AES 326 You Look Good!
joefelus
Thursday April 14 2022, 1:04 AM
AES 326 You Look Good!

Esai saya hari ini dimulai dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan pertama: Berapa kali kita mengucapkan "terima kasih" hari ini?

Kehidupan kita mungkin lebih bisa dianggap sebagai kehidupan kolektif, terutama di Indonesia yang sejak jaman dulu, bahkan sejak saya kecil selalu digembar-gemborkan dengan istilah gotong royong. Aktifitas masyarakat di lingkungan tempat tinggal juga banyak dikenal dengan rukun tetangga (RT), rukun warga (RW). Pernahkah terlintas bahwa kita menggunakan kata "rukun"? Kalau saya contek dari Kamus besar bahasa Indonesia:

rukun2/ru·kun/a1 baik dan damai; tidak bertengkar (tentang pertalian persahabatan dan sebagainya): “Ibu berharap kamu berdua dapat hidup – “;2 bersatu hati; bersepakat: penduduk kampung ini -- sekali;

-- kampung rukun warga;
-- tani perkumpulan kaum tani;
-- tetangga perkumpulan antara orang yang bertetangga;
-- warga perkumpulan antara kampung yang berdekatan (bertetangga) dalam suatu kelurahan;

Nah, jelas sekali di sana tersurat bahwa rukun erat artinya dengan hubungan antar manusia di lingkungan kita berada. Kita hidup bersama dengan orang lain, kolektif, tidak sendiri-sendiri.

Saya sekarang masih tinggal di rantau yang dipercaya sebagai tempat yang lebih menekankan individualistik. Kalau saya kutip dari salah satu tulisan Kira M. Newman: How Cultural Differences Shape Your Gratitude, beliau katakan bahwa Amerika cenderung sangat individualistis, bertolak belakang dengan budaya kolektif yang lebih menekankan pada kelompok sosial. Sangat berbeda dengan 85% penduduk dunia yang menurut penelitian lebih menekankan kolektifitas. Ini membuat budaya jauh berbeda dengan sebagian besar budaya dunia lainnya. Anehnya, saya justru menguncapkan kata terima kasih jauh lebih banyak daripada ketika saya hidup di lingkungan budaya kolektif. Sangat ironis bukan? Apalagi jika basis kehidupan kita sangat tergantung pada kehidupan kolektif, sementara apresiasi kita satu sama lain sepertinya sangat minim. Coba hitung, berapa kali kita berterima kasih pada orang lain. Banyak hal yang kita bisa berterima kasih. Mulai dengan berterima kasih pada Pencipta, misalnya. Berterima kasih pada napas yang diberikan, hari baru, kicau burung, sinar matahari, pepohonan yang memberikan kita oksigen, dan sebagainya. Berterima kasih pada tukang sampah yang membuat rumah kita selalu bersih, berterima kasih pada satpam yang menjaga keamanan kompleks kita tinggal, ada milyaran hal yang membuat kita selalu berterima kasih.

Menurut Kira M. Newman, jika kita ingin lebih berbahagia, sebaiknya kita mempraktikan kebiasaan berterima kasih. Kata Robert Emmons dalam bukunya Thanks: “Gratitude is literally one of the few things that can measurably change people’s lives,” Penelitiannya menyimpulkan bahwa perasaan berterima kasih dapat meningkatkan kesehatan dan relasi kita dengan orang lain. Yang memberi dapat menikmati apresiasi yang diberikan pada orang lain, yang menerima akan merasa dipenuhi dengan perasaan "gratitude" sekaligus memotivasi untuk lebih baik dalam menjalani hidup. Relasi semakin baik dan kehidupan kita semakin membaik juga, hanya dengan memberi dan menerima apresiasi sederhana.

Pertanyaan kedua: Berapa kali kita memberikan apresiasi pada orang lain dalam 1 hari?

Berterima kasih arinya kita menerima "kasih" dari luar, tapi berapa kali kita memberi "kasih"? Kita hidup secara kolektif tidak bisa hanya menerima, tapi juga harus memberi. Ini merupakan fondasi dari hubungan sosial yang secara kolektif kita saling berinteraksi, berhubungan, saling memberi dan menerima, saling bergantung satu sama lain, bukan begitu? Jika tinggal di tempat yang individualistis lalu lebih sering memberi dan menerima "kasih", saya jadi melihat ada sebuah kejanggalan di sini. Tapi jawabannya mungkin dari kebiasaan lokal, dari budaya, dari kebiasaan "merendah" untuk menghindari "membanggakan diri". Mungkin juga. Dulu saya menulis skripsi dan dibantai oleh dosen saya karena dia merasa tersinggung. Saya bilang merendah, rendah hati berbeda dengan rendah diri! Dosen itu memang agak koplak! hahaha... Oke, boleh kita rendah hati, bagus malah, tapi menerima kasih itu juga sesuatu yang indah. "Thank you! I appreciate it. I just try to do my job!" Nah itu yang saya ucapkan jika dipuji orang soal pekerjaan. Saya berterimakasih tapi juga ditambah dengan merendah "I just try to do my job." Aman bukan?

Kemarin di ruang dokter saya bertanya, sesudah disuntik steroid, apakah saya boleh tetap berolahraga. Beliau berkata," Go ahead, you can do anything you want. How many time do you excercise a week?" "I do 5 times a week and about 3 times swimming." jawab saya. "Wow! you exercise more than I do. You look good!" Ungkapnya. "Thank you! I just try to be healthy." Jawab saya. Mbak dokter mengapresiasi kerja keras saya untuk menjaga kesehatan, dan saya terima dengan senang hati, ada rasa puas bahwa seseorang yang saya tidak kenal mengungkapkan suatu yang positif yang memberikan saya motivasi untuk terus berusaha.

Tubuh manusia adalah sesuatu yang menakjubkan. Perhatikan apa yang kita lakukan setiap hari, bernapas, berjalan, menikmati makanan, dan sebagainya, kita melakukan segala sesuatu agar tetap sehat, dan banyak lagi. Kapan kita secara sungguh-sungguh mengapresiasi tubuh kita sendiri? Hahaha... sangat sederhana bukan? Kita mulai belajar mengapresiasi terhadap diri sendiri. Jika kita sudah terbiasa berlatih mengapresiasi mulai dengan diri sendiri akan sangat mudah juga mengapresiasi orang lain.

Kita mengapresiasi tubuh kita dengan mengenalinya, aware dengan hal-hal vital yang harus kita jaga agar tetap sehat dan tetap hidup! Makan berlebihan misalnya, itu bukan bentuk apresiatif terhadap tubuh kita. Bukan hal yang aneh, dan terjadi dimana-mana bahwa kita berjuang setengah mati, struggling, untuk menghargai diri sendiri. Silahkan dipikirkan baik-baik, yang saya katakan benar bukan? Kenapa begitu? karena kita cenderung terlalu mengkritik diri sendiri! Jaman sekarang orang cenderung mengutamakan penampilan. Lihat saja berapa persen iklan di TV yang terus menerus memborbardir kita dengan produk yang berusaha "memperbaiki" penampilan. Perusahaan-perusahaan itu sungguh-sungguh memanfaatkan kecenderungan kita untuk mengkritik diri sendiri secara habis-habisan, membabi buta.

Serius, bagaimanapun penampilan kita, itu bukan hal yang paling utama. Memang penting kita memiliki penampilan yang baik karena banyak alasan, seperti kepercayaan diri dan sebagainya. Tapi mengapresiasi tubuh kita sendiri jauh lebih penting. Kita harus dapat berterima kasih bahwa tubuh kita membuat kita tetap hidup, tubuh kita mampu bertahan dalam menghadapi banyak peristiwa hidup yang sangat menantang, bahwa tubuh kita mampu melakukan banyak hal yang luar biasa setiap harinya. Tubuh kita itu unik, hanya kita masing-masing yang memilikinya, tiada duanya! Tubuh memubutuhkan energy dan nutrisi untuk dapat bertahan. Ini kesempatan kita untuk mengapresiasi dengan menyediakan kebutuhan tubuh! Tubuh kita berubah dari waktu ke waktu, saya semakin berumur dan mulai banyak hal yang membutuhkan perawatan ekstra, kalau butuh steroid, ya saya harus berikan untuk menjaga agar tidak semakin memburuk. Itu juga bentuk apresiasi. Yang terpenting adalah We are beautiful just the way we are!

Nah, menurut saya, jika kita sudah mampu mengapresiasi diri sendiri, akan jauh lebih mudah mengapresiasi orang lain. Kita akan lebih mudah memberi karena kita sudah berlimpah, tidak lagi hanya menerima! Mudah-mudahan saya tidak salah!***

Foto: dorseyrossministries.com