AES99 Suaka Paling Nyaman
wulan bubuy
Monday November 10 2025, 8:00 AM
AES99 Suaka Paling Nyaman

Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku lakukan mengikuti pola hidup anakku, yang otomatis ngaruh banget sama kegiatan apa yang aku pilih. Tapi ini bukan hal yang menyedihkan, kok. Justru aku jadi banyak belajar hal baru.

Hari jum'at lalu, pagi-pagi aku di japri Lei untuk kasih info kalau sore hari di penutupan feslit akan ada pemutaran film dokumenter yang di-inisiasi oleh anak-anak KPB (anak-anak yang aku inget sekali waktu mereka masih bulat-bulat pipinya). Sayangnya, aku gak bisa hadir di kesempatan itu karena ada kegiatan lain. Nah, lalu dari info itu obrolan pun berlanjut, kemana-mana sampai akhirnya aku cerita selama di rumah –karena gak banyak alasan aku untuk keluar rumah— apa yang aku kerjain? 'Rebahan', ya ada saatnya sih, biasanya diantara jam sebelas sampai masuk waktu dzuhur. Bukan tanpa alasan juga, tapi jeda ini aku ambil karena rata-rata kegiatan yang aku perlu selesaikan mepet di waktu tersebut. Mau nyambung kegiatan yang lain, nanggung karena pasti kepotong dengan waktu sholat, makan dan balik lagi untuk berjibaku dengan cucian piring yang efeknya kayak fatamorgana (iya, rasanya tadi udah rapi, kok tiba-tiba numpuk lagi yang harus dicuci hihi).

Oke, poin sebenernya bukan itu. Aku baru sadar –dari hasil ngobrol sama Lei— manusia yang diciptakakan dengan kemampuan adaptif yang keren ini sebenernya gak butuh waktu lama untuk menyesuaikan dengan keadaan. Maksudnya, ketika situasi berubah, kondisi gak lagi sama dengan atau tanpa tuntutan, kenyataannya emang kita di-desain untuk fleksibel. Aku rasa ini berkaitan dengan kemampuan bertahan yang memang menjadi fitur penting buat manusia dalam proses penciptaannya selain disempurnakan bentuknya.

Hal sederhana, dulu ketika aku harus mengantar anakku ke sekolah, yang tertanam adalah jam berapa harus berangkat agar tidak terlambat. Kemudian situasi ini membuat aku 'memaksa' diri untuk menyiapkan semuanya dengan rapih dan teratur, tujuannya biar gak ada drama di pagi hari –meskipun kenyataannya gak begitu sih, tetap saja ada insiden kecil yang terjadi tanpa diduga. Perubahan kecil seperti ini pun ternyata bisa ‘diakalin’ masalahnya tergantung mana yang duluan muncul; perasaan atau logika berpikir? Pertanyaan selanjutnya, mana yang mau dimenangkan? Ya, ujungnya kita tahu mana yang lebih banyak bikin drama dari pilihan tersebut.

Dalam kasus perubahan rutinku setelah daftar antar-jemput sekolah hilang dari jadwal harian. Awalnya bingung karena terlalu banyak ide yang muncul di kelapa. Ya tentu gak ada yang berhasil aku selesaikan dengan baik, karena aku cenderung mengerjakan semuanya secara random. Lompat dari satu kegiatan ke kegiatan lain, dari satu ‘penasaran’ ke ‘penasaran’ lain sampai akhirnya aku bosan sendiri. Dan begitu terus kira-kira sampai bulan kedua —lama juga ya? Barulah kemudian aku memutuskan untuk memilah mana yang paling sesuai kebutuhan, belajar dengan perlahan hingga disatu hari aku bisa menikmati ‘suara’ pagi dan ini menyenangkan! Masyaa Allah.

Kesimpulanku, yang aku lakukan tatkala ‘dipaksa’ menghadapi perubahan, lakuin aja dulu apa yang bisa dikerjain. Nanti juga akan ketemu jalannya, diri kita ini mau bermuaranya dimana. Suaka paling nyaman itu, kembali ke diri sendiri. Gak perlu merasa terpaksa, gak perlu merasa sungkan, gak perlu merasa harus menyamai langkah oranglain. Riuh yang kadang menyambut kita, itu gak penting selama kita tahu sama siapa kita harus berserah. Semua arah ujungnya satu, pada ridho siapa kita menuju.

Lei
@lei   5 months ago
bener ya jalanin aja dulu, nanti lama2 dr riweuh ketemu juga jalan tenangnya. btw, tnyt piring di bubat suka auto beranak pinak di sink juga ya? sama ama di cimahi sini loh 🤣 never ending story!
wulan bubuy
@wulan-bubuy   5 months ago
Wakakakak.. kayaknya hukumnya gitu, Lei.. gak boleh sinknya terlalu kinclong.
Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Menarik ya bahwa kita-kita yang sudah 'dewasa' ini dan statusnya 'orangtua' juga tak kunjung piawai mengelola berbagai proses kehidupan kita... Dan kita masih ngomel-ngomel melihat anak-anak kita masih berantakan ini itunya... 😁🙏🏼
wulan bubuy
@wulan-bubuy   5 months ago
Duh bener banget kak. Balik lagi masalahnya ke diri sendiri. Sekarang, ketika jauh (uhuk) makin kerasa perlunya ngeliat apa-apa tanpa prasangka dulu biar responnya gak berlebihan 🤭