AES 66 Music My Music
joefelus
Tuesday July 27 2021, 2:09 AM
AES 66 Music My Music

Photo: neuroscience news.com

Lagi lagi ngobrol soal musik. Belum lama saya baca essaynya bang Ahkam yang bilang bahwa musik bisa sebagai terapi. Jika sedang marah maka musik yang bergetar dasyat berdarah-darah bisa dijadikan terapi. Ini tulisan yang asyik, jadi saya juga mau ikutan!

 

Dulu saya pernah mengungkapkan bahwa musik bagi saya seperti perekat. Musik seringkali diidentikkan dengan suatu pengalaman dan peristiwa di masa lalu. Jadi misalnya kalau saya mendengar lagunya Led Zeppelin, Stairway to Heaven, saya jadi ingat suatu tempat dengan tangga tangga turun yang terjal menuju pantai dengan air laut yang sangat biru dan indah. Saya tidak tahu mengapa, padahal di Hawaii ada tempat lain untuk hiking yang mempunyai nama Stairway To Heaven, di sana ada 3922 anak tangga tapi sejak tahun 2002 ditutup karena sangat berbahaya, sekarang seringkali di jaga polisi karena banyak yang bandel tetap hiking di sana. Jika tertangkap, maka akan didenda $1000!

 

Music is magical! percaya atau tidak silahkan coba sendiri. Musik bisa menjadi pengatar meditasi misalnya. Dulu ketika saya masih menjadi guru, saya sering menggunakan musik sebagai latar belakang dalam proses refleksi anak-anak ketika mengikuti acara rekoleksi atau retret. Contoh kecil, ketika seseorang masuk kedalam permenungan tentang kematian, misalnya, pada saat yang sama mendengar musik Amazing Grace dengan bunyi terompet yang menjerit-jerit, sontak intensitas permenungan itu mengerucut dan menyentuh titik-titik sensitifitas yang paling halus. Saya tidak bisa menjelaskannya secara saintifik karena ini bukan bidang yang saya dalami, tapi musik membuktikan mempunyai peran yang sangat esensial dalam proses permenungan ini.

 

Ada sebuah penelitian di Universitas di Florida yang dilakukan oleh neuroscientist yang membahas mengenai Music and the Brain, mengatakan bahwa Musik mempunyai dampak pada fungsi otak dan tingkah laku manusia termasuk diantaranya, mengurangi stress, rasa sakit dan gelaja-gejala depresi. Disamping itu musik juga meningkatkan sektor kognitif dan ketrampilan motorik, juga spatial-temporal learning dan neurogenesis yang merupakan kemampuan otak dalam memproduksi neuron.

 

Saya tidak mau dan tidak mampu membahas soal musik ini dengan kerja otak secara ilmiah. Ga ngerti, terus terang saja. Yang ingin saya bagikan adalah bahwa musik tanpa sadar telah menjadi sentral dalam kehidupan sehari-hari. Kalau suara saja sudah sangat esensial dalam banyak hal apa lagi musik? Betul khan? sebuah contoh sepele. Tablet mempunyai fungsi sebagai notepad dengan menggunakan stylus, yang terbaru malah menciptakan efek bunyi seperti kalau kita menggoreskan pensil di atas buku atau kertas. Mengapa? sepertinya karena suara sangat penting untuk kita. Padahal apa sih gunanya? saya yakin ada efeknya untuk konsumsi baterai. Ya khan? Pernahkah anda diam di suatu tempat yang benar benar tanpa suara? saya pernah sekali mencoba dan jujur saya tidak tahan. Hanya dalam beberapa menit saya berhenti. Kenapa? Entahlah, saya malah merasa suara yang lain bermunculan dengan lebih dahsyat! Suara pikiran, suara detak jantung, suara yang ada di dalam diri seolah-olah membeludak ke luar tanpa bisa terbendung akhirnya saya menyerah karena itu semua memberikan sensasi yang mengerikan!

 

Baiklah, saya mau kembali ke musik saja hahaha... Salah satu kekhasan musik adalah segi estetiknya yang tidak dapat disangkal lagi secara atributif memberikan kenikmatan, pleasure. Nah kenikmatan ini melekat pada peristiwa yang sedang dijalani lalu menciptakan memory yang kemudian bisa di-retrieved kemudian hari. Nah , sepertinya ini yang tadi di awal diungkapkan, mengapa musik dalam kehidupan saya ini selalu menjadi perekat dalam perjalanan pengalaman hidup. Misalnya lagu Sheryl Crow tahun 90-an All I Wanna Do, itu buat saya punya arti sendiri juga yaitu persis ketika mendengarkan lagu ini saya sedang nyupir di Santa Monica Boulevard, jadi pas banget, cuma bedanya kalau di lagu dibilang until the sun comes up over Santa Monica Boulevard, saya saat itu menjelang sunset hahaha.. Nah dari sana dalam perjalanan kembali ke LA bisa melewati sebuah sekolah yang ada di sebelah kanan jalan yang dijadikan tempat shooting film Grease! itu di daerah yang berdekatan dengan Venice beach.

 

Ya jadi begitulah. Semakin banyak lagu yang saya dengar, semakin banyak saya bisa menunjukkan peristiwa apa saja yang melekat dengan lagu itu. Contoh lagi, saya pernah menulis di salah satu blog yang bercerita bahwa lagunya Matt Bianco mengingatkan saya pada saat berlutut sedang mengepel lorong di Biara. Mungkin teman-teman di Biara yang lain ingatnya lagu gregorian atau nada-dana yang didaraskan ketika membaca Mazmur dari buku brevier, kalau saya karena mungkin memang murtad (hihihi), jadinya lagu Matt Bianco, pemusik latin-jazz asal Inggris. Satu hal yang harus saya wanti-wanti adalah saya harus teliti dalam memilih lagu, karena saya tidak mau lagu dangdut soal janda 7 kali menghiasi memory saya pada peristiwa indah! Nah ini bahaya, bukan diskriminasi loh dangdutnya sih oke, tapi saya tidak suka tema-tema liriknya yang terlalu seronok hahahahaha..***