Sudahkah kita mengucapkan terima kasih hari ini? itu seharusnya menjadi pertanyaan pertama ketika kita membuka mata sesudah beristirahat semalaman. Ketika kita membuka mata di pagi hari, kita sadar bahwa sebuah kesempatan baru terbuka, kita diberi anugerah hari yang baru yang akan kita segera jalani. Kita memulai dengan sebuah niat, berbagai pilihan yang bisa kita ambil untuk menjalai hari ini. Apakah kita memilih untuk berbahagia? Apakah kita memilih untuk bersemangat mengejar harapan, apakah kita memilih untuk mencoba tagar tidak bersedih, agar tidak putus harapan, agar tidak menyerah? banyak sekali pilihan dan kita diberi kebebasan untuk itu.
Hari ini saya memilih untuk sehat, berolahraga dan menikmati banyak waktu dengan keluarga karena saya libur 5 hari. Pagi sekali sudah bangun dan ke kolam renang bersama Nina. 1 jam kelas aqua fitness saya jalani lalu sarapan di dining hall karena Nina masih punya jatah 30 meals dari kantor yang harus dihabiskan dalam satu minggu ini. Istirahat sebentar di rumah, lalu bersiap-siap mengantar Nina mengajar sementara saya akan kembali berenang lagi, kali ini di City Park, kolam renang outdoor. Ada satu kelas lagi yang akan saya hadiri.
Hari begitu cerah, sekitar 35*C. jadi saya harus siap-siap dengan sun screen, sebab kulit bisa terbakar. Perlu diingat, saya tinggal di ketinggian di atas 5000 kaki, jadi memang lebih terekspos matahari dibandingkan di daerah yang lebih rendah. Saya tidak mau kena penyakit kulit, ingat: saya memilih untuk sehat hahaha..
Satu jam tidak terasa. Saya sudah membersihkan diri dan duduk di tepi danau. Hari ini tidak terlalu banyak orang, maklum ini jam kantor. hanya departemen tempat saya bekerja yang libur, itu juga tidak semua sebab masih ada 1 dining hall yang buka karena di seputar kampus masih ada ratusan tamu yang tinggal menggunakan asaram untuk konferensi dan sebagainya. Buat kebanyakan orang hari ini adalah hari kerja biasa, sehingga taman memang sepi.
Duduk merenung saya mulai berpikir mengenai rasa syukur dan rasa terima kasih seperti yang tadi pagi tercetus dalam pikiran ketika baru membuka mata. Saya memandang sekeliling, dananu yang damai, bangku-bangku yang kosong, dan sepasang suami istri dengan anaknya yang masih kecil memberi makan bebek di danau. Banyak hal yang indah yang bisa saya nikmati saat ini. Banyak hal yang bisa saya syukuri, banyak alasan untuk berterima kasih.
"But my quality of life isn't all that I would want it to be!" Ini jadi sebuah alasan yang banyak sekali di antara kita untuk lupa berterima kasih. Hidup terasa biasa-biasa saja, kualitas hidup tidak sesuai dengan harapan menjadi alasan untuk lupa berterima kasih. Apakah baru bisa berterima kasih ketika sudah menjadi kaya? Baru berterima kasih ketika menang lotere seperti seseorang di Illinois beberapa hari yang lalu menang jackpot lotere mega million sebesar 1.3 Milyar dollar? Hitung saja berapa angka nol nya jika dirupiahkan. Berapa trilyun dia miliki? Ini lotere kedua terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Apakah itu baru jadi alasan untuk berterima kasih? Kalau saya mungkin malah jadi takut hahahaha...
Sepertinya banyak sekali alasan untuk "menunda" berterima kasih. Mayoritas karena alasan yang bersifat egois hahaha.. Saya pikir, kita lupa untuk berterima kasih akan kemampuan yang kita miliki. Kemampuan yang paling dasar, paling sederhana. Kita mampu menggaruk keika bagian tubuh gatal, misalnya. Pernahkan kita berterima kasih untuk alasan sederhana semacam itu? Bayangkan jika tangan kita terikat dan hidung kita gatal minta ampun... Pernah kita harus menunggu untuk bisa ke belakang? Pernahkah kita berterima kasih ketika berhasil menahan diri sebelum tiba di kamar mandi? Itu hal-hal sederhaa! Yang lebih esensial, pernahkah kita berterima kasih setiap hari bahwa kita masih bisa bernapas, masih bisa melihat matahari, atau bisa menikmati warna warni semesta alam? Pernah lihat video seseorang yang buta warna berreaksi kemudian diberi hadiah sepasang kaca mata yang memungkinkan dia melihat warna? Semua orang itu menangis bahagia begitu mengetahui bahwa dunia ini penuh warna!
Memikirkan itu, mau tidak mau saya merasa penuh dengan rasa syukur. Saya merasa berterima kasih karena diberi kesehatan sehingga bisa bangun dan pergi berenang. Saya bersyukur bahwa masih memiliki tubuh yang kuat melawan arus air di kolam arus untuk berolahraga hingga tubuh saya pegal-pegal. Saya bersyukur bisa melihat keluarga bahagia yang sedang memberi makan bebek. Saya berterima kasih bisa duduk sendirian di bangku di tepi danau menikmati kedamaian. Dan terutama saya berterima kasih karena masih diberi kehidupan.
I'm grateful for being alive and being able to appreciate things at the moment.