AES86 Kosmologi dan Tantangan Generasi
matheusaribowo
Wednesday September 24 2025, 8:49 AM
AES86 Kosmologi dan Tantangan Generasi

Ini adalah sebuah catatan (yang teramat) singkat dari kehadiran saya (2 hari) di Critical Dialogue Forum di @nuart oleh @mayameru dengan judul yang langsung memikat hati saya dalam sekali baca.

Kosmologi Gunung Api: "Antara Ritus dan Rasionalistas" Membaca ulang Tradisi, Sains, dan Imajinasi

Dimulai dari pertanyaan terakhir yang disampaikan Kang Febri, "Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga ini (pemahaman kesemestaan sesuai kebijaksanaan leluhur dan memadukannya dengan rasionalitas dan tantangan jaman)?"

Sebagai orang urban dan tinggal di tengah kota yang ramai dan cepat (informasi dan alur hidupnya), kuyakini cara untuk menjaga "ini" adalah dengan melambat dan menyaring. Melambat melalui proses menyadari dan menyaring melalui pemaknaan. Sesuai yang disampaikan @floramorta terkait kegelisahan generasi kini. 

Perihal menyadari, kini mulai menjamur praktik-praktik modern (ataupun tradisi yang dikemas modern), misalnya, jurnaling, jalan kaki atau main ke alam (grounding dan forest bathing), serta maraknya kelas-kelas meditasi, yoga, bernapas, dan lain sebagainya. Praktik-praktik dan pengalaman yang seyogyanya dilakukan sehari-hari, setiap saat, dengan kesadaran penuh. 

Perihal memaknai, bisa dilalukan dengan memberi jeda dan makna kepada hal-hal sederhana di keseharian dengan rasa hormat dan cinta yang sungguh. Kepada air, tanah, udara, tumbuhan, hewan, makhluk lain, batu-batu, bahkan diri sendiri sebagai bagian dari atau kehidupan itu sendiri.

Melihat apa yang terjadi hari-hari ini, bisa jadi karena manusia modern ini tahu banyak, bukan "banyak tahu". Sehingga terlalu banyak informasi (yang kurang perlu) ada di kepala, berdampak pula pada mental. Karena banyaknya informasi yang tidak tersaring (melalui pemaknaan), pengenalan terhadap nilai diri pun menjadi bias. Tidak punya "pancer". Mudah tersapu arus. Sesuai nasehat Sunda yang disampaikan Abah Yoyo, "kudu bisa ngigelan jaman, tapi ulah kabawa ku jaman." Jadi ini yang diperlukan generasi hari ini, "pancer" atau pemaknaan. Kembali lagi, memaknai hal-hal sederhana di keseharian dengan rasa hormat dan syukur yang sungguh, juga melalui "laku".

Masih banyak hal dan ilmu yang sangat menarik, sepakat dengan Kang Arief dari @kebonbagea bahwa mari kita sebut semua ke-arif-an leluhur ini dengan "ilmu" saja. Tidak lagi mempertentangkan antara mitos dengan logos, atau tradisi dengan modern. Toh, ungkapan pamungkas dari Abah Yoyo sudah begitu mendalam dan dapat diyakini kebenarannya, bahwa "Ilmu tradisi (kebijaksanaan leluhur nusantara) ini bukan lagi modern, tapi futuristik. Beyond!" Sepakat! Melampaui apa yang sekadar bisa diterjemahkan untuk menjawab masalah hidup saat dan hari ini saja, tetapi untuk kehidupan yang holistik dan melampaui jaman.

Matur sembah nuwun kepada semua yang menjadikan dialog ini ada. Sebab "segala sesuatu akan tiba pada saatnya." Abah Yoyo - Gelar Alam

You May Also Like