Sekian tahun yang lalu, saya sedang berada di sebuah ferry menuju sebuah pulau kecil di tengah-tengah semacam selat antara kota New York dan New Jersey. Suhu di musim dingin saat itu sangat dingin, sebelumnya saya dan sepasang sahabat sempat "bersembunyi" di sebuah toko hanya untuk menghangatkan diri memanfaatkan heater yang toko itu miliki. Rasa lelah dan kantuk begitu terasa karena semalaman kami sulit tidur dalam perjalanan menggunakan bus dari Boston ke New York. Perjalanan bus dimulai sekitar tengah malam memakan waktu sekitar 4 jam lebih, lalu kami terjebak di terminal karena pintu keluar masih tutup. Kami tidak bisa keluar, dan walaupun seandainya bisa, mungkin bukan ide yang baik karena suhu di luar sangat dingin dan kota masih senyap, masih terlalu pagi dan hampir semua toko masih tutup. Kami bersitirahat bersama para pelancong dan gelandangan, duduk atau tidur di lantai. Pengalaman pertama di kota New York yang "unik". Tapi kami masih sangat muda, walau sudah berkeluarga dan belum ada yang memiliki anak. Petualangan semacam itu masih mudah.
Di atas ferry kami berjumpa dengan seorang wanita belia yang sedang melancong sendirian. Bukan hal yang aneh bagi kami. Apalagi jika hidup sekian tahun di sebuah pulau yang menjadi tujuan wisata dunia di tengah samudra Pasifik. Pelancong justru yang banyak memberikan kontribusi para penduduk setempat, termasuk saya yang hidup di sana selama sekitar 10 tahun. Eniwei, nama wanita itu adalah Emily. Saya tidak tahu nama aslinya apa, biasa jika ada pelajar yang datang dari dataran Tiongkok, mereka selalu disiapkan dan "diberi" nama yang jauh lebih umum ketika mulai hidup di luar negeri. Saya punya Teman satu asrama dari sana, namanya Tam Hu, tapi dia punya American name: Tiger! Atau ada lagi Shiaw Peng, tapi dia minta dipanggil Caine. Ya begitulah mereka dan setiap kali saya bertemu banyak orang dari negara itu di berbagai tempat dengan nama "Amerika". Lucunya, saya lebih suka memanggil nama aslinya kalau saya tahu.
Nah Emily ini adalah seorang pelajar yang menghabiskan liburan musim dingin dengan melancong, persis seperti kami. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi pelancong pertama kali di New York adalah Liberty Island, kami sedang menuju ke sana.
Entah mengapa pagi tadi tiba-tiba saya ingat Emily. Wanita muda, dua puluhan yang berkaca mata dan murah senyum. Wajahnya masih terbayang walau kejadiannya sudah sangat lama sekali. Kami kemudian berteman. Itu salah satu keseruan hidup di rantau. Semakin banyak teman semakin mudah menyesuaikan diri.
Tinggal di tempat yang baru biasanya merupakan petualangan, penuh keseruan, seringkali penuh kekacauan dan menghadapi banyak kejutan. Tapi kalau saya boleh berkata jujur, tidak masalah sudah berapa kali saya berpindah-pindah dan memulai hidup baru di suatu tempat baru, walaupun sudah melalui perencanaan yang matang, tidak jarang banyak kejadian yang di luar rencana. Memang seperti tempat tinggal atau dokumen itu penting, tapi yang paling utama yang menurut saya paling esensial adalah teman!
Saya telah banyak belajar dalam berbagai petualangan yang sudah saya lalui, menurut saya teman itu jauh lebih berharga daripada uang! Terkadang saya merasa bahwa memiliki banyak teman seringkali jauh lebih penting daripada memiliki banyak uang. Bayangkan ketika saya berada di rumah sakit pukul 2 pagi. Waktu itu belum ada Uber atau taxi berbasis daring, kalau saya naik taxi biasa bisa berabe sebab rumah sakit saya jauh di luar kota. Nah pada saat seperti ini memiliki banyak teman sangat berharga. Ketika dalam kondisi yang tidak menguntungkan, ketika sedang berada di tengah bencana dan kecelakaan, teman dapat menyelamatkan hidup kita, sementara uang tidak memiliki peran berarti. Pada intiny, jika ingin survive, bertemanlah sebanyak-banyaknya. Teman bisa dikatakan sebagai penopang, pemandu agar tidak tersesat mengarah ke kesulitan atau bencana. semacam terapis atau penasihat ketika kita sedang dirundung berbagai masalah birokratis tau perijinan, dan juga sebagai pelumas agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan lancar. Itu yang biasanya saya lakukan paling awal dan saya berusaha mendekati mereka-mereka yang baru tiba agar proses penyesuaian diri mereka juga lebih mudah. Yang saya maksud adalah teman sungguhan bukan hanya sekedar berkenalan lalu ngobrol ringan seperti yang saya lakukan di atas kapal Ferry. Memang langkah awalnya seperti yang saya lakukan dengan dia, tapi yang kita butuhkan di tempat baru adalah seseorang yang lebih daripada seorang Emily, more than just Emily!
Foto credit: bcferries.com