Hidung yang mampet sebelah dan sesekali menuntut untuk dikeluarkan ingusnya itu jadi isyarat untuk menunda sejenak niatku ke dapur.
Badan memang punya seribu satu macam bahasa tanpa kata untuk berkomunikasi dengan si pemiliknya.
Si pemilik yang sibuk dan terpatri rutinitas kadang bisa jadi tidak mendengarnya. Bahasa yang awalnya seperti orang memanggil di kejauhan itu jika tidak terbalas tentu akan berubah jadi teriakan, atau jadi tepukan di pundak si pemilik. Tentulah tergantung dari seberapa lekat si pemilik dengan aktifitasnya dan mungkin juga kemampuan pendengarannya.
Seorang guru pernah bercerita kisah seorang pengendara kereta yang sedang bergegas menuju tujuannya dan berpapasan dengan seorang pejalan kaki di sebuah jalanan berkelok dan naik turun. Si pejalan kaki berusaha menghentikan pengendara kereta dengan tanda-tanda dan teriakan agar si pengendara kereta tak melanjutkan perjalanannya. Namun rupanya pejalan kaki itu tak diindahkan, bahkan karena curiga dengan niat si pejalan kaki yang menghalangi niatnya ke tujuan, si pengendara kereta pun melaju lebih kencang. Si pejalan kaki yang ingin menyampaikan maksudnya itu lantas berbalik arah dan berlari mengejar sembari terus berteriak agar si penunggang kuda berhenti. Merasa terganggu dan kesal oleh teriakan si pejalan kaki, kereta pun dihentikannya, dan si pengendara yang marah itu pun turun menghampiri si pejalan kaki. Tanpa basa basi, dengan segera tinju pun melayang ke arah si pejalan kaki dan babak belurlah ia terkapar di tanah. Selesai menghentikan si pejalan kaki, kereta kembali melaju lebih kencang karena si pengendara merasa waktunya telah terbuang oleh ulah si pejalan kaki. Sambil mencambuki kudanya agar terus berlari, si pengendara yang gusar masih sesekali menengok ke belakang dan menggerutu kesal. Tak berapa jauh dari situ dilihatnya jalan yang kian menanjak, ia lalu semakin keras mencambuki kudanya agar melaju lebih kencang dari sebelumnya. Setibanya di atas terkejutlah ia melihat jalan di depannya yang telah amblas lenyap tersapu longsor dan tersisa jurang menganga tepat di depannya. Dalam kepanikan luar biasa ditariknya kuat-kuat tali kekang kuda itu agar kereta berhenti melaju. Si kuda yang tak kalah kagetnya pun meringkik panik hingga kedua kakinya terangkat naik ke udara. Kereta yang tadinya melaju kencang pun menjadi tak terkendali dan terjatuh ke dalam jurang beserta kuda dan si pengendaranya.
Cerita usai dan sang guru pun terdiam sejenak, lalu ia berkata lagi... Kita bisa jadi seperti si pengendara kereta itu, ketika sibuk menuju tujuan kita masing-masing dan hanya memikirkan apa yang mau kita capai. Si pejalan kaki adalah isyarat yang datang memperingatkan.
Sang guru kembali menambahkan, cara kerja semesta berbicara selalu bertahap seperti panggilan seseorang. Namun alih-alih mendengar dan memberi perhatian kita lebih sering acuh hingga panggilan itu berubah jadi teriakan yang makin keras dan mulai mengganggu. Obat penghilang rasa sakit bisa jadi seperti tinju yang membungkam 'suara' namun kita lalu gagal menangkap maknanya. Apakah yang hendak dikatakan, mengapa ia harus hadir dan apa sebenarnya yang ia butuhkan dari kita?
Lalu di bawah bias sinar mentari yang menembus jendela kamar, terdiamlah aku sejenak mendengarkan napasku. Kutelungkupkan badanku menghadap ke alas dan perlahan-lahan menyerah sepenuhnya pada gravitasi bumi. Aku kembali ke titik nol.
Keren... bagus postingnya Yuli... 😊🙏🏼