Hari ini mendapatkan pesan WA dari seorang kakak Smipa yang telah selesai berproses di semester pertamanya di Semi Palar. Saya tidak akan menuliskan apa yang disampaikannya, tapi intinya, satu semester ini adalah penggalan waktu yang penuh keajaiban, karena dalam prosesnya ia merasa dibawa dan mendapat lebih banyak kesempatan mengenal lebih dalam berbagai sisi kediriannya.
Saya merasa senang, bahagia membacanya, bersyukur juga tentunya. Sejenak setelahnya, muncul pertanyaan lanjut, sebetulnya apa yang terjadi sebelumnya? Kenapa ya bagi kakak itu, proses di Semi Palar ini menjadi proses yang berbeda dibandingkan sebelumnya - mengingat dia juga mengajar, berprofesi sebagai guru di beberapa sekolah lainnya. Tentunya ini jadi pertanyaan menarik, dan menjadi bahan refleksi bagi saya.
Sepertinya kata kuncinya sudah disebut-sebut di atas ini. Refleksi. Proses reflektif ternyata sangat penting buat seseorang. Bercermin diri, dari berbagai sudut pandang supaya bisa mengenal diri seutuhnya. Lalu kenapa kita tidak terbiasa melakukannya? Bukan sekedar berkaca mematut-matut diri sebelum keluar rumah, tapi betul-betul merefleksikan segala aspek kedirian kita, pikiran, emosi, kesadaran kita.
Jadi saya kira tantangan terbesar buat kita semua, buat anak-anak kita saat ini adalah begitu banyaknya distraksi, hal-hal yang menarik di luar diri kita. Terutama berbagai hal yang hadir melalui sinyal-sinyal elektronik tampil di balik layar kaca gawai kita. Sepertinya hal-hal di luar itu begitu menarik, sangat mendistraksi sehingga perhatian kita terus tersedot ke luar sana. Padahal diri kita, kedirian manusia ada di sisi dalam. Dengan segala hal yang begitu menarik di luar sana, kita juga sangat terbiasa dengan riuhnya suasana di luar diri kita. Akibatnya manusia jadi takut terhadap keheningan. Manusia juga menghindar dari sepi. Padahal lewat keheningan-lah dia bisa mengenal diri seutuhnya. Saat bercermin di permukaan air, ketenangan lah yang bisa memunculkan bayangan diri kita sejelas-jelasnya. Kita tidak pernah bisa melihat refleksi diri kita di atas air bergerak-gerak, atau kita yang tidak bisa berdiam diri...
Dalam jaman yang bergerak semakin cepat, berubah tanpa henti, saatnya kita menyadari bahwa manusia perlu berdiam diri, dan duduk dalam hening agar tidak terasing dari dirinya sendiri, tetap terkoneksi dengan kesejatian dirinya. Menurut saya hal ini jadi jauh lebih penting dari hal-hal lain yang ada di luar sana. Seperti kata Sadhguru, menyadari hidup kita adalah tujuan hidup kita yang terutama. Hidup ada di dalam diri, apa yang ada di luar sana adalah pengalaman kehidupan. Kehidupan boleh terus berubah, tapi mengenal hidup yang jadi anugerah sang Pencipta, adalah yang terutama. Salam.
Photo by Maria Orlova from Pexels