Akhir pekan ini kami bertiga punya rencana untuk menikmati cuaca yang hangat dan cerah ke kota tetangga, Golden. Di kota kecil itu setiap hari Sabtu pertama ada parade mobil klasik. Saya pernah menuls di AES tentang mobil klasik ini di:AES 44 Ke Desa. Kano dan ibunya memang sangat menyukai mobil-mobil kuno, saya sih senang-senang saja selama pergi ke kota kecil atau ke pedesaan, makan yang enak dan jauh dari rumah, kampus dan pekerjaan. Berusaha menciptakan keseimbangan antara yang serius dan yang menyenangkan dan juga istirahat serta refreshing.
Rencananya, sebelum ke Golden, kami akan ke Denver dulu untuk makan siang. Ada restoran ramen baru yang ingin kami coba. Kalau melihat menu dan foto-fotonya memang sangat menjanjikan. Sesudah makan siang, kami akan ke Golden untuk bersantai minum kopi sambil menikmati ratusan mobil klasik yang berlalu lalang. Sore nanti dalam perjalanan pulang kami akan ke In-N-Out Burger. Ini gerai burger yang sangat terkenal dan selalu penuh antrian, tidak tanggung-tanggung hingga ratusan mobil. Katanya dalam waktu dekat akan dibuka satu gerai di Jakarta. Entah benar atau tidak.
Karena rencananya akan makan enak (hahaha), tentunya saya juga harus menyeimbangkan asupan makanan dengan pembakaran kalori sebab saya tidak mau bengkak lagi karena seperti teman-teman tahu, saya punya kelainan Thyroid yang cenderung membuat bobot tubuh saya melambung tinggi. Kemarin saat liburan ke Seattle selama seminggu dan hanya olahraga 1 hari karena cuaca selalu tidak mendukung, bobot saya meningkat sekitar 3.5kg. Butuh waktu 2 minggu untuk mengembalikan ke bobot sebelum liburan. Kasarnya makan sekali, olahraga harus 2 kali. Nasib! Sadar akan ini, saya bangun pagi lalu berangkat ke gym untuk olahraga.
Saya bersiap berangkat menuju Gym, tiba-tiba melihat sensor kendaraan menyala, engine check dan sensor VSC. Ini tidak baik, artinya harus ke bengkel karena mesin harus dicheck dan VSC sensor menunjukkan bahwa traksi kendaraan tidak baik, bisa tergelincir. VSC artinya Vehicle Stability Control. Walau masih tetap aman mengemudi jika sensor ini menyala, saya tidak berani ambil risiko pergi jauh apalagi mengambil Interstate Highway. Kalau kendaraan tidak stabil, bisa celaka. Pulang olahraga saya telepon bengkel dan langsung diberi jadwal siang nanti. Acara akhir pekan kami gagal total. Kano terlihat sangat kecewa. Kami harus beradaptasi dengan perubahan situasi. Seandainya kendaraan selesai dan masih ada waktu, kami memutuskan untuk setidak-tidaknya menikmati hamburger. Menyaksikan mobil klasik bisa ditunda hingga bulan depan, dan mencari waktu lain untuk mencoba ramen. Masalah saya, karena rencana akan makan di Denver, di rumah tidak ada makan siang. Saya akan membuat nasi goreng mawut, karena masih ada sedikit sayuran, daging dan mie telur akan saya tambahkan karena nasi tidak akan cukup untuk bertiga.
Saya merasakan nasi goreng mawut pertama kali di Surabaya, merupakan paduan antara mie goreng dan nasi goreng. Nasi, mie, sayuran, daging, sosis dan sebagainya dicampur menjadi sebuah sajian yang memuaskan. Sayangnya di kota saya sekarang ini sulit sekali menemukan sawi, jadi memang nasi mawut saya kurang warna hijau, apalagi pagi ini saya juga kehabisan daun bawang. Maklum lah saya memang tidak berencana untuk masak. Rencananya dalam perjalanan pulang nanti malah saya akan mampir ke Asian store untuk membeli beberapa jenis sayuran karena salah satu sahabat saya sedang kepingin makan lodeh. Jadi besok saya rencananya akan masak lodeh, apalagi sahabat saya hari ini akan mengambil pesanan ikan asin goreng! Menulis ini saja saya sudah mengeluarkan air liur. Masalahnya saya tidak jadi pergi! Waduh semua berantakan!
Kembali ke nasi mawut. Memasak menurut pendapat saya tidak ada benar atau salahnya, apalagi jika berkaitan dengan bumbu. Yang penting adalah menguasai teknik. Bumbu silahkan bermain sendiri seperti orang menggambar, boleh menggunakan apa saja, karena ini adalah sebuah karya seni. Saya keluarkan semua yang ada. Saya punya mie telur asli dari Indonesia, nasi kemarin, sosis, beberapa kerat daging, telur, wortel, sawi putih, dan sebagainya. Beberapa menit kemudian seluruh ruangan apartemen dipenuhi keharuman.
Memanggil Kano jika dengan teriakan hingga urat leher putus tidak akan pernah berhasil. Saya atau Nina perlu naik ke lantai atas langsung ke kamar dia jika perlu sesuatu. Satu-satunya cara yang paling ampuh dan efektif adalah dengan menggunakan makanan. Kamar Kano persis di atas dapur. Ventilasi untuk heater menghubungkan semua ruangan, dan harum makanan dapat menerobos ventilasi itu. Tidak perlu dipanggil atau berteriak, harum makanan akan memancing dia untuk turun dengan sendirinya.
"What are you cooking? My room smells so good!" Tanya kano menongolkan kepalanya dari tangga.
"Nasi goreng mawut. Let's eat", ajak saya.
"You put noodles in fried rice? Why?" Tanyanya. Sepertinya Kano belum pernah makan nasi goreng mawut.
"We call it nasi goreng mawut. Like a mix between fried rice and fried noodles. It's good. I think you'll like it." Jelas saya.
"I believe you!" kata Kano sambil mengambil piring, mengambil makanan langsung mencoba satu sendok.
"Hmm.. very good! Thanks!" Katanya sambil membawa piring penuh dengan nasi goreng menghilang kembali ke kamarnya.
Ya, siang hari ini tidak jadi makan ramen, tapi nasi goreng mawut abal-abal karangan saya. Hahahaha....