"Your name?"
"Joe, party of four, please." Kata saya di depan meja
"I'll find you a table as soon as I can" Kata wanita itu. Dia bertugas sebagai host di sebuah restoran seafood yang kami datangi untuk makan siang.
Kami lalu menunggu sambil mengobrol. Saya agak terheran-heran dan bertanya tanya mengapa kami harus menunggu ketika saya perhatikan ternyata restoran yang besar ini ternyata banyak sekali meja kosong. Setidak-tidaknya restoran ini hanya terisi 50 persen saja, sementara di bagian luar tampak orang-orang bergerombol menunggu. 20 menit berlalu. Badan saya sudah pegal-pegal karena berdiri terus, akhirnya saya duduk di salah satu meja yang kosong karena ternyata orang-orang lain yang menunggu juga duduk di kursi-kursi itu. Setengah jam lewat, tidak ada apa-apa yang terjadi. Masih menunggu.
Menunggu menjadi kegiatan yang banyak kami lakukan di New Orleans ini. Diawali sejak kami mengambil mobil sewaan. Petugas yang menyalani sangat lambat, setidak-tidaknya kami menunggu sekitar 1,5 jam lebih. Kadang pelanggan dia tinggal karena harus berbicara dengan rekan kerjanya. 1 pelanggan setidak-tidaknya membutuhkan q0 hingga 15 menit, kadang lebih. Pokoknya sangat lama. Bahkan saya lihat ada orang yang batal dan pindah ke temat penyewaan lain.
Saya bukan orang yang senang menunggu, apalagi jika alasannya karena etika kerja yang buruk. Itu yang kebanyakan saya temui di New Orleans ini. Sepertinya semua orang hanya mempunyai 1 kecepatan yang sangat rendah. Yang lebih menggangu lagi adalah ketidak pedulian. Nah ini terlihat sangat mencolok di daerah ini.
Ketidak pedulian ini sangat menganggu masyarakat, contoh sederhana menghentikan kendaraan bukan di tempatnya. 1 lajur jalan tertutup karena seseorang menunggu, lalu menyalakan lampu darurat. Dibelakangnya kendaraan lain harus antri karena sulit pindah lajur. Itu terjadi setiap hari di banyak tempat.
Tadi pagi ketika saya menunggu kendaraan yang sedang diambil oleh petugas valet, hingga hampir 1 jam. Tempat kendaraan menaik turunkan penumpang, bongkar muat kopor dan sebagainya terlihat kacau balau karena semua orang tidak peduli dengan orang lain.
New Orleans bagi saya juga bukan kota yang bersih. Saya lihat orang-orang meninggalkan kotak bekas makan di meja- meja yang digunakan oleh umum di mall. Saya lihat ada kontainer untuk saos dari plastik yang terbalik di meja sehingga saos berceceran di mana-mana. Saya prhatikan ini banyak dilakukan oleh anak-anak usia sekolah. Mereka menggunakan seragam olah raga. Lalu ada keluarga yang juga meninggalkan sampah di meja, sementara petugas kebersihan hanya satu orang yang saya lihat sedang mengepel lantai karena sepertinya ada orang yang menumpahkan minuman sehingga lantai menjadi hitam dan lengket. Kalau sudah begitu, saya berpendapat bahwa pekerja di Indonesia jauh lebih gesit dan rajin serta memiliki etika kerja yang jauh lebih baik.
Itu juga saya bisa buktikan di sini, di New Orleans. Kok bisa? Ya memang lucu! Ketika kami check in di Hotel, petugas yang menyambut kami di front desk ternyata bernama Wayan! Langsung kami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Wayan ternyata sedang magang setelah lulus sekolah tinggi pariwisata di Bali lalu mendapat kesempatan bekerja di sini selama 1 tahun. Teryata dia tidak sendirian, ada lagi petugas yang sama bernama Yudha! Lebih hebat lagi. Ketika saya sedang duduk di Cafe bersantai di malam hari tiba-tiba di TV raksasa saya melihat foto Yudha terpampang karena menjadi karyawan terbaik bulan Juni! Keren sekali bukan? Ya jelas saja anak-anak Indonesia ini menonjol dan mendapat penghargaan karena kalau dibandingkan dengan petugas di sini dari banyak tempat yang saya perhatikan, mereka bekerja dengan sangat lamban, seenaknya, tidak peduli ketika melihat antrian sudah mengekor hingga puluhan orang, ketika saatnya dia istirahat, ya ngeloyor saja. Para pelanggan dibiarkan bengong! Memang menyebalkan! Ketika duduk di Cafe hotel sambil bersantai tiba-tiba saya mencurigai seorang perempuan yang melayani kami. Ketika mengucapkan terimakasih, dia membungkuk sambil mengatupkan tanganya di dada.
"Taruhan yuk, pasti dia juga anak Indonesia!" Kata saya pada Nina.
"Kok tahu? Dari apanya bisa bilang gitu?" Tanya Nina penasaran.
"Lihat saja cara kerjanya, gesit, berlari ke sana-kemari dan sangat sopan serta begitu menghormati customer." Jawab saya.
Ketika saya akan membayar dan akan kembali ke kamar, sengaja saya bertanya,"Where are you from? Thailand?" tanya saya memancing, padahal saya yakin dia dari Indonesia.
"No, I am from Indonesia!" Jawabnya.
"Tuh Nin, bener khan?" kata saya dalam bahasa Indonesia.
"Waaah Bapak dari Indonesia juga ya? Waah saya senang sekali akhirnya bertemu dengan orang dari Indonesia" Katanya sambil menunjukkan wajah gembira. Kami lalu ngobrol panjang lebar. Dia juga seperti Yudha dan Wayan dari sekolah pariwisata di Bali yang menjalani program magang selama setahun.
Saya merasa sangat berbangga mengetahui bahwa orang-orang Indonesia mempunyai etika kerja yang sangat baik. Seandainya saja New Orleans ini memiliki masyarakat yang memiliki kualitas seperti anak-anak ini, tentunya kota ini tidak kotor dan serabutan. Kano sendiri berkata, dia sangat menyukai makanan di sini tapi tidak suka dengan masyrakatnya. Untuk hal ini saya setuju.
Telepon saya bergetar, ada pesan dari restoran bahwa meja kami akhirnya siap. 1 jam! Kami masuk dan sudah saya duga di dalam restoran yang sangat luas ini hanya terisi 50 persen saja, Banyak sekali meja kosong. Saya tidak mengerti mengapa kami harus menunggu 1 jam jika akhirnya duduk di meja yang saya perhatikan sejak 1 jam lalu selalu kosong. Serius saya tidak mengerti. Untungnya makanannya sangat luar biasa enaknya! Terutama tiramnya, tapi soal tiram, saya akan cerita di esai berikutnya 
Foto credit: theayelife.com