Dua ribu tiga belas ya berarti. Awal tahun mulai kebingungan karena belum ada pekerjaan. Sepulang dari Tanimbar di akhir tahun lalu memutuskan untuk keluar kerja, sudah mulai jenuh soalnya. Sambil menunggu panggilan, bantu-bantu di komunitas. Bantu-bantu habisin cemilan mereka.
Tidak lama, sudah keterima di salah satu lembaga humanitarian. Fokusnya kepada peningkatan kapasitas pengetahuan mengenai metoda membangun hunian aman gempa.
Selama berbulan-bulan di awal tahun, pola hidup saya seperti Senin di jalan, selasa rabu kamis bisa ada di Majalengka, Bogor, Garut, Brebes, Patrol, dll yang lupa juga dimana aja. Jumat di jalan lagi, pulang Bandung. Sabtu Minggu, tidur. Hanya sekali dapat tugas di Bojongkoneng, Bandung.
Eh, di tengah tahun dapat panggilan mendadak. Tidak kaget sih karena sudah biasa seperti itu di tempat kerja sebelumnya. Katanya, barusan ada gempa di Lombok jadi besok sudah perlu berangkat ke sana.
Paul dari Irlandia sudah menunggu di Bandara Soeta, kami perlu bertemu dengan kepala BPBD Lombok Utara, langsung asesmen lapangan. Semua tiket & administrasi sudah disiapkan.
Begitu saja informasi yang saya terima di malam hari saat sedang menikmati kopi. Segera pulang, mempersiapkan kebutuhan, tidur. Bangun jam tiga pagi, ojek, travel, bandara, terbang, mendarat.
Asesmen kondisi lapangan. Pertemuan di siang harinya. Makan. Cek penginapan. Susun laporan. Koordinasi daring. Barulah bisa bernapas. Lihat langit, waw sudah malam.
Tiga hari intens berkegiatan seperti itu, ternyata semua tugas sudah selesai. Baru sadar, ada sisa empat hari, karena tiket dan penginapan sudah disiapkan untuk seminggu tugas kan.
Yah sambil menunggu jadwal terbang pulang ke Bandung, kami berjalan-jalan saja ke Senggigi, Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, dst lupa lagi namanya apa.
Kelucuan setelah pulang Bandung adalah hasil asesmen dan rekomendasi yang saya buat, malah tidak diaplikasikan di lokasi gempa Lombok Utara di desa yang saya lupa lagi apa namanya itu.
Karena, tindak lanjutnya sudah mampu dilakukan mandiri dengan bantuan lembaga lain. Malahan, saya dikirim ke Takengon, Aceh Tengah. Tanah Gayo itu pun mengalami gempa rupanya, dan kali ini (lagi-lagi) saya dikirim sendirian duluan terbang ke sana. Nanti disusul Erika dari Haiti, Ben dari California, & Amanda dari Prancis. Gimanaaa iniii.. (teriak dalam hati).
Penerbangannya sih biasa, perjalanan daratnya yang luarrrr biasa. Bus cepat, bus besar, balapan di jalan sempit, naik turun bukit kiri kanan jurang. Medan-Takengon sampai dalam beberapa jam, pas lihat jarak tempuh jadi bertanya; kecepatan bus semalam berapa ya. Gimanaaa ituuu.. (teriak lagi dalam hati).
Takengon mirip Bandung, dengan danau Lut Tawar di tengahnya. Seminggu sendirian sebagai tim pionir, ngeri-ngeri sedap. Ngerinya ya sendirian keliling area terdampak gempa. Sedapnya, ya sendirian keliling perkampungan indah dengan kopi Gayo yang melimpah.
Pekerjaan masih begitu-begitu saja, yang berbeda hanya suasananya saja. Setiap perjalanan lintas pulau, kira-kira demikian pola pengalamannya. Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk berhenti dan mulai berpikir masuk ke dunia baru. Hanya, apa ya? Wah, di saat itu belum tau.
Tetap saja sih mengundurkan diri di akhir tahun. Setelah sempat mengunjungi titik nol Indonesia dan motor-motoran ngelilingin Pulau Weh. Pantai pasir hitam, pasir putih, lewat gunung berapi, nyasar di hutan, nemu karang tersembunyi, dll sampai lupa saking banyaknya tempat yang seketemunya saja.
Memutuskan berhenti karena, bukan soal perjalanannya, bukan soal pekerjaannya, bukan soal kemendadakannya, bukan soal petualangannya, bukan soal gajinya bahkan. Hanya soal kebaruan & kesegaran saja. Terlalu lama di lapangan menjadi semakin tidak peka pada keadaan lapangan.
Manusia hanya terlihat seperti pola dan lingkungan adalah matriksnya. Walaupun dinginnya tanah Gayo dengan nikmat kopinya selalu jadi idola. Akhir tahun pulang Bandung, setelah tiga bulan lebih di kota dingin Takengon, tanah Gayo.
Asyik kak! ditunggu cerita petualangan lainnya.