Seperti yang dikatakan Aki Muhidin, Nyaho Can Tangtu Ngarti, Ngarti Can Tangtu Bisa dan seterusnya. Saya ingin mengaitkan empat kalimat Aki Muhidin ini terhadap tantangan besar yang kita hadapi untuk membangun Kesadaran (Awareness).
Kalau ditanya, kita pasti bersepakat kesadaran itu penting. Kalau kita sadar, berarti kita yang memegang kendali. Orang yang tidak sadar (ga ngeh) pasti tingkah lakunya ngaco. Kalau orang ga sadar bahwa sampah itu penyebab sungai tercemar dan mengakibatkan banjir, orang-orang pasti tidak buang sampah sembarangan. Kalau pengusaha sadar bahwa pohon itu sumber Oksigen dan paru-paru bumi, pasti pengusaha berpikir untuk mengelola penebangan pohon dan menanam ulang pohon-pohon yang jadi bahan baku berbagai kebutuhan manusia. Kalau orang sadar bahwa parkir mobil di jalanan sempit akan mengganggu pengguna jalan lain, tentunya dia akan cari tempat parkir yang sesedikit mungkin mengganggu pengguna jalan lain. Mudah sekali mencari contoh-contohnya.
Kesadaran sendiri banyak sekali dimensinya. Kesadaran jasmani salah satunya. Kalau kesadaran jasmani (badaniah) kita baik, tentunya badan kita akan terjaga kesehatan dan kebugarannya. Menyadari posisi dan sikap badan kita adalah bagian dari kesadaran jasmani. Banyak orang yang sikap badannya tidak baik dan akhirnya muncul berbagai penyakit karenanya. Orang yang sadar tentang pola makannya dan mengenal kelemahan dan kekuatan badannya, dia juga akan jadi lebih sehat karena kesadaran jasmaninya yang baik. Begitu seterusnya.
Belakangan beberapa teman banyak menulis tentang iklim - setidaknya sejak bulan Desember lalu. @joefelus dan @ahkam juga menulis beberapa isu tentang perubahan iklim. Saya sendiri sejak awal Smipa berdiri berusaha mengajak warga Smipa untuk lebih peduli tentang lingkungan, tapi progresnya bisa dibilang lambat, sangat lambat. Sulit sekali membangun kesadaran itu, sementara kerusakan lingkungan berlangsung begitu cepat. Kalau boleh dibilang, warga smipa, kakak-kakak, anak-anak dan orangtua sudah cukup ngarti (paham), sebagian sudah masuk tataran bisa, tapi kalau untuk sampai tuman dan ngajadi, masih jauh dari tercapai. Beberapa keluarga Smipa sudah sangat menyadari tentang hal ini, mereka sering jadi teman bicara saya dan saya lihat sangat peduli terhadap masalah lingkungan, soal sampah dan lain sebagainya.
Sehari-hari saya terus mengamati bagaimana teman-teman masih dengan cueknya buang sampah makanan ringan dan botol-botol minuman yang dibelinya waktu istirahat. Padahal air minum yang lebih sehat dan disediakan oleh sekolah. Tapi ga usah jauh-jauh, di rumah saya sendiri, yang paling sibuk pilah sampah ya saya sendiri, saya melakukannya sudah bertahun-tahun, tapi keluarga yang di rumah saya lihat masih cuek, padahal keluarga di rumah tahu juga apa yang terus diupayakan di Smipa. Bahkan Rico juga berproses di Semi Palar dari TK hingga di KPB, saya lihat belum sampai ke titik kesadaran untuk melakukan sesuatu untuk menjaga lingkungan secara konsisten. Pertanyaannya kenapa? Ini masih jadi pertanyaan besar buat saya - dan belum terjawab sampai sekarang. Jawaban sederhananya ya masih berhenti judul tulisan di atas ini, membangun kesadaran itu sangat sulit. Tulisan ini saya akhiri dulu di sini dan akan saya lanjutkan di esai berikutnya. Terima kasih.
Photo by Andrea Piacquadio: https://www.pexels.com/photo/thoughtful-man-using-smartphone-on-street-3800149/
Setuju! Saya bahkan barusan nulis bahwa tanpa kesadaran, intensi, niat kita gak akan tercapai
Maaf nih, waktu Joe baca, tulisan saya belum tuntas - karenanya belum saya munculkan di timeline.
Lanjutannya ada di sini ya.
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/4879/aes465-sulitnya-membangun-kesadaran-2