Kita yang telah dewasa seringkali lupa merayakan hidup. Saya akan obrolkan lamunan pagi ini. Sebenarnya ide perbincangan pagi ini tercetus setelah membaca esai dari kak @matheusaribowo yang sedang berbincang soal kehidupan di Smipa dimana kalau saya tidak salah menangkap tentang bagaimana anak-anak Smipa merayakan kehidupan salah satunya ketika bergembira pada saat hujan turun atau ketika melihat kupu-kupu. Nah kita yang sudah menjalani kehidupan sekian lama seringkali begitu teperangkap dengan berbagai tugas, permasalahan dan tantangan hidup sehingga seringkali melupakan hal-hal kecil yang berkaitan dengan merayakan kehidupan yang kita jalani saat ini.
Saya pernah ngobrol bahwa karena terbiasa terlibat dalam keseharin, kita take our lives for granted, sulit saya mengungkapkannnya dalam bahasa Indonesia. Misalnya saja begini, ketika masih tinggal dengan orang tua, pada saat kita bangun pagi lalu mandi dan kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Segala sesuatu sudah disiapkan seperti seragam sudah disetrika, sarapan sudah siap di atas meja. Nah kita nikmati saja semua itu seolah-olah sebagai sebuah keharusan bahwa itu memang yang harus ada setiap pagi. Kita lupa bersyukur bahwa semua sudah disiapkan. Kita take it for granted. Dan ketika kita tinggal sendiri, barulah sadar bahwa segala sesuatu yang disiapkan oleh orang tua itu merupakan sebuah anugerah! Ketika saatnya tinggal sendiri, baju tidak lagi dengan sendirinya siap, licin sudah disetrika, sarapan tidak tersulap begitu saja ada di atas meja. Lalu kita sadar bahwa selama belasan tahun kita begitu dimanja oleh keadaan di rumah orang tua. Itu salah satu ilustrasi bahwa kita sering take everything for granted. Menyepelekan banyak hal seolah-olah semuanya memang sudah seharusnya begitu.
Kesadaran yang dimiliki oleh anak-anak masih cenderung jauh lebih murni dibandingkan dengan kita yang sudah dewasa karena belum banyak terdistorsi oleh berbagai faktor kehidupan. Bersorak sorai karena hujan turun misalnya, mereka dapat menikmati hal-hal kecil dengan lebih polos dan murni. Kita yang dewasa sudah mengalihkan fokus pada hal-hal lain yang dianggap lebih penting. Padahal kalau diperhatikan semua yang ada di semesta ini penting. Kita tidak akan mampu berjalan dengan normal jika tangan hanya satu, kita tidak akan dapat melangkah dengan nyaman bila kaki kita tidak sama panjang. Hal-hal kecil adalah sebuah keharusan dan tidak kalah pentingnya dengan yang kita anggap besar.
Saya mengikuti perkembangan kesehatan sahabat saya di Pacific North West sana yang sedang berjuang untuk kembali "sehat". Saya belajar dari pengalamanannya untuk tidak lagi take everything for granted. Kecelakaan gara-gara seekor lalat 16 hari yang lalu mengakibatkan dia harus menjalani operasi besar dan sebagian batok kepalanya harus diangkat. Sekarang sahabat saya ini sedang kembali belajar menggerakkan anggota tubuhnya, harus berdamai dengan helm yang dia benci tapi harus dikenakan untuk melindungi kepalanya, belajar berbicara dan kembali hidup "normal". Normal adalah kata ajaib ketika kita berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Normal adalah kata yang sangat bermakna ketika untuk berbicara saja harus menggunakan alat bantu, dan Normal adalah kata yang sangat mewah ketika untuk bergerak saja kita tidak mampu. Merayakan kehidupan itu tidak sulit ketika kita tidak lagi taking everything for granted. Seperti anak anak yang bersorak riang gembira melihat kupu-kupu atau ketika bersyukur karena hujan turun.
63 hari lagi hari raya Natal. Merayakan atau tidak, Natal dan akhir tahun memiliki tempat istimewa di banyak orang karena pada saat itu kebanyakan libur dan penuh harapan menantikan tahun yang baru. Di benua bagian utara dimana saya selama belasan tahun pernah tinggal, akhir tahun adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya punya sebuah lagu favorit "Seeing Christmas through the eyes of a child" Itu salah satu kalimat yang saya sangat gemari. Ini bukan lagu terkenal karena dikarang oleh seorang artis di Hawaii. Sayang sekali hidupnya diakhiri dengan suatu yang sangat tragis dan tidak bertanggungjawab. Tapi tak masalah, ini lagu yang indah dan mengajarkan saya untuk dapat melihat segala sesuatu sepolos cara seorang anak memandang hidup.
And no matter how young or how old you may be, the beauty of Christmas is there to see, the peace and the love and the faith, all the while, seeing Christmas through the eyes of a child.
Usia bukan masalah, selama kita dapat melihat kehidupan dengan murni seperti mata seorang anak-anak, maka kita akan mampu melihat segala bentuk keindahan dari hal-hal yang paling sederhana yang seringkali kita sebagai orang dewasa lupakan.
Foto credit: careforkids.co.nz
Well written Joe. Colek kak @Matheusaribowo 🙏🏼