SDG atau Sustanaible Development Goals ini adalah target sosial dan global untuk tahun 2030. Ada 17 poin di dalam target ini, beberapa poin yang penting menurut aku adalah kesetaraan gender, konsumsi produksi yang bertanggung jawab, dan kemitraan untuk mencapai tujuan. Poin-poin merupakan poin yang paling sering aku temui di keseharian.
Kesetaraan gender ini juga cukup penting. Kesetaraan ini adalah untuk laki-laki dan perempuan. Karena masing sangat sering aku rasa tanpa kita sadari kita melakukan ‘gender bias’. Hal ini merupakan salah satu contoh diskriminasi kecil. Karena sex dan gender itu berbeda. Gender adalah sifat atau hal-hal yang dibuat norma masyarakat untuk membaginya menjadi dua. Apalagi dengan istilah ‘boti’ atau cowok yang suka make up atau menggunakan rok. Padahal dia tetaplah laki-laki dan kesukaan itu tidak mengubahnya. Atau istri yang bekerja dan suami rumah tangga.
Norma-norma inilah yang membatasi kita dalam berekspresi. Karena sudah ada kotak yang dibuat untuk membedakan yang mana perempuan dan yang mana laki-laki. Padahal yang membedakan keduanya adalah alat kelamin mereka. Contoh lainnya adalah laki-laki tidak boleh memiliki rambut panjang di sekolah, perempuan di rumah saja, dan lainnya. Hal inilah yang menghambat kita menjadi masyarakat yang seutuhnya.
Kita ambil dari poin yang kedua. Seringkali kita luput dalam hal ini. Contoh mudahnya adalah overconsumption, makanan yang terbuang, dan mass production. Produksi berlebihan secara besar-besaran untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Hasilnya jika nilai produksi dan konsumsi (supply-demand) tidak sesuai, maka akan banyak produk yang terbuang sia-sia. Tapi di sisi lain juga, dengan harga barang semakin murah, contohnya Temu, Shein, dan AliExpress. Hal ini membuat konsumen membeli lebih banyak dari yang mereka sebenarnya butuhkan.
Karena barang-barang ini dijual dengan harga yang murah, kualitasnya menurun. Sehingga ketika beli masa pakainya hanya sebentar. Maka kita akan membelinya lagi. Hal ini akan menjadi lingkaran yang terus berlanjut. Berbeda dengan produk terdahulu, meskipun harga cukup mahal, kualitasnya juga sesuai dan biasanya terbuat dari bahan yang lebih ramah lingkungan.
Kalau mengenai makanan yang terbuang, ini juga sama. Apalagi saat ‘ala carte’ di acara-acara. Atau ketika sarapan di hotel. Aku mengamati banyak orang masih mengambil makanan tidak sesuai dengan porsi mereka. Padahal ini adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Untuk aku, aku mengambil makanan sedikit dulu lalu jika memang ingin nambah, barulah mengambil lagi. Hal ini menunjukkan banyak orang masih belum bisa mengukur keperluan perut sendiri. Dampaknya banyak makanan ‘sisa’ yang berakhir di TPA.
Di dalam poin ketiga, adalah komunitas atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Dari pengamatanku, kita sebagai masyarakat bisa sekali mewujudkan hal ini. Menciptakan komunitas bagi semua orang untuk bersama membangun dunia yang lebih baik. Karena dengan massa kita bisa mengubah peraturan dan mempengaruhi mereka yang berkuasa.
Simpulannya, is a long way to go. Tapi, aku yakin kita akan bisa mewujudkannnya jika bekerja bersama!