Hari ini berjalan seperti hari-hari lainnya, tidak ada hal yang spesial selain aku yang datang dengan mata panda karena tidur lumayan larut tadi malam.
Kelas berjalan semestinya. Siang hari selepas menutup kelas aku bergegas mencari keran air, hendak wudhu demi menunaikan sholat dzuhur. Karena masih ada beberapa anak di beskem, aku memutuskan shalat mendekat ke pintu. Shalat with the view~
Entah di rakaat berapa, tiba-tiba mataku membelalak melihat kuningnya pohon Tabebuya. Aku selalu terkesima dengan warna kuning, warna cerah yang melambangkan optimisme. Aku berbegas keluar dan mengabadikan Pohon Tabebuya yang sedang mekar itu dengan telepon genggamku.
Tahu apa yang terlintas dipikiranku ketika melihat kuningnya bungan Tabebuya?
Sejak kapan pohon ini berwarna kuning begitu cerah?
Jawabannya tentu bukan baru hari ini, mungkin sudah beberapa hari atau bahkan minggu karena ia butuh waktu untuk merekah.
Lalu, kenapa aku baru menyadarinya hari ini?
Padahal setiap aku pasti melewati pohon ini, bahkan kemarin aku sempat berlama-lama di pendopo tapi tak ku lihat kuningnya Tabebuya.
Mungkin ini bukti sebuah pernyataan “kemewahan adalah hal yang jarang kita dapatkan”, karena saat sudah terbiasa, barang semahal apapun, seindah apapun menjadi tidak mewah lagi. Itulah perlakuanku pada pohon Tabebuya ini, terlalu terbiasa bertemu hingga lupa sejenak melihat dan merasakan kemewahannya.
Kembali aku diingatkan, bahwa hal-hal di sekitar kita yang mungkin terasa biasa bisa menjadi sangat mewah saat kau mengambil jarak dan berjeda sejenak dengannya. Karena hal-hal baik di sekitar kita terkadang hanya butuh perhatian kita.
Mari membiasakan untuk me-mewahkan hal-hal biasa di sekitar kita, agar kita bisa lebih sering bertemu dengan kata cukup dari pada kurang.