Sejak awal tahun aku kembali menyukai kesenangan yang sempat aku lupakan yaitu membaca buku. Sejauh ini aku sudah menamatkan tiga buku dan sedang membaca buku yang keempat. Membaca menjadi pengganti hp saat ada waktu luang. Membaca seperti menenggelamkan diri dalam dunia buku, menjadi media refleksi baru terhadap realita. Apakah yang kulakukan hari ini sudah benar sesuai dengan jalannya?
Buku menjadi jembatan penghubung otak realitas dengan nurani dalam diri. Katalis kata orang. Aku memang senang belajar banyak hal namun lewat membaca rasanya begitu akhirnya ada yang menjadi perantara antara pikiran sadar dan bawah sadar.
Lalu apa yang berubah? Pikiran-pikiran yang selama ini ditanyakan dan dicari jawabannya nyatanya sudah ada dalam diri. Menunjuk cermin, kita yang bertanya kita yang menjawab juga. Keadaan di luar diri menang hanya sebagai variabel moderasi yang hanya dapat membuat memperkuat atau memperlemah hubungan variabel dalam diri. Hanya sebagai mempengaruh bukan sebagai sebab akibat langsung.
Lewat membaca kita membuka perspektif baru seperti melengkapi bola yang belum utuh, belum bulat sempurna. Membaca juga dapat diibaratkan membaca hal diluar tulisan. Membaca situasi misalnya, kepekaan kita terhadap kehidupan yang selama ini luput dari lapang pandang, menyadari berbagai hal baru dan menjadikannya sebagai pelajaran tambahan tanpa harus ikut serta dalam prosesnya secara langsung. Membaca prediksi apa yang dapat terjadi misalnya, kesadaran kita dalam membaca situasi tadi kemudian dapat memetakan apa saja kemungkinan-kemungkinan kedepannya sehingga kita bisa bersiap menghadapi kejadian esok. Kesiapan kita akan membuat situasi lebih tenang dan dapat berpikir secara rasional tanpa emosional. Tak lupa juga membaca kejadian dimasa lampau. Menjadikan hal yang sudah terjadi kemarin sebagai refleksi diri. Menjadi manusia yang tidak lupa bersyukur.
Selamat membaca, menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini sukar dijawab karena luput dari perhatian.