Iya sih, banyak yang ketuker antara pikiran dengan pemikiran. Seperti ketuker antara acuh dengan cuek. Seperti ketuker antara absensi dengan presensi. Bahasa kerennya salah kaprah. Karena udah biasa salah, jadi wajar. Bukan berarti benar. Wajar aja. Seperti celetukan becanda yang kalaupun tidak benar, wajar mengingat kepribadiannya. Jadi inget bait terakhir lagu Garuda Pancasila. Yang versi aseli, bukan versi WS. Rendra pas lagi aksi protes di tahun 2007 dulu.
Pikiran adalah ruang, pemikiran adalah isinya. Pikiran itu seluas kemampuan olah badan, karakter hasil bentukan bertahun-tahun ke belakang, kesehatan dan kebugaran badan, pengendalian emosi terutama amarah dan kreativitas. Pemikiran itu sebanyak pengulangan pengalaman yang dimodifikasi bacaan-bacaan dan kata-kata orang yang berpapasan selama perjalanan kehidupan. Menjalani kehidupan, mau itu me-lalui-nya (hidup yang hidup) atau itu me-lewati-nya (hidup yang tidak hidup).
Pemikiran tidak akan terbatas, walau intinya itu-itu saja. Karena pemikiran hanya pengulangan dan modifikasi, repetisi dan permutasi. There’s nothing new under the sun. Maksudnya, pemikiran tidak akan jauh dari kebiasaan. Bahkan pemikiran itu hanyalah hasil dari kebiasaan. Kebiasaan sehari-hari, yang diulang bertahun-tahun. Disadari atau tidak disadari.
Pikiran lah yang terbatas, batasannya adalah badan. Sebugar apa badan, semampu apa badan, sejauh apa badan, mampu dipergunakan. Eksplorasi, bukan eksploitasi. Semakin fleksibel badan, semakin fleksibel pikiran. Semakin kuat badan, semakin kuat pikiran. Semakin tangguh badan, semakin tangguh pikiran. Sehat badan, sehat pikiran.
Makanya, yang pikirannya fleksibel yang pemikirannya terbuka dan mau mendengarkan. Yang pikirannya kuat yang pemikirannya kokoh di dasar dan kreatif di permukaan. Yang pikirannya tangguh yang pemikirannya selalu berkembang menyesuaikan lingkungan. Yang pikirannya sehat yang pemikirannya menyehatkan dan menyegarkan orang lain di sekitarnya.
Tidak pernah ada kemauan, hanya ada kemampuan. Dan kemampuan pertama adalah mampu untuk mau. Kalau badan mampu untuk melompat tinggi, maka pikiran sudah membuat ruang potensi untuk melompat lebih tinggi. Sehingga pemikiran soal mau terbang jadi terasa menginspirasi dan menjadi dasar inovasi. Kalau tidak demikian, rasanya jadi seperti teh panas yang diseduh pakai garam. Lalu menilai teh asin panas itu enak karena figur publik ternama bilang itu enak, dan memaksa orang di sebelahnya untuk merasa enak meminum teh asin panas itu. Lha, koq.
Memang sih perlu resiprokal, maksudnya kualitas pikiran antara dua atau lebih orang yang membahas suatu pemikiran perlu setara. Tidak mesti sama, setara saja. Kualitas pikiran ya, bukan kualitas pemikiran. Karena wadah lebih penting daripada isi. Membahas pemikiran satu liter air, jelas kan membosankan bagi yang pikirannya seluas galon. Sedangkan yang pikirannya seluas gelas air kemasan jadi pencerahan sampe tumpah-tumpah. Bisa jadi pemujaan, karena biasanya yang tidak mampu mengolah jadinya mengidolakan.