Soal berpikir kritis, yang paling mendasar adalah kepekaan terhadap momen kritis. Sense of critical yang menjadi matriks bagi critical thinking ini dapat dilatih dengan banyak metoda, salah satu yang paling efektif adalah pengalaman langsung.
Tidak perlu pengalaman hebat, malahan perlu yang biasa saja yang penting beragam. Bukan banyak, beragam. Mengalami langsung beragam pengalaman ekuivalen dengan belajar banyak perspektif. Melampaui sekadar mengetahui, belajar adalah mengalami langsung tanpa benteng apriori.
Sense yang tumbuh kemudian setelah proses re-konstruksi (kons-dekons-rekons) inilah yang mengaktifkan kemampuan berpikir kritis. Yaitu keterampilan untuk mem-verify and clarify. Sehingga speak up yang dilakukan berkarakter cross check, because have something to say bukan because have to say something.
Untuk saat ini, cara untuk mengukur kesesuaian berpikir kritis dengan menggunakan literasi digital. Jadikanlah literasi digital sebagai meteran, bukan pencapaian.
Coba lihat yang kita miliki. Perangkat esensial sense of critical, instrumen canggih critical thinking, dan pencapaian sederhana ketentraman jiwa. Kalau berpikir kritis malah menggelisahkan diri dan menggusarkan orang lain, bisa jadi perangkatnya belum ada dan/atau pencapaiannya kecanggihan. Bisa juga karena terobsesi meteran.