Memaknai ulang frasa Menemukan Bintangku. Bukan hanya di tataran permukaan tapi di lapisannya yang lebih dalam. Proses inilah yang sedang sangat terasa berjalan di Semi Palar. Sebuah Rumah Belajar yang memasuki tahun perjalanannya yang ke 21.
Selametan TP21 mengangkat tema ''Menemukan Bintangku". Frasa yang lahir sejak awal logo Semi Palar lahir, mensimbolisasikan dua anak, laki-laki dan perempuan yang meraih bintang mereka masing-masing. Frasa yang sudah hidup sejak awal Semi Palar didirikan. Frasa yang sepertinya belum betul-betul dipahami seutuhnya. Kalau diterjemahkan sederhana sebagai penemuan diri, ada banyak pertanyaan yang lebih mendasar, lebih mendalam. Apa sesungguhnya Diri yang perlu ditemukan? Diri yang seperti apa? Diri yang bagaimana? Lalu bagaimana caranya menemukan diri?
Banyak sumber yang membicarakan soal ini menyebutkan tentang diri sejati. Dengan demikian, semestinya ada diri manusia yang semu, yang bukan diri sejati. Demikianlah seterusnya. Memahami hal-hal semacam ini jadi membawa kita mendalami maknanya, menggali lebih mendalam.
Di sisi lain, kami juga menemukan bahwa sisi kedirian yang terdalam ternyata juga terkait erat dengan dimensi kesemestaan - yang secara nalar kita pahami tidak berbatas... Ini adalah sebuah paradoks yang sekilas mengerikan. Di tataran ini kita berhadapan dengan sesuatu yang kedalamannya tidak terpahami dan di sisi lain juga keluasannya tidak terbatas.
Bagaimanapun ini adalah proses perjalanan belajar - dalam konteks mendalami Pembelajaran Holistik. Yang bukan hanya utuh, tapi juga sekaligus sakral (holly). Perlu kerendahan hati, juga perlu kesungguhan menjalaninya. Perjalanan 20 tahun Rumah Belajar Semi Palar ternyata mengantar kita semua ke titik ini. Ke titik di mana kita masih berhadapan dengan tak terhitungnya tanda tanya. Saya kira, ini pertanda bahwa kita berada di jalan yang benar, karena manusia adalah makhluk yang memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling mulia. Dan semestinya tidak mudah memahami hal ini seutuhnya, sepenuh-penuhnya. Salam.