AES97 Gerbang Kisah
wulan bubuy
Sunday August 10 2025, 10:53 AM
AES97 Gerbang Kisah

Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu.

Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan di gapura indung rahayu? Coba cari deh maknanya, filosofis banget itu, bu’. Dengan terkekeh, aku mengakhiri telepon dan langsung mencaritahu gapura yang berdiri menghiasi kabupaten Purwakarta.

Yuyurlyyy… Hahaha! Aku baru tahu filosofi dan sejarahnya. Gapura Indung Karahayuan sendiri ternyata mengisyaratkan simbol keterbukaan dan memberi maaf. Konon, juga sebagai wujud pemuliaan terhadap seorang perempuan (Ibu). Hal ini diambil dari filosofi kesundaan, Indung tunggul rahayu yang artinya Ibu adalah akar kemuliaan hidup. Indung artinya Ibu dan karahayuan artinya keselamatan, kemuliaan dan ketenangan hidup. Maka, gapura tersebut mengisyaratkan makna bahwa seseorang akan mendapat kemuliaan hidup jika ia telah memperoleh pengampunan dari Ibunya. (Sumber dari sini)

Jika kita melaju dari arah sebaliknya, pada Gapura itu akan terlihat tulisan, ‘Bral geura miang anaking’. Gak kalah menariknya, bagiku. Kalimat ini mengingatkan aku pada prosesi pelepasan K9 di waktu lalu yang (baru) memunculkan tanya, ‘Kenapa smipa memilih menggunakan kata pelepasan, alih-alih perpisahan?’ Kemudian terjawab ketika mendengar kata-kata yang disampaikan dengan sangat indah oleh Kak Ome. Intinya hari itu kakak-kakak melepas anak-anak untuk tujuan yang lebih besar, untuk langkah yang lebih panjang dan untuk mimpi yang lebih luas diiringi dengan doa dan harapan.

Mungkin, mungkin saja kata pelepasan atau perpisahan gak serumit yang aku pikir. Namun, ini jadi momen ajaib, ketika aku mengingat bagaimana reaksi anakku saat membaca “Bral geura miang anaking”. Bagaimana tidak, kalimat itu dalam bahasa Indonesia berarti, ‘Pergilah, wahai anakku!’. Aku yakin, jika hal ini diucapkan oleh seorang Ibu, tentu akan teriring dengan restu yang didalamnya terkandung doa baik, yang mana doa seorang ibu bernilai mustajab. Maka, tidak ada hal yang lebih perlu dikejar, melainkan restu (ridho)nya para ibu. Dengan sebab inilah akan turun keselamatan, akan turun keberkahan, akan turun kemuliaan seperti yang tertuang dalam filosofi kesundaan itu.

Dan setelah dua puluh lima hari, tatkala menyadari kosongnya ruang yang terbiasa aku melihat anakku berada disana, kembali aku belajar mengenal arti ikhlas. Bukan hanya sebatas menerima segalanya dengan lapang dada, tetapi memurnikan niat semata-mata dengan tujuan ibadah. Sehingga, tatkala hati memberat, dengan meluruskan niat setidaknya hati itu akan kembali menemukan tujuannya dan merasa lapang dengan segala ketetapanNya. Kurasa, ini juga sebagai bentuk indah dari proses melepas; kita percaya akan ada sesuatu yang baik menanti (setelahnya). Insyaa Allah.

Lei
@lei   5 months ago
aamiin Insya Allah.. ah bacanya mani merinding2. makasi Buy udh nulis ini, indah!
wulan bubuy
@wulan-bubuy   5 months ago
Makasih Lei udah mampir 🙏
You May Also Like