Tulisan hari ini sekedar catatan pendek saja dari proses yang berjalan beberapa hari ini. Keseruan lima hari di Festival Literasi. Menarik mengamati proses di dua ruang lokakarya (workshop). Hmm, lebih asik sebetulnya disebut ruang eksplorasi ya, karena sebetulnya proses itulah yang kita lakukan, mengeksplorasi diri melalui bermandala maupun menulis.
Kembali ke topik, di luar dugaan, keseruan yang tidak diduga muncul di longpus di mana warga Semi Palar bisa mencoba bermandala. Sesuatu yang sebetulnya asing - tapi tidak terlalu sulit juga saat dicoba. Di hari pertama longpus masih sepi, hanya beberapa mencoba, di akhir hari ke tiga, menurut kak @matheusaribowo ada lebih dari 300 Mandala yang dihasilkan dan tertempel. Semua dengan keunikannya masing-masing
Membuat mandala - sama dengan menulis, sebetulnya sama-sama bentuk ekspresi literasi diri. Bermandala lebih bebas sepertinya karena 'hanya' butuh keberanian untuk menggoreskan garis atau memberikan warna pada pola lingkaran yang ada. Setelah beberapa saat, pola akan muncul dengan sendirinya sesuai apa yang ada di dalam pemikiran dan perasaan kita. Sejauh saya pahami juga, mandala adalah cerminan diri kita - yang terekspresikan secara visual. Berbeda dengan menulis.
Menulis memang punya tantangan lebih besar - dalam artian kita perlu menerjemahkan apa yang kita pikirkan, rasakan ke dalam rangkaian kata dan kalimat. Ini yang jadi tantangan. Walaupun ini wajar juga karena menulis - sejauh saya pahami adalah capaian tertinggi dari berbagai aktivitas literasi. Beberapa tulisan saya juga membahas soal ini.
Tapi ada hal yang menarik juga antara Mandala dan Menulis - karena di Festlit ini muncul beberapa tulisan AES yang bertemakan Mandala - termasuk beberapa tulisan perdana (Pecah Telor). Salah satunya adalah tulisan @ranicaesara dan @mama-meru . Oh iya @joefelus juga menulis pengalamannya tentang membuat Mandalanya yang pertama. Lalu kaitannya di mana? Tentunya karena keduanya, baik menulis maupun bermandala adalah perangkat literasi diri yang bisa membantu kita mengekspresikan diri dan kemudian juga merefleksikan diri. Semoga catatan kecil ini jadi sekedar penanda jejak untuk perjalanan eksplorasi literasi di Rumah Belajar Semi Palar. Sesuatu yang sudah bisa kita rayakan dengan begitu suka ria. Sampai jumpa esok hari, penutup Festival Literasi Semi Palar 2025.