Kerja pikiran manusia cenderung atau jangan-jangan selalu membandingkan dan memberikan penilaian. Ya itulah kerja pikiran. Kata salah satu pakar, kalau tidak salah Gregg Braden, itu adalah karena otak adalah organ yang bekerja berpasangan, belahan otak kiri dan kanan. Ada dua sisi. Katanya ini memengaruhi bagaimana kerja pikiran hampir selalu melabeli segala sesuatu apakah itu baik atau buruk, memberikan penilaian suka atau tidak suka dan seterusnya.
Itu adalah kerja pikiran, thinking. Nah katanya pula thinking adalah bagian dari laku manusia, termasuk dalam ranah do atau doing. Sedangkan ranah eksistensi berada di dalam ranah be atau being. Contoh sederhananya, manusia bisa sesederhana menjadi bahagia - kalau dia mau dan bisa mengendalikan emosinya. Menjadi bahagia bisa tanpa syarat, tanpa berpikir, tanpa melakukan sesuatu. Saat manusia baru bisa menjadi bahagia setelah melakukan sesuatu, memiliki sesuatu atau situasi yang diharapkan sesuai yang dipikirkannya, berarti manusia masih berada di ranah doing.
Inilah yang jadi tantangan terbesar manusia, bagaimana berada di ranah being - karena manusialah satu-satunya makhluk yang diberi anugerah kesadaran, karenanya disebut sebagai human being. Human being ya bukan human doing.
Hal kedua yang ingin saya soroti adalah apa yang banyak dibahas oleh para pakar juga bagaimana ranah doing - termasuk di dalamnya berpikir adalah mengenai survival. Otak manusia yang berhubungan langsung dengan ke lima indera manusia bekerja terutama untuk bertahan hidup.
Kembali ke judul di atas, salah satu latihan yang bisa dilakukan untuk beralih dari ranah being ke ranah doing adalah dengan cara memandang segala sesuatu secara netral. Melepaskan judgment atau penilaian pikiran kita. Menyadari bahwa everything happens for a reason - segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan - juga sangat membantu. Menemukan hikmah dari segala situasi yang terjadi. Saya pikir - hal inilah yang baik kita lakukan. Sederhananya ini semacam doing yang sangat dekat dengan ranah being - karena melakukan sesuatu, berpikir untuk tidak memberikan penilaian apapun.
Kalau diamati, buku-buku atau kisah-kisah yang spiritual banyak mengajarkan hal ini. Buat teman-teman yang cenderung overthinking atau olah pikirnya sangat kuat, mestinya latihan ini akan membantu.
Menjadi netral, menempatkan diri di tengah-tengah, tidak terlalu ke kiri atau ke kanan dalam perspektif lainnya adalah tentang keseimbangan. Saat kita terlalu ekstrim berada di suatu posisi, tentunya akan sulit juga berpindah ke tengah. Seperti saat seorang mengemudikan kendaraan terlalu cepat - kemungkinan celaka tentunya lebih besar, karena terlalu tadi. Saat seseorang punya pemikiran atau pemahaman yang terlalu ekstrim, dia akan sulit juga melihat sudut pandang lainnya.
Ya begitulah. Demikian menariknya dinamika kehidupan, menariknya manusia. Salam.
Photo by James Collington: https://www.pexels.com/photo/geometric-black-and-white-tile-pattern-30495183/