Berani terbuka dengan orang lain. Rasanya kita sering mendengarkan kata-kata itu, rasanya hal itu yang selalu diangkat terutama dalam kegiatan kelompok, tapi nyatanya susah untuk dilakukan. Mungkin kita juga sering memberitahu yang lain tentang pentingnya terbuka, tapi sulit juga menerapkannya bila kita sendiri yang ada di posisi tersebut.
Beberapa waktu lalu, aku berhasil memberanikan diriku untuk terbuka. Terbuka dengan ketidaknyamananku, terbuka tentang sesuatu yang tidak aku sukai dan terbuka mengenai hal lainnya. Memang rasanya sulit sekali, karena setiap kali akan mengatakan hal itu, aku langsung overthinking. Kira-kira ia akan sakit hati ga ya kalau aku ngomong gitu? Aku perlu banget ga ya ngomong ini? Dan hasil dari overthinking itu, adalah AKU TIDAK AKAN MEMBICARAKAN HAL ITU PADA SIAPAPUN. Selalu begitu. Entah kenapa, seringkali aku merasa menyimpan hal itu sendiri, jauh lebih baik, walaupun nantinya aku yang akan merasa tidak nyaman dan lain sebagaina. Ibaratnya menjadi keset bagi orang lain. Kita rela mengorbankan iri kita demi kenyamanan dan kebersihan orang lain, dimana mereka tidak memikirkan kita sedikitpun.
Namun, setelah 1 kali aku mendobrak pintu itu, rasanya tidak begitu sulit lagi bagiku untuk lebih berani terbuka dengan orang lain. Walaupun masih perlu nyali yang cukup besar, tapi tidak semenakutkan sebelumnya. Kalau tidak berani mengatakan apa yang aku pikirkan dan rasanya, ternyata malah merusak sebuah hubungan loh. Awalnya aku pikir dengan memendamnya sendiri akan lebih baik, tapi ternyata tidak. Yang ada dendam terus menumpuk dan tidak sehat juga untuk kesehatan fisik maupun mental kita .
Sekalinya berani mengungkapkan, biasanya aku akan muter-muter dulu, tidak langsung ke inti permasalahannya, yang itu juga malah menghasilkan masalah baru, yang diajak berbicara tidak mengerti inti masalah, aku juga akan jadi semakin kesal, kenapa sih dia ga nangkep inti pembicaraannya.
Memang sulit untuk bisa terbuka, apalagi di lingkungan yang mungkin tidak dekat atau tidak mendukung. Dulu, sebelum aku berani berbicara kepada orang lain, aku menuliskan apa yang aku pikirkan di sebuah jurnal. Jurnal yang menjadi media untuk aku mengeluarkan emosi dan apa yang aku pikirkan, tapi aku merasa itu tidak efektif. Karena jurnal itu hanya 1 arah, hanya aku yang menulis dan jurnal itu tidak bisa merespon apa2. Kemudian aku mencoba untuk mulai terbuka, mulai dari orang terdekat, misalnya orang tua atau keluarga. Aku mulai berani terbuka dan itu membantuku. Aku merasa mendapat masukan dari orang lain, dalam hal ini pembicaraan 2 arah, aku merasa lebih nyaman dan lebih siap untuk menjalani langkah selanjutnya. Meskipun begitu, apabila aku ingin bercerita saja, selain di jurnal, aku juga merasa nyaman berbicara dengan orang tuaku, dengan catatan aku selalu bilang "kali ini aku hanya ingin didengarkan" dan aku merasa aman bercerita.
Mungkin setiap orang berbeda, tapi aku harap, tips yang aku berikan bisa bermanfaat, jangan lagi memendam masalah, emosi atau pemikiranmu. Coba tuangkan ke media lain atau orang lain. Aku pun awalnya sulit untuk menemukan orang yang dipercaya, namun seiring berjalannya waktu,cobalah temukan seseorang yang sangat kamu percaya untuk diajak diskusi dan bercerita. Jangan lagi menjadi keset bagi orang lain, hanya mencoba menyenangkan oranglain, dan mengorbankan dirinya. Kamu berhak untuk menyampaikan aspirasimu dan ceritamu kepada dunia 