Mungkin kita semua pernah dengar apa yang disebut dengan Belajar lewat Pengalaman. Dalam istilah pendidikan ini disebut Experiential Learning. Kita juga mengenal berbagai pentuk pengalaman. Mulai dari ranah jasmaniah (fisikal), emosional bahkan pengalaman batin. Dalam konteks pendidikan holistik di mana kita kenal bahwa ada sisi luar dan sisi dalam diri manusia, ada inner dan outer dimensions, pertanyaan ini kemudian mendapat konteksnya yang lebih mendalam.
Di titik ini, pertanyaan yang mendasar yang kemudian muncul adalah di ranah pengalaman manakah pembelajaran yang sejati terjadi...
Sepertinya jawabannya bisa didapatkan dari kutipan yang belakangan ini sering kita angkat dan dalam proses untuk kita bisa pahami dan hayati sedalam-dalamnya.
Manusia adalah makhluk spiritual. Dalam konteks ini, tentunya kita bisa memahami bahwa pembelajaran yang sejati adalah saat kita semua (teman-teman di Smipa khususnya) mendapatkan pengalaman batin (pengalaman spiritual). Pengalaman batin inilah yang akan mengutuhkan manusia melalui pengalaman kehidupannya, mendapatkan kepingan-kepingan yang menjadikan keutuhan jiwanya.
Ini perlu dipahami seutuhnya bahwa pendidikan holistik berhasil mewujudkan proses pembelajarannya saat anak-anak - para pembelajar berhasil mendapatkan banyak pengalaman batin.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita memfasilitaskan hal ini di dalam proses pembelajaran sehari-hari. Bagaimana agar teman-teman di Smipa di sepanjang proses pembelajarannya bisa banyak menemukan kepingan pengalaman batinnya. Bisa jadi ini salah satu pertanyaan tersulit, tantangan terbesar karena ranah ini sangat abstrak dan tidak terukur, tidak bisa semata diolah pikiran, perlu kepekaan dan ya itu tadi, olah rasa yang baik.
Kepingan jawaban atas pertanyaan ini sebetulnya sudah sering jadi bahasan di berbagai ruang belajar di Semi Palar.
Photo by Kseniya Kopna from Pexels: https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-in-fabric-posing-in-studio-14933181/