Malam ini saya mau menulis tentang sesuatu yang keren terkait dengan Online Learning. Belajar online - apakah itu online courses atau online degrees tidak jadi masalah. Dulu sebelum pandemi, online courses masih jadi barang asing. Tapi memasuki pandemi semua orang belajar secara daring dalam satu bentuk atau lainnya. Sama halnya seperti homeschooling. Dulu praktik homeschooling dipandang sebelah mata, sekarang semua anak mengalami bagaimana belajar atau bersekolah di rumah.
Mungkin pas kalau saya merujuk dulu ke esai Rico yang ke tiga di AES ini, yang berjudul The Emergence of Online Learning. Apa yang saya ingin tuliskan di sini adalah dari amatan saya selepas proses Rico di KPB. Memilih untuk gap year, Rico mulai mencoba mengambil beberapa kursus online. Setelah beberapa waktu, dia berhasil menuntaskan satu, dua kursus. Sampai di satu periode dia sempat mengerjakan tiga kursus sekaligus. Yang saya amati kemudian, Rico punya satu daftar tentang judul-judul courses yang ingin dia ambil. Rico memilih ini berdasarkan apa yang diminatinya. Mengamati daftar yang dibuatnya, saya menemukan kesimpulan luar biasa bahwa tanpa disadari, Rico telah menyusun dan merancang kurikulum belajarnya sendiri. Ini dilakukannya atas dasar minat dan kebutuhan dia - untuk memperdalam apa yang menjadi minatnya. Keren banget ya.
Perbandingannya begini. Kalau dulu kita kuliah - misalnya saya dulu kuliah di Unpar, begitu daftar, kita harus - mau tidak mau, suka tidak suka mengikuti seluruh mata kuliah (menu belajar) yang sudah disiapkan oleh tim pengajar di sana. Tanpa ada kecuali, semua mata kuliah yang jadi materi setiap semester harus kita tuntaskan - dan kita harus lulus dengan nilai memadai.
Apa yang dialami Rico sangat berbeda. Dia bisa memilih mata kuliah yang dia sukai dan dia minati - sesuai dengan apa yang ingin didalaminya. Lebih keren lagi, dia bisa memilih dari pengajar-pengajar terhebat di seluruh dunia - sejauh kursus online yang menyediakannya. Jadi seseorang bisa memilih untuk belajar mata kuliah A dari University of Pensylvania, misalnya kemudian mengambil topik B di University of Edinburg. Topik C bisa diambil dari Harvard dan seterusnya. Peserta Online Course bahkan bisa memilih untuk belajar dari dosen yang disukai - yang mengajarnya cocok dengan dia. Kalau ga asik ngajarnya, ditinggal aja, ga ada masalah. Kita bisa mencari topik yang sama yang ditawarkan oleh universitas berbeda dan dihantarkan oleh profesor atau dosen lainnya. Di berbagai platfform Onliine Course, silabus pembelajaran, profil pengajar (para dosen dan profesornya), bentuk-bentuk asesmen yang akan dihadapi sudah disiapkan dengan jelas dan bisa dipelajari lebih dulu.
Mungkin banyak yang belum tahu juga bahwa kebanyakan Online Courses, kuliahnya tidak ditarik bayaran alias gratis. Yang kita harus bayar adalah sertifikatnya. Jadi ilmunya gratis. Kalau mau belajar ya bisa. Kita tinggal cari dan pilih yang kita suka. Hal-hal ini adalah salah satu perkembangan di dunia pendidikan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tapi kembali ke judul di atas, merancang kurikulum pembelajaran sendiri sesuai minat dan kebutuhan kita, bagi saya ini yang paling hebat. Semoga esai pendek ini bermanfaat.
Photo by Julia M Cameron from Pexels