AES 1376 Never Underestimate
joefelus
Wednesday April 2 2025, 12:39 PM
AES 1376 Never Underestimate

"Hey"

"I think I got the place."

"I gave the manager guy a security deposit and apparently my landlord gave me a good reference to him. He said I can sign the lease as soon as tonight."

Saya tersenyum lega walau mata masih setengah tertutup. Itu pesan dari Kano melalui WA, beberapa saat sebelum saya terjaga pagi ini. Beban kekhawatiran yang selama ini diam-diam saya tanggung terlepas begitu saja. Saya memejamkan mata dan mulai bersyukur dan pada saat yang sama saya merasa bangga bahwa Kano ternyata dapat menghadapi semua rintangan dengan baik dan mulus.

Kalau teman-teman tidak memiliki anak yang tinggal ribuan kilometer jauhnya dari orang tua, mungkin belum mampu membayangkan kekhawatiran yang sedang saya hadapi. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab saya banyak kesulitan dalam menulis dan menjalani keseharian karena rasa khawatir yang begitu memuncak tanpa mampu berbuat apapun.

Tidak ada yang lebih membuat saya menderita sebagai orang tua ketika mengetahui anak satu-satunya sedang menghadapi tantangan dan pada saat yang sama sebagai orang tua saya tidak berdaya membantu. Entah berapa banyak malam-malam yang saya lewatkan dengan sulit memejamkan mata, entah berapa banyak harapan dan mungkin doa yang saya bisikan, entah berapa banyak kali saya berharap kondisi ini segera usai. Jujur, saya merasa kesulitan menghadapi ini walau tidak saya ungkapkan pada siapapun termasuk Nina karena saya tahu dia juga menghadapi hal yang sama.

Eniwei, gedung apartemen yang Kano diami sekarang akan dihancurkan dan akan dibangun dengan yang baru karena dinilai sudah terlalu tua dan butuh renovasi, butuh di-modern-kan. Lokasi sekarang amat sangat ideal karena hanya 5 menit jalan kaki dari kampus dan dari tempat kerja Kano. Dia hanya memiliki kurang dari 3 bulan untuk mencari tempat baru dan pindah. Bayangkan berapa ribu mahasiswa yang saat ini sedang berusaha mencari tempat tinggal? Lebih dari 30 ribu mahasiswa yang kuliah di CSU. Pertengahan tahun adalah saat-saat yang genting bagi para mahasiswa mencari tempat tinggal karena pada saat yang sama ribuan mahasiswa mencari tempat baru. Mahasiswa tahun ke-2 harus keluar dari asrama dan mereka beramai-ramai mencari apartemen yang dekat dengan kampus. Nah Kano harus berebut dengan mereka. Lebih dari 5 ribu mahasiswa yang memasuki tahun ke-2 mencari tempat tinggal sekitar kampus, itu belum termasuk mahasiswa lainnya yang ingin pindah! Oleh sebab itu harga sewa apartemen dan rumah sekitar kampus sangat tinggi!

Kemarin malam Kano minta bantuan kami untuk menemani dia mengisi formulir "lamaran" apartemen. Dia memiliki beberapa kandidat yang dia sukai. Yang menjadi kriteria adalah lokasi, kondisi apartemen dan juga harga. Yang dia inginkan sekitar 11 menit jika naik sepeda ke kampus. Menurut saya itu lumayan baik walau dibandingkan dengan yang sekarang memang sangat jauh. Yang saat ini dia tempati hanya 5 menit jalan kaki, 3 menit jika menggunakan skateboard yang selalu kano lakukan. Sekarang dia harus naik sepeda karena jaraknya sekitar 2,5km. Kalau jalan kaki sekitar 33 menit, tapi hanya 11 menit jika naik sepeda. Dia perlu hati-hati ketika turun salju karena bersepeda di atas salju itu sangat tricky!

Pagi ini akhirnya kami berkesempatan ngobrol via Video call. Kano menunjukkan foto-foto apartemen barunya dengan lantai parket. Jauh lebih kecil dibanding dengan yang sekarang, tapi lebih modern, lebih indah, dan lebih baru. Apalagi saat ini juga sedang direnovasi. Kamar mandi dan dapur pribadi, ada kloset pakaian, ruang makan dan ada di lantai 2. Menurut saya sangat lumayan untuk tinggal sendiri.

"I forgot to mention, the washer and dryer in the building are phone-operated." Sambung Kano

Saya ingat dulu ketika pertama kali pindah ke Fort Collins dan saya tidak memiliki mesin cuci dan dryer, saya harus berjalan sekian ratus meter ke gedung lain untuk mencuci pakaian. Memang mesin-mesin laundry itu terkoneksi dengan internet jadi saya bisa melihat dari rumah apakah ada mesin yang kosong dan saya dapat memantau mesin yang saya gunakan jika sudah selesai mencuci atau mengeringkan pakaian. Saya akhirnya memutuskan membeli sendiri karena pergi mecuci pakaian di suhu ekstrim bukan pekerjaan yang menyenangkan! Nah kali ini Kano memiliki ruang cuci di gedung dengan cara yang sama tapi ruang cuci di dalam gedung di lantai 1, jadi tidak terlalu buruk jika dibadingkan dengan saya dahulu.

Saya belajar banyak dari peristiwa ini. Pertama, saya harus lebih percaya pada kemampuan Kano, jangan pernah meremehkan kemampuan dia. Memang selama ini saya hanya mengingatkan, itupun sangat jarang sebab pada intinya saya ingin memberikan ruang agar dia dapat belajar. Saya hanya perlu meyakinkan walaupun secara fisik kami tinggal berjauhan, tapi saya akan tetap ada ketika dibutuhkan. Akhirnya terbukti bahwa dia bisa! Siapa sih yang tidak ketar-ketir sebagai orang tua dalam menyaksikan perjuangan anaknya? Tapi kadangkala kita harus tega memberikan kesempatan dan ruang untuk anak-anak agar berkembang.

Kedua, saya juga belajar bahwa akhirnya saya harus terus menerus mengecilkan peran dan semakin saya melakukan itu, semakin berkembang dia. Saya harus mengecil dan dia membesar. Ini bagian yang sulit karena orang tua memiliki kebiasaan untuk membantu, ikut campur tangan, kadang malah memaksa untuk terjun walaupun sebenarnya tidak dibutuhkan. Ini sudah merupakan kebiasaan selama bertahun-tahun sejak masih bayi, dan namanya kebiasaan, sangat sulit ditinggalkan. Untung saja kami tinggal berjauhan, sehingga kondisi memang memaksa agar saya hanya berdiri di sisi dan sekedar memberi semangat tanpa turun tangan.

Ketiga, saya harus menerima bahwa Kano sekarang sudah mandiri sepenuhnya. Dia bisa membuat keputusan, dia bisa menghadapi masalah-masalahnya secara mandiri. Agak menyedihkan dan menyakitkan memang ketika sadar bahwa peran saya semakin menipis dan hampir tidak ada lagi. Dulu yang merasa sebagai superhero di mata dia, yang serba bisa dan selalu ada kapanpun dimanapun untuk melindunginya, sekarang saya hanya bisa menonton. Ini bagaikan peran yang terengut dengan paksa hahaha... Yang pasti pada akhirnya saya harus bangga bahwa dia telah tumbuh dengan baik dan siap menghadapi perjalanan hidupnya sebagai orang dewasa. Sebagai orang tua kita tidak boleh meremehkan kemampuan anak-anaknya, sebab jika demikian, artinya kita tidak berhasil dalam mempersiapkan anak-anak kita dengan baik. Jadi seperti bumerang, ya? Hahaha..

Foto credit: hugotniparingrael.wordpress.com

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
The feeling's mutual 😁
You May Also Like