Sebuah konsep yang aku ketahui sejak lama, yakni menyebut bahwa anak sejatinya hanyalah titipan, baru terasa benar adanya ketika aku mengalami secara 'lugas' dalam satu peristiwa besar. Disaat aku betul-betul menyerahkan segala bentuk kepasrahan dengan berkeyakinan pada-Nya sehingga aku memperoleh ketenangan; kala itu aku melepas sekaligus menanti ia yang sedang melakukan perjalanan besar.
Selama lima hari berada jauh darinya, kucoba membawa rasa khawatir itu ke dalam rapal-rapal doa. Percaya bahwa setiap istighfar mampu mengantarkan pesan positif ke dalam diri dan hilangkan was-was. Setidaknya cukup menjadi bekal untuk bersabar menunggu satu kali kesempatan berkontak lewat pesan suara.
Jujur, kala itu aku seperti menemukan 'pemahaman baru' tentang fungsi-ku sebagai orangtua. Dan kusadari juga, cepat atau lambat, anak-anak akan menjalani kehidupan dalam waktunya masing-masing. Aku, Ibunya, tentu ingin selalu memastikan ia terjaga (baik dalam dekap maupun amatan - disisiku). Namun ketika ia berada jauh dari jangkauan, yang bisa kuraih hanya mengembalikan penjagaan seutuhnya pada Sang Pemilik jiwa. Doa inilah yang paling dibutuhkan anakku sebagai benteng penjagaan terkuat dari sisiNya.
Dan hal yang paling mendasar untuk kubawa serta di lubuk terdalam adalah merenungi kembali makna dari sebuah doa yang didalamnya termaktub 'hanya Dia yang mampu membolak-balik hati'. Sebab, manusia hanyalah manusia, yang tak pernah bisa mengontrol apapun bahkan hatinya sendiri. Maka jelas, di masa penantian kembalinya si pelaku perjalanan besar, banyak sekali faidah yang aku dapat diantaranya adalah tentang ikhlas dan ridho.
Lucunya, salah satu kelompok perjalanan memilih nama kelompoknya dengan kata tersebut. Kata yang bagiku bukan sekedar kata, tetapi menunjukkan hakikat kebeningan hati yang sebenarnya, yang melakukan sebuah tindakan baik tanpa pamrih, tanpa merasa perlu dinilai oleh oranglain. Ikhlas ini, jika ditarik pada keadaanku saat itu tentu sangat melekat dengan ke-ridho-an.
Pada tingkatannya, jika berserah saja dicapai setelah segala bentuk laku dilakukan kemudian membuahkan sabar. Tentu setelahnya, ada ke-ridho-an yang dengannya kesadaran menyertai; bahwa apapun yang terjadi adalah bentuk sunnatullah, yang perlu disikapi dengan penuh yakin bahwa itulah sebaik-baik keadaan. Sehingga, mana kala aku gak lagi bisa meraih wujudnya secara fisik, ranah prasangka terbaiknya adalah percaya semua telah diatur dalam takaran paling sempurna.
Di akhir penantian, aku belajar untuk gak -rewel- dan terlalu mementingkan serta memaksakan baik-tepat-nya sebuah harap. Sebab pengharapan paling benar adalah ketika satu-satunya rasa khawatir bisa terlepas dari jiwa. Pun ketenangan hadir seperti hangat pagi yang damai.