Apa yang dipaparkan oleh Dr Muhammad Faisal di POT hari Sabtu tanggal 1 November kemarin sangat menarik karena memperlihatkan lanskap generasi-generasi yang membentuk wajah sebuah bangsa. Ia mengatakan bahwa dalam teori generasi untuk memahami sebuah generasi kita perlu untuk memahami arketipenya, yakni bawah sadar sebuah generasi yang dipengaruhi oleh momen kritis dalam sosial ekonomi dan politik. Jadi seharusnya kita tidak menerima mentah-mentah kategorisasi generasi yang berkembang di barat, karena kita memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda. Label generasi yang berkembang saat ini juga tak lepas dari stereotyping, cara berpikir yang seolah mereduksi kompleksitas manusia jadi pola sempit.
Label pembagian generasi yang lahir dari konteks barat seperti Baby Boomer, Gen X, Gen Y/Milenial, Gen Z dst erat kaitannya dengan ekonomi industri, individualisme, kapitalisme, dan modernitas sekuler. Namun sebelum Barat menjadi seperti yang kita kenal sekarang (rasional, ilmiah, individualistik), mereka pun pernah hidup sangat dekat dengan nilai-nilai sakral. Lalu kemudian terjadilah pemisahan sejak Renaissance dan Age of Enlightenment di mana akal dan ilmu pengetahuan dijadikan sebagai jalan utama memahami kebenaran. Modernitas yang kita kenal (sains, kapitalisme, industrialisasi, demokrasi liberal) semuanya berakar dari sini. Memang ia membawa kemajuan besar dalam bidang kesehatan, teknologi, dan hak asasi, tapi sekaligus juga meninggalkan jejak kelelahan eksistensial seperti keterasingan, materialisme, krisis makna.
Di sisi lain, Indonesia lahir dari pengalaman yang berbeda. Di masa lampau bangsa nusantara tumbuh dalam tradisi spiritual yang tinggi, sebelum masuknya kolonialisme yang pelan-pelan menggeser orientasi kesadaran bangsa nusantara dari akar kehidupannya sendiri. Dahulu, nenek moyang kita belajar menanam juga berlayar di lautan luas dengan melihat bintang, belajar menyembuhkan dengan ramuan herba dan rimpang tradisional. Mereka hidup dalam tatanan yang holistik, di mana manusia, alam, dan kesadaran ilahi tak terpisah. Lalu kemudian datanglah modernitas: dengan sekolah, sains, dan sistem. Relasi manusia dengan alam dan yang ilahi dianggap sebatas animisme dan dinamisme, dan ini dijadikan doktrin turun temurun. Banyak yang bermanfaat dari masuknya modernitas, tapi pelan-pelan pengetahuan tercerabut dari kebijaksanaan. Yang tersisa dari kealamian ini masih bisa kita temui di kampung adat Baduy Dalam yang masih konsisten menjaga nilai-nilai tradisinya.
Masa penjajahan yang cukup panjang menumbuhkan semangat juang dan kebersamaan untuk merdeka dan berdikari. Lahirnya falsafah Pancasila yang dibidani oleh para founding fathers bangsa kita bukan hanya rumusan politik kenegaraan, tapi merupakan upaya kesadaran kolektif bangsa untuk mengingat kembali nilai keseimbangan lama dalam bahasa yang bisa diterima modernitas.
Namun ketika kita menatap ke masa kini, pertanyaannya muncul dengan sendirinya: seberapa jauh kita masih hidup dari napas Pancasila sebagai falsafah bangsa? Apalagi di zaman yang semakin tanpa batas, arus nilai dan pengaruh datang dari segala arah. Bukan salah arusnya, karena itu sudah keniscayaan, tapi jika kita tidak berakar dalam kesadaran diri dan budaya, kita akan mudah hanyut tanpa tahu lagi arah pulang. Inilah yang kutangkap dari gagasan mas Faisal tentang kembali ke akar.
Menariknya, meskipun dunia Barat sangat maju dan terdepan dengan modernitasnya, tapi dewasa ini banyak dari mereka yang mulai menoleh ke Timur: ke zen, yoga, sufisme, meditasi, kebijaksanaan leluhur. Ini karena mereka pelan-pelan merasakan kehampaan di balik semua pencapaian. Ada sesuatu yang sebenarnya diam-diam mereka rindukan. Dalam perjalanan batinku, aku juga juga banyak belajar dari apa yang dipaparkan oleh Bruce Lipton, Gregg Braden, Joe Dispenza, sementara mereka juga banyak belajar dari kebijaksanaan Timur namun diolah kembali dengan pendekatan sains sehingga bisa dipahami oleh pikiran manusia modern yang telah terbiasa berpikir rasional dan empiris. Dari semua pengalaman kolektifnya, sebenarnya yang mereka cari bukan sesuatu di luar, tetapi akar kesadaran itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang sifatnya universal, bukan hanya dirasakan oleh Barat atau Timur, melainkan oleh setiap jiwa yang mulai lelah berlari dari dirinya sendiri.
Coba kita cermati Cina. Ia memperlihatkan paradoks besar dari kemajuan. Cina adalah peradaban tua yang dahulu berakar dalam kebijaksanaan. Ada Taoisme yang menekankan harmoni dengan alam, ada ilmu pengobatan TCM yang menyatu dengan ritme semesta. Namun saat ini Cina berlari melaju di jalur modernitas yang sama cepatnya dengan barat. Head to head. Dari permukaan nampak sebagai keberhasilan luar biasa. Dan mereka memupuk itu dengan sangat ketat pada anak-anak mereka. Lihatlah bagaimana sistem pendidikan yang kaku dan penuh ketegangan, memaksa anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu dan masa mudanya untuk belajar dengan keras, bahkan sampai mengabaikan istirahat dan kesehatannya. Ada video yang memperlihatkan bagaimana siswa-siswa di Cina harus terus belajar jelang ujian sambil infus menempel di lengan mereka. Jika tak melakukan itu, masa depan mereka dipastikan suram. Anak-anak itu seperti ditarik masuk dalam sistem yang menilai hidup dari hasil, dari nilai ujian, dari prestasi, dari kompetisi. Padahal, akar Tiongkok kuno berbicara sebaliknya: wu wei. Tindakan tanpa paksaan, hidup dalam arus alami Dao.
Sepertinya beginilah wajah dunia sekarang: timur meniru barat untuk merasa “maju”, sementara barat menoleh ke timur untuk merasa “utuh”. Di kedalaman, mereka sama-sama mencari hal yang sama: akar kesadaran yang diam, yang telah ada sebelum semua konsep kemajuan itu lahir. Ketika kita melihat dari sudut pandang kesadaran, tak ada lagi timur dan barat. Tak perlu lagi meniru siapapun karena dari akar kesadaran yang kuat, akan menumbuhkan nilai, yang lalu menjelma menjadi cara hidup dan sistem sosial yang ajeg dan hadir penuh sesuai jati diri dan blueprintnya. Bangsa yang hidup dari kesadaran akan membangun dari kedalaman, bukan dari ambisi, akan berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan diri.
Aku jadi teringat salah satu obrolan di Ngopi AES#2 di Morning Glory minggu lalu. Tentang bagaimana Indonesia yang sangat beragam tidak pernah jatuh dalam konflik horizontal yang terlalu parah. Mungkin salah satu sebabnya adalah bahwa bangsa ini mewarisi DNA spiritual yang masih kuat dan kelak akan bangkit kembali. Meskipun saat ini situasi di negri ini masih jauh dari ideal, tapi ada inner knowing yang mengatakan bahwa kelak negara ini akan muncul sebagai salah satu yang terdepan, bukan karena pencapaian ekonominya semata, namun dari kesadaran kolektifnya yang sekarang mulai bangkit pelan-pelan, di bawah radar. Jika akar kesadaran spiritual ini kembali tersadari, maka segala sistem di atasnya (ekonomi, teknologi, pendidikan, politik) akan tumbuh dari tempat yang benar, dari rasa ingin memberi manfaat bagi kehidupan. Bukan sekedar ingin merasa lebih dari bangsa lainnya. Tak perlu menunggu aksi dari pemerintah. Tak perlu sibuk menyalahkan yang di luar. Perubahan besar ini justru dimulainya dari rakyat, dari individu. Ketika mulai banyak individu yang hidup dari akar kesadaran ini, maka akar sosial bangsa pun akan menguat. Karena bangsa (termasuk pemerintah di dalamnya) sesungguhnya hanyalah kumpulan jiwa-jiwa yang sama-sama sedang berproses menemukan dirinya. Dan kesadaran itu “menular”. Apakah kamu sudah mulai merasakan getaran itu?
Bangsa ini mungkin sedang membangun akar yang kokoh sebelum akhirnya bisa terlihat muncul ke permukaan. Seperti akar bambu, di mana dalam 5-6 tahun pertamanya tidak terlihat pertumbuhan yang berarti ketika pohon-pohon seusianya sudah mulai tumbuh besar. Namun yang terjadi pada bambu adalah ia fokus menumbuhkan akar yang kuat menghujam, dan setelah itu barulah ia tumbuh cepat ke atas. Ketika diterpa angin kencang, pohon bambu meliuk dengan lentur terlihat seperti hendak menumbangkannya, namun ternyata ia tetap kokoh. Tak semua yang menjulang tinggi benar-benar kuat. Akar bambu memberi pelajaran bahwa yang tampak sederhana di luar bisa memiliki kedalaman dan keteguhan yang luar biasa. Mudah-mudahan memang seperti itu ya perjalanan bangsa ini kelak.❤️