AES054 Tentang Meditasi
yulitjahyadi
Sunday October 17 2021, 10:22 PM
AES054 Tentang Meditasi

Sebuah arsip foto kenangan 4 tahun lalu membawa kembali kilasan peristiwa saat berkesempatan mendapat pengajaran tentang meditasi dari seorang swami.

Di kala itu meditasi yang jadi rutinitas baru itu seperti mengantarku ke tengah hutan belantara yang luas. Di satu sisi begitu banyak hal menakjubkan yang kutemui, di sisi lain ada ketakutan karena tempat itu terasa masih asing dan aku merasa sendirian. 

Begitu banyak persepsi yang menempel pada kata meditasi. Jangankan itu, yoga saja bisa dipandang dengan banyak cara, maka aku terdorong untuk mencari jawaban yang jadi kebenaran. Bahwa apa yang terasa benar untuk dijalani itu memang sungguh benar dan celah antara spiritualitas dan religi dapat dicari penghubungnya. 

Selama 3 hari Swami Ji mengajarkan banyak hal, mulai dari apa itu atman, karma, samsara, hingga gunas, dan praktek bermeditasi. Tentu apa yang disampaikannya itu berdasar pada pengajaran Hindu. 

Perspektif baru yang dikenalkan berkesan mendalam, terutama untuk beberapa hal. Beliau bercerita tentang Guna, bahwa segala macam hal selalu bisa dipisahkan atas 3 kualitas, sattvic, rajasic dan tamasic. Ketiga atribut itu menurut Swami Ji seperti pot putih, pot merah dan pot hitam. Hal-hal yang ada di pot putih, sifatnya sattvic yaitu kemurnian yang mendatangkan kebaikan. Sementara yang ada di pot merah memiliki kualitas rajasic yaitu semua hal yang berhubungan dengan keaktifan dan gairah atau passion. Sedangkan pot hitam berisi segala hal yang bersifat menghancurkan dan kegelapan atau tamasic

Atribut-atribut itu berlaku untuk semua hal di alam ini. Mulai dari makanan misalnya, kita bisa memisah-misahkannya apakah itu bersifat sattvic food, rajasic food atau tamasic food. Benda atau hal lain di sekitar kita, atau pengambilan keputusan atas suatu tindakan yang akan dilakukan pun bisa tergolong dalam salah satu dari ketiga guna itu. 

Menariknya, Swami Ji mengajarkan bahwa terdapat satu pot lain yaitu pot berwarna emas yang bisa kita pakai untuk mengarahkan diri saat bermeditasi, dan pot emas itu bersifat cinta kasih. Selanjutnya beliau bercerita tentang Dewa Krishna, sosok yang melambangkan cinta.

Dalam keyakinan Hindu, Krishna adalah Dewa yang melindungi. Krishna juga Dewa yang membawa kebahagian (bliss). Krishna adalah keindahan tertinggi dan kebahagiaan hidup. Simbol kemegahan, keindahan dan kebahagiaan, yang mengajarkan tentang kesatuan dengan Tuhan. Bahwa manusia memiliki dharma yang harus dilakukan tanpa terikat oleh hasil melainkan mempersembahkan jerih payah itu untuk kemuliaan Tuhan. Dengan cara manusia terlepas dari ego dan dapat menjalani hidup dalam kebahagiaan. Krishna juga guru yang mengajarkan tentang kesadaran dengan huruf C besar. Bahwa jika manusia berada pada tingkat kesadaran tertinggi maka ia bisa melampaui pikiran dan egonya untuk hidup dalam keadaan kesadaran yang bahagia. Hal terakhir adalah bahwa Krishna adalah Cinta itu sendiri. 

Bagian tentang cinta kasih ini rasanya sungguh mencerahkan. Patah sudah seluruh keraguan karena jawaban sudah ditemukan. Bahkan lebih jauh Swami Ji menambahkan, 'Kamu boleh mengambil sosok lain untuk ditempatkan dalam posisi itu, dan tidak harus Krishna' Kalimat itu langsung membawa kelegaan sekaligus keyakinan. 

Love.. ya cinta lah yang menjadi dasar dari segalanya. Maka lalu langkahku pun terasa lebih ringan dan celah yang kucari jawabannya itu justru merekatkan bahkan saling mengokohkan.

Tentu mudah bagiku untuk menggantikan Krishna dengan keyakinan imanku dan justru semakin terasa kedekatan dan kesamaannya dengan apa yang dijalani oleh kaum biarawan biarawati.

Dalam buku Sadhana karya Pastor Anthony de Mello yang berisi latihan-latihan hening, dikisahkan di bagian pendahuluannya tentang seorang Yesuit yang mendapatkan pengarahan dalam hal doa dari seorang Guru Hindu. Melalui teknik yang diajarkan Guru itu akhirnya ia pun mengalami pendalaman dalam hal berdoa dan mengalami kepuasan serupa santapan rohani yang belum pernah diperolehnya selama bertahun-tahun berdoa. 

Seolah menggenapi semuanya itu, beberapa bulan lalu, (lagi-lagi terima kasih pada pandemi), melalui kelas online aku bisa belajar tentang meditasi melalui pandangan kristiani. Dalam Meditasi Kristiani dijelaskan bahwa meditasi adalah seperti proses jalan salib, jalan menuju kesadaran yang tidak mudah, namun membawa diri pada jati diri yang murni agar semakin serupa dengan citraNya.

And it will turn passion into compassion. 

Sungguh menyenangkan dan begitu indah, mungkin juga tulisan malam ini buntut dari kisah Dira Sugandi tentang transformasi dirinya. Terlalu indah untuk tidak dibagikan. 

May all beings be happy and free ❤🙏🏼

Namaste, God bless

dan lagi-lagi 22.22