" Itu makanan apa sih?" Tanya saya kepada ayah dulu ketika masih kecil menyaksikan sebuah iklan di TV. Saya tidak ingat itu iklan apa, yang berperan beberapa orang cowboy yang sedang memasak di atas api unggun dengan sebuah panci berawarna hitam. Lalu salah seorang menyendok makanan dari panci hitam itu ke sebuah piring aluminium. Lalu mengambil sepotong daging besar dan dipotong dengan pisau belati. Wah kelihatan enak sekali.
"Itu makanan cowboy!" kata ayah saya.
Jawaban itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Saat itu yang saya tahu Cowboy adalah sekelompok orang yang berpakaian aneh dengan celana kulit berumbai-rumbai, memakai rompi, topi, membawa pistol dan menjaga ternak. Makanan mereka saya tidak tahu, yang jelas steak, daging yang dibakar lalu entah seperti sayuran kental yang ada kacangnya. Penasaran? Iya! Ingin mencoba? Iya! Tapi saya tidak tahu apa itu.
Kemarin malam, sesudah selesai menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan disajikan untuk acara kumpul-kumpul hari ini. Saya bersama seorang sahabat pergi makan malam. Yang kami pilih adalah Texas Road House. Ini adalah rumah makan steak ala cowboy.
"Mas, ingat iklan jaman dulu engga? cowboy yang makan chili dan steak?" tanya saya sambil menyuap sesedok chili.
"Hahaha iya! Yang pakai api unggun itu, khan? Kata sahabat saya ini.
Kami tertawa-tawa mengenang masa lalu. Kami berdua memang hampir seumur, jadi memang yang kami tonton di televisi jaman itu ya sama. Saat itu hanya ada 1 stasiun TV yaitu TVRI.
Chili yang saya nikmati untuk makan malam ini memang enak sekali. Daging cincangnya empuk dan lembut, dengan sejenis kacang merah yang dimasak dengan pasta tomat dan bumbu chili yang terdiri dari bubuk cabe cayenne, oregano, paprika, jintan dan bawang putih. Kemudian disajikan dengan parutan keju cheddar yang meleleh ketika terkena panas dan rajangan bawang merah. Steak ribeye yang tersaji saya minta dimasak medium rare, jadi masih ada warna merah di tengah dan warna pink di dekat permukaan daging. Ini potongan daging yang paling saya gemari karena mengandung lemak yang seimbang dengan keempukan daging yang luar biasa. Saya merasa seperti cowboy yang ada di iklan itu! Persis yang mereka makan yang saya tonton dulu dengan yang sedang saya nikmati. Mimpi masa kecil saya lunas dan terwujud! hahahaha..
Hidup di rantau memang memberikan kesempatan yang sangat luas untuk berpetualang dalam hal makanan. Beruntung saya berada di negara yang dibentuk oleh para imigran dari segala penjuru dunia. Bukan hal yang aneh saya berada di satu tempat tapi dapat mendengarkan sekian banyak orang yang menggunakan bahasa yang berbeda-beda! Di Bandung paling banter pada saat yang sama saya mendengarkan orang berbahasa Sunda, bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Sering juga jika sedang makan di warung nasi kapau saya mendengar orang menggunakan bahasa Padang, tapi masih bisa dimengerti karena hampir seperti bahasa Indonesia. Di sini, saya tidak bisa mengerti apa-apa kecuali jika menggunakan bahasa Inggris! Di kompleks saya tinggal saja banyak orang dari timur tegah, orang India, orang Mexico dan orang dari Eropa yang bahasanya tidak saya mengerti. Nah tidak hanya bahasa, tapi mereka yang memiliki bahasa yang berbeda artinya juga mempunyai makanan berbeda juga bukan?
"Oh my God! this peanut sauce is extraordinary! It is very good. Did you cook this, Jo?" Tanya Brent, seorang rekan kerja yang kami undang di acara kumpul-kumpul hari ini. Saya membuat sate lengkap dengan bumbu kacang, acar dan nasi putih. Di samping itu, saya juga membuat Kalbi ala Korea, salad kentang, dan bayam gaya Korea. Di meja ada makanan dari 3 negara: Indonesia, Korea dan Amerika. Garret dan teman wanitanya membawa charcuterie atau cheese and meat board yang isinya beberapa jenis keju seperti brie, cheddar, dan beberapa jenis keju lainnya, daging-daging yang diawetkan seperti salami, pepperoni, prosciutto, lalu ada crackers dan buah buahan seperti raspberry dan blackberry. Nah acara kumpul-kumpul ini menjadi petualangan kuliner bukan? Brent, George, Sam, Garrett dan teman wanitanya belum pernah seumur hidup merasakan sate dan saya begitu senang menyaksikan mereka makan dengan lahap sambil terkagum-kagum.
"You all can take some home!" Kata mas Aris sahabat saya yang berasal dari kota Pati, Jawa Tengah. Sahabat saya ini adalah general manager di salah satu dining center tempat saya bekerja. Kami berdua memang tukang makan dan tukang pesta mengundang teman-teman sambil memperkenalkan makanan gaya Indonesia. Saya yang juga sangat gemar memasak, tidak pernah menolak ketika diajak untuk melakukan kegiatan semacam ini. Kalau dihitung-hitung saya sudah membuat sate lebih dari 1000 tusuk selama tinggal di sini. Saya juga sudah pernah membuat sate di berbagai tempat, di Honolulu sudah pasti karena saya tinggal di sana lebih dari 10 tahun. Saya pernah juga membuat sate di California, di kota Carmel dan Monterey. Pernah juga membuat sate di Cape Cod, Massachusetts. Entah sudah berapa ribu tusuk yang pernah saya buat jika semuanya dihitung hahhaha...
Tinggal di rantau yang penuh dengan imigran memang menawarkan banyak kesempatan untuk mencicipi berbagai jenis makanan dari berbagai daerah. Salah seorang teman saya sedang berlibur ke Spanyol saat ini. Dia banyak bercerita tentang makanan di sana, salah satunya Paella. Saya tahu itu, pernah makan dan bahkan pernah membuat sendiri. Asal Paella dari kota Valencia. Sajian nasi dengan berbagai macam protein maupun makanan laut. Yang original biasanya berwarna kuning karena dimasak dengan saffron. Tapi ada juga yang hitam karena menggunakan tinta dari cumi-cumi.
Saya merasa kaya dengan pengalaman kuliner karena mengenal berbagai jenis makanan khas dari banyak negara dari 5 benua. Dari berbagai negara Asia, Pasifik, Eropa bahkan Afrika sudah banyak saya cicipi. Ada hal yang menarik dari pengalaman-pengalaman itu. Seperti bagaimana kita mengapresiasi kesehatan ketika sedang sakit, demikian juga saya rasakan dengan makanan. Semakin banyak saya merasakan makanan manca negara, semakin tinggi apresiasi saya terhadap makanan tanah air! Terbalik bukan? Coba bayangkan saja. Ketika di tanah air, masyarakat begitu mengagung-agungkan makanan "luar" seperti burger, spaghetti, steak dan sebagainya, sementara saya yang di rantau begitu bangga akan sate, tempe bahkan bala-bala! Hahahaha...
Satu lagi yang saya nikmati karena kebetulan saya senang dan hobby bermain di dapur, yaitu mempelajari bagaimana membuat makanan-makanan dari berbagai tempat. Saya suka sekali membuat makanan Jepang, Korea, Vietnam, hingga Filipina dan India. Makan Italia, walau saya tidak terlalu menggemari pasta, juga sering saya buat karena Kano sangat menyukai blackened chicken dengan blue cheese alfredo yang disajikan bersama pasta fettucine, sementara Nina lebih suka yang tidak terlalu creamy dan lebih menggemari pasta yang menggunakan marinara. Kano juga suka chicken marsala. Ini fillet ayam yang dimasak dengan krim dan anggur marsala lalu disajikan juga dengan pasta. Ya saya buat saja karena saya gemar memasak, untuk makannya ya saya lebih memilih nasi padang atau gudeg Jogya hahahaha.... Suka Chana Masala, Tika masala atau Aloo Gobi? Nah itu adalah jenis makanan India yang sering saya buat. Semua itu akhirnya saya pelajari karena pernah merasakan ketika berteman dengan banyak orang dari negara-negara itu. Saya belajar membuat masakan Thailand dari teman yang orang Thailand, belajar membuat adobo dari teman saya yang dari Manila, belajar membuat sushi dari teman saya dari Tokyo dan Osaka. Hoa, teman saya dari Vietnam pernah mengajari saya bagaimana membuat springroll. Nah lebih seru lagi sekarang karena saya bekerja sebagai staff yang berkecimpung dengan menu development di dining center di universitas sini. Menu tentunya berkaitan dengan makanan dan resep bukan? Jumlahnya ada ribuan! Bagaimana saya tidak kaya coba? hahaha.. Ya memang seru. Hobby saya sangat cocok dengan jenis pekerjaan-pekerjaan yang selama ini saya geluti selama bertahun-tahun di rantau!