Those days we gave our all
Unaffected
I bravely faced the fall
No reflection
Freak armies of the night
Misdirected
I fought the useless fight
Unprotected
Don't cry for me
Time is the enemy
Soon I'll be free
I surrender
Itu adalah lagu dari Toto, entah tahun berapa. Buat saya biasa-biasa saja, hanya saja kebetulan syairnya agak memper-memper sedikit dengan pikiran saya hari ini, yaitu tentang perasaan dikejar-kejar oleh waktu.
Tadi siang sesudah mengantar Kano ke tempat kerja, Nina dan saya mampir sebentar ke pinggir kota dan menikmati sebuah danau. Hanya iseng untuk melepas lelah karena terus terang bosan di rumah atau di kampus terus menerus. Sesudah itu kami mampir di sebuah restoran Thailand untuk makan siang sebelum pulang dan mulai membereskan rumah.
Target hari ini adalah men-tackle ruang atas. Sesudah lebih dari 7 tahun, kami memiliki terlalu banyak pakaian. Bayangkan saja, saya datang hanya dengan 2 koper yang penuh dengan pakaian, sekarang mungkin dengan buku dan sebagainya saya akan butuh belasan doos besar. Itu sangat tidak realistis ketika nanti kami akan pindah, jadi mulai sekarang setiap ada kesempatan kami akan mensortir semua pakaian dan barang-barang. Yang tidak akan kami pergunakan lagi, masuk doos donasi untuk mereka yang membutuhkan. Saya harus merelakan belasan celana panjang yang beberapa malah baru saya pakai sekian kali saja untuk didonasikan karena, hehehe.. tidak muat lagi! Entah bentuk tubuh mungkin sudah tidak karuan, sehingga walau bobot tubuh turun tapi lingkaran badan membesar hahahaha... Ada sekitar 5 hingga 6 kantong berisi pakaian yang harus kami relakan untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Beberapa lainnya yang akan disimpan tapi tidak dipergunakan saya masukkan kotak yang nanti akan saya siapkan doos untuk dikirim ke tempat baru.
Sambil berbenah, saya mulai meras sedih. Jika seminggu sekali saya melakukan bersih-bersih seperti ini, ada berapa kali lagi yang tersisa? Nah kenyataan ini begitu menyesakkan. Entah mengapa, petualangan saya waktu di Hawaii, sangat berbeda dengan kali ini. Dulu saya sama sekali tidak sabar untuk segera usai, sekarang saya ingin waktu berhenti dan tidak bergerak sama sekali karena saya tidak mau ini segera berakhir. Pernahkah teman-teman merasa menjadi budak waktu? Atau merasa begitu rapuh karena waktu terus menerus mengkonsumsi pikiran dan perasaan sehingga kita menjadi begitu vulnerable dan tidak mampu untuk bertahan? Nah itu yang saya rasakan sore ini. Membuang atau mendonasikan benda-benda yang pernah menemani hari-hari saya seolah-olah seperti simbol untuk melepaskan keterikatan dengan pengalaman-pengalaman yang sangat luar biasa di tempat ini.
"Change is the essence of Life." Kata dokter Donald Mallard dari salah satu episode di film kegemaran saya: NCIS.
Ya, saya setuju, perubahan adalah intisari dari kehidupan. Seperti yang saya ungkap dalam beberapa esai terdahulu, saya pernah mengutip suatu ungkapan yang mengatakan bahwa suatu yang konstan dalam semesta ini adalah perubahan. Jika kita tidak berubah, maka kita tidak hidup, mungkin itu esensinya. Nah, kenapa saya merasa sedih karena akan ada sebuah perubaan yang sangat luar biasa di saat-saat mendatang? Jika saya menolak perubahan itu, maka saya menolak hidup. Jika saya ingin hidup, maka harus bisa menerima perubahan. Bicara sangat mudah bukan? Berteori memang sering tidak memikirkan konsekuensi seperti menghadapinya dalam kenyataan. Pada kenyataannya, hidup itu tidak mudah karena kita selalu harus bergumul dengan segala bentuk perubahan. Itu yang memang membuat kita matang dan dewasa dan dapat menikmati dan menjalani hidup yang penuh. Hanya saja, dalam hidup kita mempunyai preferensi. Orang cenderung memilih mana yang lebih disukai dan tidak mau melepaskannya, bukan berarti menolak perubahan tapi memang kita cenderung mengikatkan diri pada hal-hal yang kita sukai. Itu yang sedang saya alami sekarang. Tidak mudah!
Tapi satu hal yang menghibur, hidup kita bisa saja berakhir secara fisik, ketika kita tiba di batas akhir, tubuh akan melebur dengans emesta tapi kita akan tetap hidup sebab kita masih memiliki cerita. Nah hidup kita ini akan benar-benar berakhir jika sebaga bentuk petualangan yang kita miliki berhenti diceritakan. Seperti peribahasa, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, tapi manusia mati meninggalkan nama. Buat saya itu tidak cukup, saya ingin tidak hanya meninggalkan nama tapi juga meninggalkan cerita. Karena menurut saya kehidupan baru akan berhenti ketika cerita-cerita miliki saya berhenti diceritakan. Nah kalau sudah begini, waktu bukan menjadi musuh lagi, dan saya juga tidak berlomba dengan waktu. Sebab cerita itu menjadi sesuatu yang abadi, selama terus-menerus diceritakan.
Foto credit: linkedin.com