomatis. Ketika kita dipaksa untuk menyadari pernapasan ketika bermeditasi, baru kita tahu bahwa kita bernapas, baru kita melihat sulitnya menyadari sesuatu yang sudah menjadi auto pilot. Begitu bukan? Atau memang saya terlalu banyak mikir?
Saya yakin banyak sekali orang yang hidup seperti saya. Bayangkan ketika kita mengemudi ke kantor atau pulang ke rumah dari kantor, apakah kita selalu mengingat perjalanan kita secara detail? Tidak selalu bukan? Otak kita memang telah mengembangkan semacam pengambil keputusan dibawah sadar sehingga banyak kegiatan rutin kita dijalankan begitu saja tanpa banyak berpikir. Kita bisa membuat kopi bisa sambil melamun bukan? Tanpa sadar mengisi air ke teko, merebusnya sementara menaruh bubuk kopi ke dalam gelas, dan sambil menunggu air mendidih kita bisa mengeluarkan roti dari kantong, memberi mentega atau selai. Semuanya berlangsung sambil otak kita memikirkan hal lain, soal pekerjaan, soal jadwal, soal rekenening yang harus dibayar, dan hal-hal lain. Lalu kita tersentak dan tersadar dari segala bentuk lamunan atau pikiran ketika peluit teko berbunyi nyaring karena air sudah mendidih lalu kita mulai menuangkan air panas ke gelas. Semua berlangsung secara otomatis dan pada saat yang sama beberapa kegiatan serta pikiran dapat berlangsung bersamaan. Demikian juga dalam hidup! Akhir-akhir ini saya terjaga karena peluit auto pilot saya berbunyi dan tersadarkan bahwa saya saat ini berada di suatu tempat dan bingung hendak kemana. (Bersambung)
Foto: Horsetooth Reservoir, Fort Collins. 17 Juni, 2023