Well, saya pernah cerita bahwa kita seringkali lebih memfokuskan pikiran dan pandangan kita ke hal-hal yang lebih negatif sebagai sebuah mekanisme untuk survival. Kita juga mengalami banyak kesulitan ketika harus menemukan hal-hal positif yang kita miliki.
Kalau ingin bukti, coba saja kita berlatih membuat daftar hal-hal negatif yang kita miliki lalu sesudah itu membuat daftar hal-hal positif. Saya jamin daftar hal-hal negatif akan jauh lebih panjang daripada hal-hal positif. Itu juga saya saksikan sendiri ketika dulu mendampingi anak-anak didik ketika melakukan refleksi dalam upaya menemukan dan mengenal diri. Itu hal yang wajar. Tapi jika kita bisa menemukan banyak hal-hal positif lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin maka kita akan menjadi manusia yang jauh lebih matang dan berkualitas.
Mengapa saya ngobol soal ini? Ya, berawal dari sulitnya saya akhir-akhir ini menemukan topik obrolan. Memang setidak-tidaknya selama 2 minggu terakhir ini saya kurang sehat bahkan akhirnya malah saya terjangkit Covid. Lalu terlintas untuk ngobrol tentang mojo, istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan kekuatan, kehebatan atau pengaruh seseorang terhadap orang lain atau hal yang dia lakukan.
Setiap orang memang memiliki mojo masing-masing, entah sadar atau tidak. Semakin menyadari mojo mereka, maka semakin baik karena dengan demikian kekuatan yang mereka miliki akan dapat semakin dikembangkan. Tapi apakah dengan mudah kita bisa mengakui? Aneh ya bahwa seringkali justru kita berusaha menghindar untuk mengakui kehebatan sendiri. Ada rambu-rambu yang diciptakan dalam kehidupan sosial yang seringkali menghalangi kita untuk melakukan itu. Menjadi rendah hati, misalnya. Itu hal yang baik tapi juga seringkali menjadi penghambat bagi kita untuk mengakui kehebatan yang kita miliki.
Baiklah, saya akan berhenti dengan omong kosong ini. Alasan mengapa saya mengangkat mojo sebagai topik obrolan, sebenarnya adalah karena saya akhir-akhir ini kehilangan mojo dalam menulis. Faktor kelelahan, kesehatan, pengalaman keseharian, kesulitan hidup dan sebagainya mungkin menjadi penyumbang terbesar dalm masalah ini. Tapi kalau dipikir-pikir itu semua juga bisa menjadi salah satu sumber peningkatan mojo. Nah bingung bukan? Hahaha Ini akan jadi bahan permenungan.
Foto credit: wockhardthospitals.com