AES112 Sunk Cost
carloslos
Monday January 27 2025, 5:05 PM
AES112 Sunk Cost

Hari ini aku memutuskan untuk belajar di tempat berbeda. Kadang di rumah, kadang di taman, kadang di kafe. Tapi di mana pun aku berada, ada tiga hal yang bikin otakku sibuk berpikir. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul begitu saja, seperti puzzle kecil yang menunggu untuk diselesaikan.

Pertama, aku kepikiran tentang sunk cost. Ini adalah istilah ekonomi buat menggambarkan sesuatu yang udah kita keluarkan dan nggak bisa diambil kembali, entah waktu, uang, atau energi. Misalnya kamu beli tiket bioskop, tapi filmnya ternyata membosankan. Kalau tetap duduk nonton sampai habis, kamu jatuh ke dalam sunk cost fallacy yaitu, mempertahankan sesuatu hanya karena udah ada investasi sebelumnya.

Bayangin kamu ada di sebuah kafe, beli kopi yang ternyata nggak enak. Kamu tetap minum karena mikir “Sayang kan, udah bayar.” Padahal, berhenti minum kopi itu mungkin lebih baik buat kesehatan (dan mood). Pelajaran dari ini? Kadang lebih baik merelakan yang sudah hilang daripada terus-terusan mempertahankan hal yang nggak membawa manfaat.

Lalu aku mulai mikir soal perbedaan antara facilitate dan accommodate. Dua kata ini kelihatannya mirip, tapi punya makna yang berbeda. Kalau kamu facilitate, artinya kamu membantu proses belajar atau kerja dengan menyediakan alat, sumber daya, atau panduan. Tapi kalau kamu accommodate, itu lebih ke menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Misalnya kamu ngajak temen belajar di taman. Kalau kamu bawa buku catatan dan buat suasana yang nyaman, itu facilitate. Tapi kalau kamu rela pindah ke tempat lain karena temenmu nggak suka angin sepoi-sepoi di taman, itu accommodate. Pesannya? Bantu orang lain, tapi jangan sampai lupa kebutuhanmu sendiri.

Dan terakhir, aku kepikiran tentang peran mentor, tutor, trainer, dan coach. Apa bedanya?, kalau Mentor itu kayak temen senior yang udah punya pengalaman lebih banyak. Dia ngasih pandangan dan inspirasi, tapi nggak selalu ngajarin detail. Tutor lebih spesifik, dia ngajarin materi tertentu biasanya buat tugas atau ujian. Trainer itu fokus ke skill praktis. Kalau kamu mau belajar coding atau cara bikin latte art, kamu cari trainer. Kalau Coach di sisi lain, lebih banyak bertanya daripada ngasih jawaban. Dia bantu kamu menemukan solusi sendiri.

Bayangin kamu lagi belajar gitar. Mentor bakal cerita pengalamannya tampil di panggung, tutor ngajarin cara baca not balok, trainer ngajarin teknik strumming, dan coach bakal tanya, “Kenapa kamu mau belajar gitar?”

Tiga konsep ini mengingatkanku untuk lebih peka dalam belajar dan berinteraksi. Kadang, kita terlalu lama terjebak di sunk cost fallacy, lupa membedakan kapan harus membantu (facilitate) dan kapan harus menyesuaikan (accommodate), atau nggak tahu siapa yang kita butuhkan di perjalanan belajar antara mentor, tutor, trainer, atau coach.

Jadi kalau hari ini kalian juga bertualang belajar di rumah, taman, atau kafe ingat tiga hal ini. Karena siapa tahu, di tengah secangkir kopi atau suara burung di taman ada pelajaran kecil yang bisa bikin hidup kita lebih bermakna.