AES92 Kembali 'BERSAMA' Bapak
wulan bubuy
Monday November 18 2024, 8:47 AM
AES92 Kembali 'BERSAMA' Bapak

Aku ingat, bapakku pernah bilang, "Mencintai dan menerima hal baik itu mudah, karena yang seperti itu lumrah, setiap kita pasti selalu berharap pada apa-apa yang menyenangkan dan memudahkan." 

Dikala itu, aku sedang diberi kesempatan untuk mengajar di beberapa tempat. Ala kulli hal, memang tidak selalu hal menyenangkan yang aku temukan. Ada saja kisah unik yang membuatku kaget dan heran. Tidak sedikit pula aku bertemu dengan anak-anak di rentang usia dewasa awal, lengkap dengan situasinya yang seru dan penuh dengan tantangan. Sehingga, kerap ia meminta keringanan, pengertian dan pemakluman serupa. 

Hingga hari ini? Ya. 

Kisah demi kisah itu bergulir dan aku selalu teringat akan beragam kisah bapakku yang sudah beberapa kali berpindah tugas dari satu sekolah ke sekolah lain. Beliau lebih banyak bertemu dengan anak-anak 'hebat' dibanding denganku. Dan beliau bilang, "Anak-anak ini sebetulnya gak salah, dengan segala kapasitasnya, mereka harus mengalami banyak hal rumit di lingkungannya." 

Bapakku, orang yang sangat tegas serta disiplin. Di zamannya, dahulu, menegur anak dengan nada tinggi atau lemparan kapur bukan sesuatu. Namun, dibalik itu semua, ketika tiba waktu reuni dan mereka mengundang bapakku, hadirlah beragam 'testimoni' tentang bapakku. Kemudian, meja makan di waktu malam pun menjadi panggung untuknya. Gelak tawa bercampur haru kurasakan juga. Begitu ternyata perjuangan bapakku mendampingi anak-anak yang tak setetes pun darahnya mengalir di tubuh mereka. 

Betul yang bapakku katakan. Kini aku merasakannya ketika sedang menjadi seorang pembelajar. Seorang pengajar yang baik pasti selalu ingin anak didiknya berhasil. Namun, menghadirkan cinta dan penerimaan jika ada anak didik yang tak sesuai harapan, bukanlah hal mudah. Butuh keikhlasan dan keyakinan bahwa yang mengubah seseorang bukanlah diri ini, akan tetapi semua bergantung pada Sang Pemilik Jiwa. Dia-lah yang berkehendak, sedangkan guru hanyalah wasilah (media/sebab) dengan tugas yang tak pernah sedikit. Ia harus cerdas dalam membaca situasi, ia harus kreatif dalam menyampaikan materi, ia juga harus mengenal karakter anak didiknya serta ia dituntut untuk dapat mempertanggungjawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mendekat pada sebuah kebenaran kah? Ataukah semakin menjauh? Sebab ketergelinciran itu bisa terjadi pada siapapun. 

Hakikat ilmu itu adalah amanah, ia akan bertambah jika dipakai dan dibagi. Kembali aku teringat sebuah apresiasi dari bapakku, katanya, "Begitu dong, kalau mau ngajar, harus mau belajar". Dan aku yakin seyakin-yakinnya, belajar yang dimaksud bapakku bukan terbatas pada ruang-ruang kelas, akan tetapi pada setiap keadaan sebagai bentuk syukur atas amanah yang telah dititipkan itu. 

Berat? Tentu dan tidak mudah. 

Namun, setiap amanah harus dituntaskan. Kewajiban setiap individu hanya menjalani dengan kemampuan terbaik, dengan penuh harap, dengan penuh cinta.