AES 1287 Kekhawatiran
joefelus
Saturday December 28 2024, 9:32 AM
AES 1287 Kekhawatiran

Hari kelima retret pribadi saya akan mengetengahkan soal kekhawatiran. Alasan saya mengangkat topik ini karena sepanjang tahun 2024 bahkan dimulai sejak menjelang akhir tahun 2023, saya menghadapi banyak masalah ini. Kekhawatiran bukan hal yang menyenangkan untuk dilalui, bahkan bagi saya ada saatnya begitu mencekam dan menyita seluruh waktu dan energi yang saya miliki. Saya ingin mencatatkan dalam renungan saya hari ini sebagai bekal ke depan.

Kekhawatiran adalah sebentuk alert system, sistem kewaspadaan yang secara alami memperingatkan kita jika ada bahaya. Seperti alarm kebakaran, seperti smoke detector, jika ada asap langsung mengingatkan kita agar waspada terhadap kemungkinan kebakaran. Valentina Dragomir, seorang psikoterapis dan pendiri PsihoSensus mengatakan bahwa kita khawatir karena secara terus menerus kita mencoba mencari cara untuk memecahkan masalah. Secara alami manusia adalah problem solver. Tidak hanya itu, kekhawatiran juga merupakan bentuk antisipasi akan segala kemungkinan yang potensial dapat terjadi.

Tahun 2024 merupakan tahun perubahan yang sangat besar buat saya. sebagai ayah, saya berusaha menyiapkan Kano untuk bisa mandiri. Ini tantangan terbesar di tahun 2024. Saya membantu dia mencari tempat tinggal, pindah rumah hingga menyiapkan secara emosional bagaimana membiasakan diri hidup sendiri. Nah ini bukan hal yang mudah sebab tidak hanya Kano, saya sendiri juga harus berjuang melakukan ini. Saya belum pernah tinggal terpisah dari Kano sejak dia lahir, ini terasa lebih dahsyat lagi karena kami berjarak ribuan kilometer dan berbeda negara sehingga tidak selalu mudah untuk nanti dapat saling mengunjungi. Kenapa saya begitu khawatir? Untuk menemukan tempat tinggal yang memadai, yang harganya terjangkau serta di linkungan yang baik itu tidak mudah. Ingat, dia akan tinggal sendirian jauh dari sanak sadara! Siapa yang tidak khawatir? Belum lagi menyiapkan mental. Untunglah saya memiliki banyak teman dan sahabat yang sudah bisa saya anggap keluarga dekat. Nah nyambung dengan obrolan saya kemarin bukan? Teman dan sahabat itu adalah harta yang tak terhingga.

Kehawatiran juga sebetulnya merupakan semacam rasa takut kalau-kalau kita tidak mampu menghadapi masalah di masa depan. Ketakutan bahwa kita tidak bisa mengendalikan apa yang mungkin akan terjadi. Bayangkan saja, bagaimana saya dapat membantu ketika Kano sakit, misalnya, sementara saya tinggal ribuan kilometer jauhnya.

Kekhawatiran juga terjadi karena kita peduli. Kepedulian, care, dan rasa sayang menimbulkan berbagai kekhawatiran. Rasa sayang membuat kita overthinking, membuat kita terlalu banyak berpikir. Itu salah satu alasan mengapa rasa cinta, raya sayang membuat kita begitu rentan, vulnerable. Ini adalah risiko jika kita membuka hati terhadap sesuatu atau seseorang. Saya pernah menulis tentang ini.

Pengalaman semacam ini sangat berat untuk dihadapi. 1,5 tahun terakhir ini saya didera banyak masalah seperti ini. Hampir kehilangan orang yang paling saya cintai, menyiapkan diri dan keluarga untuk hidup secara terpisah yang belum pernah kami alami sebelumnya, pindah domisili, menghadapi proses adaptasi dan sebagainya yang semuanya sarat dengan rasa khawatir.

Lalu apa yang saya pelajari dari segala pengalaman itu?

Pertama, saya mendapatkan bahwa diri saya adalah orang yang sangat peduli, orang yang sungguh menyayangi keluarga karena rasa khawatir seperti saya katakan tadi timbul karena rasa sayang. Kedua, rasa khawatir membantu saya untuk memecahkan berbagai masalah. Tadi saya katakan bahwa rasa khawatir itu tidak menyenangkan, untuk itu saya harus berbuat sesuatu. Apa yang mengkhawatirkan saya? Begitu tahu, saya hadapi masalahnya, saya selesaikan sehingga rasa khawatir itu pergi. Ketiga, Rasa khawatir memberikan motivasi. Sama seperti saya katakan di bagian kedua, kalau saya tidak melakukan apapun maka rasa khawatir itu akan selalu ada, dan rasa khawatir itu sangat tidak nyaman sehingga mendorong saya untuk segera melepaskannya. Bayangkan saja, saya harus kembali ke tanah air dan harus keluar dari apartemen sementara itu pada saat yang bersamaan harus mencari tempat tinggal baru bagi Nina dan saya serta apartemen pribadi untuk Kano. Ini bulan-bulan yang sangat chaotic! Saya stress, khawatir dan juga memiliki perasaan yang campur aduk antara takut kehilangan Kano, kekhawatiran soal masalah-masalah di tanah air, mempersiapkan kepulangan, mengirim barang dan lain sebagainya. Bukan hal yang mudah, tapi jika saya tidak melakukan apa-apa rasa khawatir itu terus menumpuk dan tidak akan pernah lenyap.

Terakhir, rasa khawatir menjaga saya agar hal-hal buruk dapat dihindari dan juga melindungi saya terhadap rasa sesal dikemudian hari. Seperti tadi saya katakan, rasa khawatir itu bagaikan sebuah alarm tanda bahaya, dengan menyadari ini saya menjadi lebih waspada dan lebih atisipatif terhadap berbagai kemungkinan buruk. Walaupun seandainya hal buruk itu tidak dapat dihindari dan benar-benar terjadi, minimal sesudah dilanda rasa khawatir terus menerus saya bisa menghadapi perasaan buruk itu dengan lebih baik. Bayangkan jika hal buruk itu terjadi seperti sebuah kejutan, apakah bisa dengan mudah dihadapi?

Sekarang semuanya sudah berlalu. Saya bersyukur dianugerahi berbagai kekhawatiran itu dan diberi kekuatan untuk menghadapinya. Tahun yang penuh kekhawatiran itu sudah hampir berlalu dan saya sudah banyak dibekali dengan berbagai pelajaran hidup yang sangat berharga.

Satu lagi, ternyata banyak sekali kekhawatiran yang saya sering alami itu juga tidak beralasan. Seperti di awal sharing saya ini, karena rasa sayang yang sangat kuat, kita menjadi terlalu overthinking. Ada baiknya bahwa kita merasa khawatir sebagai semacam rambu-rambu pengingat, tapi memang benar bahwa seringkali semuanya itu hanya ada di kepala dan tidak beralasan sama sekali.

Foto credit: anxietycanada.com

You May Also Like