"So, how was it?" Tanya saya ketika Kano dan Nina kembali ke kendaraan. Saya tidak ikut masuk ke kantor yang barusan mereka datangi.
"Everything is good. They will contact Kano in two or three weeks to sign a lease contract." Kata Nina.
Saya menghela napas dengan lega. Satu kekhawatiran saya akhirnya dapat dilepaskan. Hal ini sudah sekian lama mengganggu waktu tidur saya karena terlalu khawatir. Mudah-mudahan malam nanti saya bisa mulai tidur nyenyak.
"Now you can sleep better, Dad." Kata Kano seolah-olah dapat menebak apa yang sedang saya pikirkan.
Barusan Kano dan ibunya menyerahkan surat bukti bahwa Kano terdaftar sebagai mahasiswa di CSU yang merupakan salah satu persyaratan agar dapat mengontrak apartment di gedung ini. Ini adalah institusi non profit yang menyediakan apartemen bagi para mahasiswa dengan harga yang lumayan miring. Gedungnya memang terlihat tua, tapi cukup memadai dan yang terpenting adalah sangat dekat dari kampus dan tempat Kano bekerja. Mungkin dia hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 10 menit berjalan kaki ke tempat dia bekerja. Minggu lalu kami memang sudah memasukkan surat "lamaran" untuk mengontrak salah satu apartemen di gedung ini. Saya sudah memberikan deposit dan biaya administrasi. Itu artinya apartemen yang Kano inginkan sudah dipesan, baru kemudian sesudah semua persyaratan dipenuhi, yaitu salah satunya surat bukti bahwa Kano tercatat sebagai mahasiswa, maka "lamaran" itu mulai diproses.
Sudah beberapa minggu terakhir ini kami bertiga berusaha mencari apartemen untuk dijadikan tempat tinggal Kano yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Kami sudah mendatangi setidak-tidaknya 4 lokasi. Yang pertama saya dengan Kano mendatangi sebuah apartemen yang lumayan besar, hanya saja jika diperhitungkan biaya sewa dan biaya untuk utilities, seperti listrik, internet dan gas, akan sangat mahal. Lokasi memang sangat strategis dan dekat dengan kampus. Kano agak ragu-ragu terutama karena biaya sangat tinggi. Kami berusaha mencari yang lokasinya dekat tapi dengan biaya terjangkau, setidak-tidaknya tidak lebih dari 1/3 gaji Kano supaya dia bisa tetap menabung sesudah anggaran untuk biaya hidup dan kuliah.
Minggu lalu akhirnya Nina menelepon salah satu lokasi yang juga sanga dekat. Kebetulan pada saat itu ada 2 apartemen yang ditawarkan. Siangnya menjelang saya pulang kerja, Kano memutuskan untuk memasukkan formulir dan memberikan deposit. Hari ini semua persyaratan dikengkapi dan dalam beberapa minggu ke depan, kontrak akan ditanda tangani. Nah itu semua yang membuat saya lega.
Apa yang berikutnya harus dilakukan? Kano akan mulai melengkapi apartemennya dengan berbagi perlengkapan, seperti misalnya tempat tidur, dan sebagainya. Dia tidak mau menggunakan yng saya miliki karena katanya terlalu besar.
"My friends will help me to move in and we are planning to go to IKEA to find a nice bed." Kata Kano.
Anak ini sangat beruntung, kata saya dalam hati. Sekilas saya kembali ingat puluhan tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya saya menyewa kamar kost, di jaman masih menjadi mahasiswa. Saya hanya memiliki beberapa buah doos yang berisi pakaian dan buku-buku, dan sebuah kasur dari busa seharga 15 ribu rupiah dengan kualitas seadanya. Kondisi Kano jauh lebih baik dari kondisi saya saat itu. Saya tersenyum puas dan dalam hati berdoa semoga anak ini jauh lebih sukses dibanding saya dulu. Sejauh ini memang sudah terlihat sangat memuaskan. Semoga!