Ketika itu saat mengunjungi salah satu tempat ngopi favorit, tiba-tiba ada kawan yang memanggil. “Tem, gua baru ngobrol kemarin sama .. (nama teman). Ternyata kecoa itu kalau disentuh kita, sama-sama geli.” Ungkapnya dengan semangat. ”Itu kata .. (nama teman) tanya aja si Tema.” lanjutnya.Sontak ungkapan kawan tersebut membuat terheran-heran. Niat berkunjung untuk berjeda, ternyata diberi kesempatan untuk tetap memaksa otak ini berolahraga.
Kalimat tersebut menjadi awalan pembicaraan lebih mendalam. Memang tak bisa dipungkiri bahwa kemanapun saya pergi, akan selalu diiringi dengan label “Tema Sahabat Satwa”. Tentunya pembahasan pun akan berkelanjutan tentang hewan lainnya. Hewan paling bersih, kecerdasan hewan,teknologi yang diciptakan hewan, bahkan hingga topik penggemar hewan eksotik yang memang memelihara hewan unik. Salah satunya saya, tentunya.
Kurang lebih 15 menit kami membahas tentang aneka keunikan hewan, hingga beralih kepada pembahasan sikap pola hidup manusia. Kami membahas sikap atau teknologi manusia yang mengarah atau bersumber dari hewan. Seperti beberapa rangka atap yang bisa dibilang menyerupai jaring laba-laba. Atau bahkan cara memancing ikan dengan berbagai teknik sesuai dengan jenis ikannya. Dari situlah saya langsung merasa bersyukur, karena Tuhan dan Semesta sayang kepada saya.
Kenapa? Karena ternyata langkah yang kita lakukan tanpa disadari memberikan hal yang selalu baik selama DIRI kita mau menerimanya. Saya seakan diingatkan untuk mengasah “RASA” dalam diri yang terkait dengan lingkungan sekitar. KONEKSI dan LITERASI! Kata itu yang paling tepat menggambarkannya. Soal Koneksi tak perlu dijelaskan itu berkaitan dengan hubungan yang biasanya kita bangun dengan orang lain atau lingkungan. Terkait literasi, hal yang masih saja menjadi bahan diskusi bagaimana bentuknya. Namun bagi saya, literasi berkaitan dengan cara kita berkomunikasi dengan orang lain dan semesta. Jadi untuk membangun literasi perlu ada RASA dan KONEKSI yang menguatkan kita meningkatkan literasi. Bagi saya caranya yaitu berkomunikasi secara langsung. Lihat sekitar secara langsung, tatap muka, mata ke mata, mengobrol hingga bersenda gurau dan mengambil makna bersama-sama.
Dari obrolan tentang serangga, diakhiri dengan nilai bermakna..