AES071 - Aku Bukan Penulis
Ara Djati
Thursday October 31 2024, 6:53 PM
AES071 - Aku Bukan Penulis

Akhir-akhir ini hari-hariku terasa seperti menulis, menulis, menulis. Menulis untuk majalah, menulis AES, menulis lagu, menulis buku harian, menulis latihan komposisi bahasa. Rasanya tidak ada habis-habisnya hal-hal yang perlu kutulis. Sebenarnya, kalau sudah dalam prosesnya, aku menikmatinya: aku semakin lama semakin terlatih memainkan kata-kata, mencari cara untuk memperindah dan memikat. Aku bisa bereksperimen dengan format, pemilihan tanda baca, huruf. Berbagai jendela seakan bisa terbuka untukku. Aku jadi menyadari hal-hal yang tak kusadari, mengaitkan hal-hal yang tak kulihat. Semuanya menjadi rapi dan mudah dalam bentuk huruf dan kata dan kalimat dan paragraf. Jejelan kusut di dalam kepalaku, tidak lagi mengintimidasi. Aku suka menulis. Tapi aku tidak mau disebut penulis.

 Di balik bayang-bayang, ada ketakutan yang selalu menunggu. Aku takut tidak bisa menulis lagi. Aku takut hari-hari ini adalah hari-hari boros, hari-hari di mana aku menghabiskan seluruh jatah menulisku, hingga licin tandas dan aku kehabisan kata-kata. Di masa depan, suatu hari nanti, ketika aku benar-benar butuh tulisanku: dia akan hilang. Aku akan lupa cara merangkai, lupa cara mengetik. Aku takut kalau aku menulis, menulis, hingga tulisanku habis.

 Orang-orang sering berkata bahwa aku punya semangat limun – mendesis dan melonjak di awal, tapi perlahan meleleh dan mati. Pada dasarnya aku mudah bosan. Dulu aku pernah senang sekali belajar sulap, atau menggambar, atau catur, tapi lama-kelamaan dia memudar. Lalu, di masa depan, aku melihat orang-orang yang jago, sayang sekali! Coba kalau dulu aku teruskan. Atau, dulu aku juga suka belajar itu.

Tapi nyatanya menulis tidak menjadi korban semangat limun. Kalau kutanya teman-temanku, apa satu hal yang terlihat menjadi fokusku? Mereka menjawab, penulis, dan aku selalu heran. Pernah ada waktu di mana aku lama sekali tidak menulis. Tapi, setiap ada tugas esai di sekolah, aku selalu menulis dengan seluruh semangat dan tenagaku, menikmati. Dan, yang penting, orang-orang memuji esai-esaiku.

 Kupikir itulah yang penting: pujian. Itulah juga yang menghambatku: bagaimana kalau tulisanku jadi jelek, jadi habis, jadi tidak lagi dipuji? Aku tidak suka melabeli diriku sebagai penulis, karena aku tidak mau itu jadi satu-satunya jaminanku untuk dipuji. Aku ingin jadi semuanya karena, dengan begitu, kemungkinan aku jatuh dan gagal jadi lebih sedikit. Masalahnya adalah ketergantunganku pada pujian. Pada akhirnya, aku kembali menulis. Pada akhirnya, pujian orang tidak perlu menentukan langkahku.