EAS #59 Brenti Dulu
joefelus
Tuesday July 20 2021, 10:10 PM
EAS #59 Brenti Dulu

(Repost from Ning)

Saya brenti dulu nulis cerita. Mau ngobrol masalah covid aja dulu walau kayaknya obrolan ini ga ada abis-abisnya. Tadinya sih mau nulis cerita atau apa gitu tapi mood mendadak hilang karena barusan baca berita.

 

Nah di berita yang dirilis oleh Yahoo pagi ini mengungkapkan bahwa 93 persen masyarakat yang anti vaksin, menyatakan mereka tidak akan pernah mau divaksin. 93 persen orang yang anti vaksin itu artinya ada sekitar 76 juta orang! Total polulasi di Amerika ada 331 juta, jadi yang menolak divaksin ada sekitar 22%. Nah bayangkan, artinya dari 10 orang di sekitar saya ada minimal 2 orang yang tidak divaksin! Dan dengan alasan yang mereka ungkapkan, mau tidak mau saya hanya mengelus dada dan sebel serta marah di dalam hati. Saya tidak bisa apa-apa karena mereka punya senjata yang namanya the first amendment. First amendment melarang orang membatasi kebebasan yang berkaitan dengan agama, ekspresi dan hak menyampaikan pendapat! Konstitusi mengatakaan begitu dan itu sudah final tidak dapat diganggu gugat.

 

Lalu kenapa mereka ngotot tidak mau divaksin? Ada beberapa alasan, mereka tidak percaya akan pemerintah, mereka menganggap vaksin ini masih baru dan tidak yakin akan efek samping jangka panjangnya, di samping itu juga vaksin ini memang belum disetujui oleh badan pengawasan obat-obatan dan makanan (FDA). Sebetulya memang masuk akal jika menelaah apa yang mereka jadikan alasan. Hanya saja, kelompok ini sejauh yang saya ketahui hanya menolak tanpa berusaha menyampaikan semacam solusi. Ini ya sama saja memperkeruh situasi. Well, jangankan solusi, mereka malah menolak segala macam protokol kesehatan, sebab sebagian atau seluruhnya kelompok ini mengatakan bahwa Covid adalah konsprirasi! Duh!

 

 

Nah kelompok ini juga mengatakan bahwa "badan mereka, pilihan mereka" atau our body, our choice! Memang betul juga bahwa mereka mempunyai pilihan atas badan sendiri tapi menurut saya ini sangat selfish, karena mereka sama sekali tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Masyarakat menjadi terancam keselamatannya karena 20 persen kelompok ini yang karena punya senjata "kebebasan" lalu mereka berbuat semaunya seperti menolak memakai masker, menolak menjaga jarak, menolak divaksin dan menolak segala bentuk protokol kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah. Sekali lagi senjata the first amendment ini dijadikan tameng agar mereka bisa bebas melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Runyam!

 

Di kota saya tinggal memang sudah melonggarkan protokol kesehatan. Kemarin saya melihat bahwa kasus baru melejit kembali menjadi 5%, dari 440 ribu yang di test ternyata ada 23 ribu positif! di County saya untungnya sudah 56.2% masyarakat yang sudah fully vacinated, tapi itu artinya masih ada 1 dari 2 orang yang tidak divaksin! Saya merasa belum aman! Satu hal yang membuat saya lebih tenang yaitu karena saya sudah divaksin maka kalaupun (amit-amit tapinya) saya terjangkit, minimal tidak fatal alias tidak mengancam jiwa, walau prosentase kematian masih dimungkinkan, minimal the odd masih ada dipihak saya!

 

Terus gimana dong? ya ga tau deh.. yang penting saya menjaga diri sendiri, tetap menjaga jarak, tetap memakai masker kalau ada banyak orang atau kalau ada orang mendekati, ya saya menyingkir. Satu hal lagi, masalah kesehatan adalah ranah pribadi di sini, jadi kita juga dilarang nanya apakah orang itu sudah divaksin atau belum. Repot lagi khan? ya sudah, sekarang mah saya urus urusan dan kepentingan pribadi saja. Mau gimana lagi?***

foto: kelompok Trump yang protes (by Erin Scott/Bloomberg via getty Images)

You May Also Like