AES245 membedah makna Ilmu
Andy Sutioso
Sunday January 16 2022, 2:12 PM
AES245 membedah makna Ilmu

Tulisan ini hasil obrolan saya dengan kak Lyn. Kebetulan kak Lyn sedang menyiapkan materi untuk olahan Rumpi Sada di minggu depan. Dalam salah satu salindianya ada tertulis kata ilmu. Sewaktu kak Lyn minta pendapat saya, saya jadi terpikirkan tentang apa yang dikatakan Aki Muhidin. Untuk membahas tentang ini kita perlu menambahkan satu kata lagi: pengetahuan. 

Kalau menelaah kata-kata Aki Muhidin, semestinya kita bisa menyimpulkan bahwa kita tahu sesuatu belum berarti kita paham, bisa, tuman dan ngajadi. Menurut pemahaman saya orang yang berilmu itu adalah orang yang bukan sekedar tahu (nyaho, knowing) tapi sudah ngajadi (being). Ngajadi bisa diartikan juga sebagai menghayati - bahwa pengetahuan itu sudah meng-hayat (hayat=badan). Jadi boleh dikata individu itu sudah membadani apa yang diketahuinya. Dalam bahasa Sunda, istilahnya mungkin sudah ngahiji, sudah menyatu, melebur. Inilah yang boleh disebut sebagai orang-orang yang berilmu.  

Di jaman sekarang ini, apa lagi dengan akses informasi yang begitu mudah, begitu banyak juga orang-orang yang merasa berilmu. Seakan-akan paham segala sesuatu, bisa cerita segala rupa. Selain banyak tahu, yang penting pede aja. Makanya dia bisa mengkritik kiri kanan atas bawah semaunya. Tapi kalau didalami, bisa jadi dia tidak tahu apa-apa. 

Dalam konteks pendidikan holistik, ada lapisan yang lebih sulit dicapai yaitu pengenalan diri. Karena untuk mengenal diri, kita perlu menelaah betul-betul sisi dalam diri kita. Ini bukan perkara mudah. Secara inderawi, mata manusia orientasinya ke luar. Indera penglihatan kita sangat kuat karena pertama-tama dibutuhkan untuk pertahanan diri (survival). Semua indera manusia memang orientasinya keluar. Untuk memahami apa yang ada di lingkungan sekitarnya, kita punya perangkatnya. Ini juga yang mengakibatkan sulit sekali bagi manusia untuk menyimbangkan pengenalan sisi dalam dan sisi luar hidupnya.

Sebaliknya secara spesifik kita tidak punya anggota / organ tubuh untuk melihat ke dalam diri... Ini jadi tantangan besar bagi manusia karena menyeimbangkan pengenalan sisi dalam dan sisi luar dirinya perlu pendekatan tersendiri juga. Kita juga perlu belajar tentang ini. Sejauh pemahaman saya sampai di titik ini, satu-satunya cara adalah melalui waktu hening. Hal lain yang juga sangat membantu adalah proses-proses reflektif yang perlu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Sampai jumpa di esai berikutnya. 

Photo by Wallace Chuck from Pexels